Optimisme sebagai Etika Pembaruan Diri dan Bangsa

Pembaruan kehidupan sebaiknya dimulai dan tidak berhenti hanya pada diri kita. Pembaruan itu mesti meluas, terjadi secara besar-besaran di negeri ini. Bangsa ini membutuhkan generasi bermental unggul.

Belakangan, saya sering menonton TV sebelum berangkat dan sepulang bekerja. Sudah lama memang saya enggan menyaksikan tayangan TV, karena lebih sering melihat berita-berita miris. Entah kenapa, dua bulan terakhir rutin menonton.

Tidak jauh dari dugaan, yang ditayangkan lebih banyak cerita ‘sedih’. Belum selesai kasus Hambalang, muncul skandal MK, lalu Bunda Putri, hingga Presiden repot-repot ikut mengomentari. Ditambah lagi kesenjangan si kaya dan si miskin, kriminalitas, tawuran anak sekolah, dan yang lainnya. Bisa habis republik ini kalau kisah-kisah semodel itu tidak dihentikan. Sedikit saja yang menyejukkan.

Setiap mendengar berita ‘sedih’ di TV, sebagai anak muda saya lantas bertanya, “Apa yang aku bisa lakukan untuk republik ini, Tuhan?” Mungkin sama dengan Anda, rindu berperan memperbaiki negara ini. Di lain sisi, seperti Anda, saya memiliki tantangan tersendiri terkait dengan masa depan, baik itu studi, karir, ekonomi, keluarga, dan yang lainnya.

Optimisme Sebagai Etika

Saya teringat saat menonton final Piala AFF U-19, Indonesia melawan Vietnam. Melalui drama adu pinalti, akhirnya Timnas U-19 menjadi juara. Sejak malam itu, media ramai dengan pemberitaan Timnas U-19. Tak berselang lama, Garuda Muda kembali bertanding dalam penyisihan Group Piala AFC U-19. Kejutan tak berhenti, lolos ke putaran final di Myanmar 2014 mendatang setelah menghantam Korsel. Apa rahasianya?

Sebelum bertanding melawan Korsel, pelatih Timnas U-19, Indra Sjafri berkata, “Ndak ada level Korea di atas kita, kita yang lebih besar dari dia kok. Siapa bilang dia lebih besar dari kita.” Tak mau kalah, kapten Timnas U-19,  Evan Dimas, sebelum pertandingan menulis status di Blackberry Mesengger-nya, “Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan.” Ada pesan kuat yang ingin disampaikan, menempatkan optimisme sebagai etika.

Tidak Menyalahkan Keadaan
“Kamu maen bal-balan! Kamu masih mimpi jadi pemain bola! Negara ini ngurus rumput  aja nggak becus!” – Sujiwo Tejo, Tendangan Dari Langit

Sudah rahasia umum sepakbola kita tak luput dari praktek memalukan—pelatih dan pemain yang tidak dibayar dan sebagainya. Namun, prajurit-prajurit muda di Timnas U-19 tidak mau ambil pusing. Mereka memilih untuk fokus serta tekun berlatih, dan senantiasa bersyukur kepada Sang Pencipta.

Indra Sjafri sampai berkata, “Saya ingin negara kita berdiri tegak sama tinggi dengan negara lain. Uang ratusan juta bahkan miliaran pun saya tak tertarik. Kami siap miskin, pemain dan official berkomitmen, tak dapat duit tak apa. Kami bertekad membawa nama bangsa di tingkat internasional.”

Absurd! Masih ada yang siap miskin demi bangsa. Belum lagi kenyataan sebagian besar pasukan Garuda Muda adalah anak-anak desa yang hidup dengan kesederhanaan.

Melalui sepak bola, Garuda Muda telah memberikan inspirasi bagi kita. Inspirasi yang menegaskan, masih ada secercah harapan bagi republik ini. Inspirasi yang menyatakan, kita masih bisa berperan untuk kemajuan bersama.

Dari Hal-Hal Kecil
Tidak perlu berpikir terlalu rumit untuk bisa memberikan pengaruh dan perubahan seperti Garuda Muda. Segala sesuatu pasti dimulai dari langkah kecil yang mungkin terlihat sederhana.

Kita harus mengingat, “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Matius 25:21

Langkah kecil yang kita buat, melalui ketekunan di pendidikan, kejujuran dan etos dalam dunia kerja juga keluarga, hingga kepedulian terhadap sesama, akan membuat kita sanggup untuk memberikan dampak yang lebih besar bagi bangsa ini.

Satu langkah kecil yang kita lakukan akan membuat kita siap ketika Tuhan memberikan perkara yang lebih besar. Perkara yang bisa jadi akan menentukan arah dan tujuan republik ini.

“Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.”  – I Timotius 4: 12

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s