Petualangan di Batavia, Mitu Baby, dan Gravity

Selalu saja berkesan saat mengalami perjumpaan dengan orang-orang yang sudah direncanakanNya. Ada pesan utuh, yang disampaikan sepotong-sepotong melalui mereka. Separuh-separuh sesuai waktunya.

Entah kenapa, pesan-pesan itu sarat semangat untuk menikmati dan meneladankan “hidup yang hidup”. Nampaknya ada atau tidaknya alasan, hidup mesti terus berjalan. Karena hidup itu anugerah.

Selasa (15/10) lalu, saya berkunjung ke ibukota melepas jenuh sekaligus bertemu beberapa pribadi. Belakangan saya memang sedikit merasa bosan.

Saya bersyukur memiliki sahabat-sahabat yang selalu berbaik hati setiap kali saya berkunjung ke Jakarta. Memberi tumpangan menginap bahkan mengantarkan saya berkeliling metropolitan.

Pagi itu, jalanan lowong. Seorang sahabat menjemput saya di pool travel.  Lalu saya dibawa ke tempat yang biasa jadi tempat kami berbagi banyak hal. Mulai dari perihal yang sangat pribadi sampai isu-isu nasional.

Kali ini kami lebih banyak bertukar pandang tentang “jalan hidup dan pola didik dalam keluarga”. Yang saya ingat:

Hidup, Tuhan yang Rencanakan

“Eh, gue nggak tau yah. Tapi kayaknya jalan hidup gue beda sama kakak-kakak gue. Kakak gue yang kedua itu lurus-lurus aja. Kuliah cepat, pacaran dan menikah cepat, dapet anak cepat.”

“Oh gitu?”

“Kalau kakak gue yang pertama. Pacaran lama, sepuluh tahun nggak disetujui, terus bubar. Habis itu berjuang lagi. Trus pas udah disetujui, eh mereka berdua ribut.”

“Beda kali yah sama yang kedua.”

“Nah, gue, kuliah lama. Putus, punya pacar. Putus, punya pacar. Nah jadi gue pikir, jalan hidup orang itu memang masing-masing. Ada yang lurus-lurus aja. Ada yang bengkok-bengkok dikit.”

“Jadi Tuhan itu kayak sudah atur soal itu yah. Karena Dia kenal siapa kita dan gimana caranya membentuk kita.”

Pendidikan Kaku dan Stereotipe

“Eh, kalo kau nggak boleh yah sama Tionghoa?”

“Kalo udah sama Tionghoa, udah nggak ada kesempatan itu, mamen. Nyokap gue bilang boleh Tionghoa asal dokter. Jadi walaupun cantik dan lucu kawan itu, aing udah langsung pasang pager. Mesti Batak!”

“Kalau aku sih boleh aja sama China. Tapi masalahnya dianya mau nggak sama aku. Ahahaha. Tapi aku paling malas kalau udah dibilang, “Jangan sama boru ini yah, bang. Agak-agak sombong katanya.” Lain lagi sama boru itu dan anu.”

“Sama mamen, nyokap gue juga gitu.”

“Stereotipe. Padahal belum tentu mereka mengalami hal itu yah. Mereka jadi berpikiran boru ini sombong atau tinggi hati karena dengar cerita orang lain. Nggak adil kalo stereotipe. Kan karakter seseorang nggak ditentukan boru apa dianya.”

Masih banyak yang kami bicarakan selain perihal seperti di atas. Sedikit dinamika organisasi dan negara. Sambil berbincang, saya mengontak beberapa teman lainnya. Namun karena kesibukan masing-masing batal berjumpa.

Jakarta panas! Membuat saya gerah dan sering berkeringat. Tapi ketidaknyamanan itu seperti tidak ada artinya bagi saya. Karena saya menikmati obrolan yang ‘mendalam’ terkait pengalaman kami berdua.

Sebelum selesai, saya menghentikan sejenak obrolan kami berdua, membeli tisu basah. Karena tak pernah membeli tisu basah, saya meminta bantuan pelayan toko. Warna bungkus tisunya pink.

