Secuil Kisah Bersama Dua Pejuang Dirgantara Indonesia

Yang saya ingat, beberapa hari setelah tragedi Sukhoi Superjet 100, saya menerima email dari seorang abang yang isinya ID dan password administrator web dengan alamat: http://kornelsihombing.org.

Berat memang, di tengah kesedihan yang mendalam saat itu, saya mesti memposting semua hal terkait Alm. Kornel M. Sihombing yang biasa dipanggil Bang Onye. Tak jarang, air mata menetes kala menerima kiriman tulisan dari keluarga, sahabat, juga adik-adik Bang Onye, lalu mengedit dan memasukkannya ke web. Saya melakukannya sampai beberapa bulan setelah beliau dimakamkan.

cover-Indonesia-Mengantarmu-Pulang

Setelah itu, seperti biasa, saya sibuk mengurusi pekerjaan dan blog pribadi. Suatu kali, saya menerima sms, kebetulan telepon genggam saya yang lama sudah rusak, jadi menggunakan yang baru, dan belum semua kontak tersimpan di HP yang baru. Isi sms itu, “Basar, bisa buatkan saya website inspiratif seperti punya Onyek?” Saya pun bingung, “Ini siapa yang sms ya?”

Penasaran, saya sms balik, “Maaf, ini siapa ya?” Tak lama sms balasan saya terima, “Hotasi Nababan.” Seketika hati saya bergetar. “Ya ampun, ini kan abang yang pernah dikenalkan Bang Onye samaku dulu. Dia kan sahabatnya Bang Onye yang mantan Dirut Merpati itu. Nggak salah minta bantuan sama awak? Dia kan lagi kena kasus!” Di tengah rasa senang bercampur takut, tanpa pikir panjang saya membalas, “Bisa bang!”

Setelah saya membalas sms Bang Hotasi, saya pun menelepon seorang abang, meminta bantuannya untuk memesankan domain dan setting hosting web untuk Bang Hotasi. Dan tak lupa saya meminta usulan konsep web dari seorang teman yang dulunya juga berperan besar membuat konsep web Bang Onye.

Singkatnya, web pun kami desain semampunya. Bersyukur ada pula teman-teman lain yang ikut membuatkan banner dan usulan-usulan fitur yang mempercantik website Bang Hotasi. Akhirnya jadilah www.berharapkeadilan.com.

Celakanya, saya semakin sadar, “Bang Hotasi kan lagi kena dugaan kasus korupsi penyewaan pesawat Merpati. Waduh bisa bahaya ini kalau sampai aku kena dampaknya..” Rasa takut semakin menggoda, dan beberapa teman yang saya minta menulis tentang Hotasi Nababan pun urung mengirimkan tulisan karena sedikit kuatir akan menerima efek yang kurang baik.

Kita sama-sama tahu, era ini, masyarakat sedang dalam keakutan membenci koruptor. Bagaimana kalau orang yang sedang saya bantuin ini ternyata melakukan tindakan korupsi?

Saya mencoba meyakinkan diri saya, mengingat dan mencari informasi tentang siapa Hotasi Nababan sebanyak mungkin. Termasuk mencoba mengingat cerita-cerita dari Bang Onye dulu tentang Bang Hotasi kepada saya maupun abang, dan teman-teman yang saya kenal.

Sampailah saya pada kesimpulan. “Ini orang kan teman dekatnya Bang Onye. Mirip-mirip mereka. Jelas integritasnya, sama-sama mengabdi kepada negara dengan bekerja dan berupaya membangun industri pesawat terbang Indonesia.”

Sambil menikmati rasa kuatir, saya pun terus memposting ulang berita-berita dari berbagai media, meminta beberapa teman membuatkan illustrasi, dan share ke berbagai jejaring sosial.

Anehnya, rasa kuatir saya perlahan terkikis. Saya tidak bisa menjelaskannya secara meyakinkan. Setelah saya membaca berulang-ulang kronologi kasus penyewaan pesawat Merpati-TALG, saya semakin yakin, “Ini Hotasi Nababan bukan koruptor! Dia ditipu TALG!” Bahkan saya sempat meneteskan air mata dalam beberapa moment.

