Kusamper Kau ke BSD Demi Integritas

Tidak ada yang perlu aku tanyakan lagi, tentang apa yang seharusnya aku lakukan bahkan dapatkan. Perjalanan singkat, 48 jam, telah menerangkan semua yang mesti dijalani, dalam setiap langkah dimulai dengan ketulusan, kejujuran, dan dalam kerangka menuntaskan perkara-perkara kecil sampai akhirnya naik kelas.

Sahabat menaruh kasih setiap waktu. Saya sempat merasa sedikit gagal, mendapati bahwa saya bukan sahabat yang ideal bagi beberapa sahabat saya. Sampai akhirnya saya memutuskan, “Aku mesti mengunjungi mereka berdua. Lama aku tak menatap raut dan menikmati tawa, terutama cara pandang mereka terhadap hidup. Aku merasa seperti bertemu Onye kala bercakap-cakap dengan mereka.”

Sabtu (2/11) lalu, saya bertandang ke BSD, berjumpa kedua sahabat saya. Edo, dan Tommy yang sudah hampir setahun berkeluarga. Yang satu, pewaris integritas Alm. Kornel M. Sihombing. Satu lagi mewarisi pemikiran dan gaya bicara yang terstruktur.

Menjelang petang saya tiba di BSD, kali pertama. Sekitar 10 menit saya menunggu di pool travel, tak lama Edo tiba. Kami pun bersalaman dan sedikit berbasa-basi lalu menepi sejenak ke warung Padang.

Tak banyak yang berubah dari Edo. Mulai dari cara berpakaian, rapih sekali. Lalu gaya bicaranya. Hanya, kelihatan memang pola pikirnya naik tajam, semakin matang.

Sambil makan, kami saling bertukar cerita. Ia menceritakan bagaimana kerasnya hidup, serta sulitnya mempertahankan integritas dalam bekerja.

Sumber: wapannuri.com

Sumber: wapannuri.com

“Aku, Sar, asal pergi meriksa kantor-kantor cabang, orang-orang itu sampai bilang ‘KPK datang’ atau ‘polisi datang’. Aku nggak perduli memang, kalau ada yang ganjil atau berlaku curang di perusahaan, pasti aku laporkan dan tindak. Kita berteman yah berteman, tapi urusan kerja tetap harus taat pada peraturan.”

Sahabat saya yang satu ini bekerja sebagai auditor di salah satu bank swasta. Godaan untuk berlaku curang selalu datang hampir setiap saat.

“Kalau yang mau nyogok supaya temuan di kantor cabangnya nggak usah diangkat, orang itu nelplah, ngajak ketemulah, mau kasih inilah-itulah. Ada pulak yang sampai ngancam. Motorku itu udah berapa kali diusilin orang. Tapi aku nggak takut, karena aku bekerja dengan benar. Itu tugasku, periksa, temukan, laporkan.”

Saya bingung, kenapa sahabat saya ini tidak mau menerima sekedar “uang terima kasih” dari mereka. Itu akan membuat hidupnya sedikit jauh lebih baik dari saat ini. Saya tahu betul berapa penghasilan yang ia terima setiap bulan. Sedikit konyol kalau orang seperti Edo masih ada dan bertahan di zaman sekarang yang lebih condong mengukur banyak hal dengan uang.

Usai makan kami menuju kosnya. Saya tetap tertegun dengan kesederhanaanya.

“Do, memang banyak perubahanmu yah. Tapi kamarmu tetap nggak berubah. Masih kuingat dulu waktu kuliah, karena kamarmu kecil aku sampai bilang ‘tolong geser dulu lemari ini biar agak lapang’. Sekarang tetap begini, luar biasa.”

Kami melanjut obrolan setelah mandi. Kira-kira sampai pukul 02.00 subuh.