Obrolan ringan kami berlanjut sekian menit. Sampai akhirnya saya menerima konfirmasi dari seseorang yang ingin saya jumpai sejak satu bulan terakhir. Lalu saya memberi isyarat untuk cabut.

Muka boleh preman, tapi stok di tas tetap Mitu Baby.

Saat duduk di mobil, saya mengambil tisu basah, mengusap-usap bagian wajah dengan tisu itu. Sahabat saya tertawa, “Hahahaha. Tampang seram, pakainya Mitu Baby.” Katanya. “Hahaha. Iya, kan biar nggak kelihatan kucel, mamen.” Balas saya. “Aing juga mau dong,” pintanya.

Lalu kami menuju tempat yang sudah ditentukan. Saya sedikit grogi, karena saya baru satu kali bertemu, dan itu sekitar 6 bulan yang lalu.

Tujuan Hidup dan Menghargai Hidup

Singkatnya, saya bertemu dengan seseorang itu. Dengan sedikit basa-basi lalu memperkenalkan sahabat saya padanya, yang kemudian pamit.

Saya memang tidak punya tujuan yang terencana saat bertemu dengan dia. Di kepala saya, “Saya hanya perlu bertemu.” Jadi, sedikit bingung mau kemana. Untung saja dia ingin membeli sesuatu.

Sumber: counsellorsofwisdom.com

Sumber: counsellorsofwisdom.com

Karena saya tidak tahu harus apa, saya temani saja. Saat masuk ke supermarket:

“Eh, lu di luar aja deh. Nggak usah temenin gue belanja.”

“Oh, nggak apa kok. Udah biasa nemenin perempuan belanja. Apalagi kalau dibeliin coklat.”

“Habis ini mau kemana?”

“Apa kita nonton Gravity aja?”

“Udah liat jadwalnya?”

“Udah tadi, jam 5.”

“Yah udah, lu beli tiketnya, ke atas yah.”

Saat saya menaiki lantai demi lantai. Saya melihat orang-orang yang berkunjung ke mall tersebut. Ada keluarga yang membawa anak kecil dengan kereta dorong, ada yang pacaran, juga orang-orang tua. Mereka mencoba menghilangkan penatnya rutinitas dengan berjalan-jalan ke mall.

Setelah membeli tiket, saya melihat kembali jam dan ruang studio yang tercantum di tiket. Tiba-tiba, ada yang menepuk punggung saya.

“Hai, bang! Ngapain kau disini? Kok bisa ada disini?” Sapa seorang wanita cantik. “Woy, ahahaha. Sempit kali dunia ini. Aku janjian ketemu teman. Dia lagi dibawah, nanti aku kenalin, tunggulah.” Balas saya. Sambil menunggu, kami bercerita ringan. Sampai akhirnya dia tiba lalu saya kenalkan dengan teman saya itu. Lalu berpamitan.

Di dalam bioskop, hanya seperempat kursi yang terisi. Filmnya sebentar, hanya satu jam lebih sedikit. Namun ada beberapa hal yang saya tangkap dari Film Gravity itu:

Film tersebut mengisahkan bagaimana menghargai kehidupan. Bertahan dan meneruskan hidup dengan merelakan apa yang terjadi di masa lalu. Menatap masa depan yang jauh lebih baik, dengan ada atau tidaknya alasan. Karena hidup adalah anugerah.

Film itu juga mengajak supaya kita setiap kali dalam situasi rumit untuk tetap berusaha tenang. Sehingga dengan demikian kita bisa mengambil keputusan terbaik untuk menuntaskan situasi tersebut.

Selesai menyaksikan film tersebut, kami memutari mall, karena tidak menemukan tujuan selanjutnya. Akhirnya, kami makan malam di daerah yang dekat dengan rumahnya. Lalu saya pulang ke rumah sahabat saya, menginap.

Perjumpaan yang sangat singkat. Tuhan sudah rencanakan (yang baik) bagi hidup setiap orang, memberikan keluarga yang tidak kebetulan, ada tujuan hidup yang perlu dicapai, dan akhirnya bagaimana menghadapi dan menghargai kehidupan itu sendiri.

Hidup sekali, berarti, berdampak, dan sampai di tujuan akhir karena anugerah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s