Lucunya, suatu kali, seorang adik ideologis mengirimkan sms, “Bang, ini aku lagi nonton film Habibie-Hainun. Nangis aku bang pas liat adegan terbangnya pesawat N250 Gatot Kaca. Teringat sama Bang Onye dan Bang Hotasi yang punya komitmen dan integritas membangun dirgantara Indonesia.” Setelah membaca sms itu, saya pun sedikit terisak.

Pesawat-N-250-PTDI

Sumber: hmifistek-sn.blogspot.com

Memang, ada kekuatiran lain dalam hati saya, “Jangan-jangan, aku bantuin Bang Hotasi ini dikira dikasih duit lagi.” Kenyataannya, memang seperti itu, ada yang mengatakan, “Abang dapat fee yah?” Saya hanya bisa merespon, “Nggak, ini karena aku merasa abang itu nggak salah, sahabat Bang Onye, dan banyak ketidakadilan di negara ini.” Sambil menuliskan itu, saya sambil berdoa, semoga ia percaya.

Oh iya, seorang teman, waktu awal-awal mendesain web tersebut, sempat mengusulkan supaya membuat petisi: Memohon Hotasi Nababan Dibebaskan. Sebagai bentuk suara masyarakat yang tersentuh setelah mengikuti atau mendengar kasus Hotasi Nababan.

Singkatnya, kami pun membuatnya. Lalu membagikan kepada banyak orang secara online. Ajaibnya, hanya butuh dua minggu untuk mengumpulkan lebih dari 1.300 tanda tangan. Itu artinya, memang Hotasi diyakini oleh banyak orang tidak korupsi. Lain dengan dugaan jaksa penuntut umum; memperkaya diri dan merugikan negara.

Dalam dua sidang terakhir, saya bersama teman-teman ikut hadir mendukung serta mendoakan Bang Hotasi dibebaskan. Banyak yang mendukung, mulai dari keluarga, rekan kerja, perwakilan instansi BUMN, dan masyarakat datang memenuhi ruang sidang. Apalagi di hari putusan hakim, 19 Februari 2013 yang lalu. Haru padu sukacita di ruang Pengadilan Tipikor Jakarta setelah putusan bebas dibacakan.

Banyaknya orang yang datang pada sidang terakhir, mengingatkan saya pada sehari sebelum pemakaman Bang Onye. Ratusan orang datang, memenuhi ruang auditorium PTDI. Pada waktu itu, seorang abang sempat berkata, “Lihatlah ke dalam, kalau kau mau tahu bagaimana orang yang punya visi.” Ia menyadarkan saya, orang-orang berdatangan karena Bang Onye pribadi yang punya visi juga integritas. Karena itulah berbondong yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir pada Bang Onye.

Hotasi-&-Keluarga

Sepulang dari Jakarta, dalam hati dan pikiran saya, “Itulah Tuhan. Tak terselami jalan-jalannya. Tidak pernah aku bayangkan akan bertemu seorang Hotasi Nababan. Aku tidak menyangka, perjumpaan dan perjalananku dengan Bang Onye akan membawaku sejauh ini. Walaupun aku kecil, tak bersekolah cemerlang, atau berjabat tinggi. Sekecil-kecilnya, aku telah ikut mendorong masa depan hukum di negara ini. Termasuk teman-teman yang sudah mendukung  dalam doa, membagikan isu, dan petisi Hotasi Nababan selama ini.”

Dunia tidak akan berubah menjadi baik, ketika mereka yang baik lebih sering diam, lebih dikuasai kekuatiran, kalau-kalau sampai ia bertindak, kenyamanannya yang sekarang akan terusik.

*Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai penunjukkan peran tetapi sebuah proses yang penuh pembelajaran. Tidak hanya untuk saya. Semoga menginspirasi.
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s