Esoknya, kami beribadah di GKI Serpong. Usai ibadah, saya dan Edo pulang ke kos, berganti pakaian lalu menuju rumah Tommy. Perjalan kami lumayan cepat. Kebetulan tidak terlalu macet. Dalam perjalanan, Edo, saya anggap terlalu membuat saya seperti orang desa yang berlibur ke kota metropolitan.

“Kau tengok itu, Sar, mall ini. Kalau yang disana itu perumahan ini. Nah, yang itu mall anu. Makanya, pindah kesini. Bandung itu begitu-begitu aja.”

Saya hanya mengangguk-angguk saja. Saya hanya berusaha berpikir positif. Ia berlaku seperti itu karena terlalu gembira dengan kehadiran saya.

Akhirnya kami sampai di rumah Tommy. Sekitar 10 menit kami menunggu, mereka pun tiba. Langsung, begitu ia turun dari mobil, saya menghampirinya. Kami bersalaman erat, menatap dengan tajam.

“Apa kabar, Tom?”
“Baik, Sar. Apa kabarmu?”
“Baik Tom. Senang kali aku akhirnya berkunjung ke rumahmu.”
“Ahahahaha.”

 Edo pun tak lupa bersalaman dengan Tommy. Tak ketinggalan pula istri Tommy, Chelse, serta ibu dan adiknya Tommy.

Tommy, selalu saja rendah hati.

“Sar, ayoklah masuk. Inilah gubuk kami, Sar.”
“Ahahaha. Ah, kau bisa aja, Tom.”

Kami pun duduk di ruang tamu. Bercakap-cakap banyak hal. Yang saya ingat, percakapan mengenai bagaimana kita ikut berperan dalam pengembangan diri dan masa depan orang lain. Kebetulan Tommy bekerja di divisi HRD di salah satu perusahaan ternama. Sama seperti saya, sebagai HRD dengan perusahaan yang berbeda. Memiliki tantangan yang sama, dengan kompleksitas yang berbeda.

“Sar, kita kan tahu. Divisi HRD itu berfungsi sebagai partner divisi produksi. Kita yang mesti sediakan kebutuhan SDM untuk bagian produksi. Nah, untuk memenuhi itu kan kita punya kriteria dan proses. Kita melihat kemampuan SDM tersebut lalu pribadinya, sesuai nggak kalau posisinya ini.”

Lalu kami melanjutkan percapakan di meja makan, karena makanan sudah tersedia. Ada yang membuat saya tertegun saat hendak berdoa makan. Dengan tenang dan menikmati perannya sebagai suami, Tommy memimpin doa. Ia mengucap syukur untuk berkat yang tersedia, juga perjumpaan serta perbincangan kami.

Selama makan, saya lebih banyak diam. Edo yang lebih banyak bercerita tentang bagaimana penerapan integritas dalam bekerja dan bermasyarakat. Kami sedikit terpana ketika ibu Tommy tiba-tiba berkata, “Itu si Ahok ngeri yah. Memang Indonesia ini butuh orang kayak dia. Dia bersaksi dan berani mati demi kebenaran juga kepentingan rakyat. Katanya, mati itu adalah keuntungan.”

Kami pun melanjutkan sedikit pembicaraan mengenai isu nasional dan bagaimana menghadapi birokrasi yang korup. Caranya, kita penuhi syarat administrasi sesuai dengan ketentuan. Sehingga tidak ada cela untuk dimintai ‘biaya tambahan’.

Dari meja makan kami pindah ke ruang tamu. Dalam kesempatan itu, saya lebih banyak bercerita tentang tantangan saya di kantor. Edo dan Tommy, seperti biasa, selalu memberikan semangat dan mengisyaratkan “kalau kita setia dalam perkara kecil, kita pun akan setia dalam perkara besar.”

Setelah puas berbincang, saya pamit bersama Edo karena akan melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Sebelum berpisah, Edo kembali berpesan, “Ingat, peranmu penting. Mulai sekarang, maenkan lebih tajam lagi.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s