Serutan-Serutan di Sekolah Kehidupan (TA. 2013)

Hidup mesti terus berjalan dan bertumbuh. Memang, setiap manusia, sebaik bahkan sejahat apa pun, semakin hari ia akan semakin mengarah pada pengenalan dirinya, tujuan, dan kebaikan. Ada saja rasa takut, saat berhadapan dengan realita dan misteri-misteri. Kenyataannya, dengan rasa was-was, kita sudah melewatinya sedikit, mungkin setengah, tapi yang jelas masih ada misteri lain menanti. Sampai akhirnya kita mengerti dan bertemu dengan apa yang kita cari.

Katanya, “Yang nggak enak dilupain, yang diingat yang baik-baik aja.”

Baiklah, saya hanya akan mengingat apa yang baik selama satu tahun ini. Bukan hidup namanya kalau tak ada kejutan, dan tentu tidak selalu mulus-mulus saja. Meskipun saya tidak dekat denganNya, saya meyakini Dia yang berencana dan berkehendak atas seluruh kehidupan saya.

Pertama, berserah bukan berarti menyerah. Semakin hari saya diajak bergaul dengan pribadi-pribadi yang unik. Baik itu yang sudah lama kenal maupun yang baru. Seiring waktu, tanpa sadar, mereka memaksa saya membenamkan secara perlahan ego yang ada dalam diri. Mengajak saya menyadari bahwa hidup ini pemiliknya Tuhan. Lewat mereka, semakin jelas, hidup, sebaiknya tidak mengandalkan akal dan kemampuan diri sendiri. Lebih dulu menaruhnya dalam Tuhan. Mereka, guru-guru di sekolah kehidupan saya.

Tidak mudah menyerahkan semua, apa yang saya pikirkan dan ingin saya lakukan pada Tuhan. Saya sering merasakan betapa tak bahagianya saya saat melakukan segala sesuatu dalam keseharian sambil mengabaikan Tuhan. Saya tidak ingin memaksa Anda mengikuti kebiasaan saya. Saya tahu, Anda adalah pribadi yang sudah terbiasa mengandalkan Tuhan setiap waktu.

Kedua, menyalurkan kebaikan bersama, apa pun ceritanya! Saya masih suka bertemu teman-teman yang sering saya dan orang lain sebut ‘aktivis’. Saya melihat mereka getol sekali mengupayakan berbagai kebaikan di negara ini.

Dalam dunia hukum dikenal slogan “Fiat justitia ruat caelum”, keadilan mesti ditegakkan meskipun langit akan runtuh. Persis seperti itu pula semangat teman-teman saya itu dalam mewujudkan kebaikan bersama bagi banyak orang. Mulai dari kerukunan umat beragama, lingkungan hidup, agraria, juga pengembangan generasi muda melalui pendidikan mental dan pola pikir.

Memang, tidak hanya cerita-cerita mulus yang saya dengar. Ada juga berbagai kerikil yang mesti mereka injak. Mulai dari tantangan merangkul SDM yang peduli, pendanaan, pencarian ide-ide kreatif untuk kampanye, dan lain sebagainya. Tapi, mereka tidak menyerah. Mentok satu jalan, mereka cari cara lain. Bagi mereka, kalau orang-orang baik diam di negara ini, yang akan semena-mena itu kejahatan.

Mereka hidup ‘sederhana’. Sepertinya mereka tidak terlalu kuatir; salah satu persoalan yang dianggap penting di dunia ini adalah bagaimana mencapai kenyamanan financial. Mereka merasakan kepuasan tanpa ukuran dunia.

Ketiga, tangkap kesempatan dan terima resiko. Tahun 2013, tahun yang membuat saya sering ketakutan sekaligus merasa tertantang. Ada banyak kesempatan pengembangan diri yang saya terima dan belum saya jawab, bahkan ada yang tidak saya terima. Baik itu di tempat bekerja, keluarga, teman bermain, bahkan dari aktivitas-aktivitas rutin di luar pekerjaan saya.

Betul memang, semakin luas bergaul, semakin banyak kesempatan yang datang pada kita. Semakin pula kita dewasa dalam bersikap serta mengambil keputusan-keputusan hidup.

Penyesalan selalu datang belakangan. Selalu ada resiko dari setiap keputusan yang kita ambil terkait kesempatan yang datang. Tak mengapa, itu tanda kalau saya masih normal, dan lagi pula bukan hidup namanya kalau lancar-lancar saja.

Keempat, menyelaraskan idealisme dan realita. Saya suka sekali bercanda pada teman-teman dekat saya, “Eh, kalau kau ketemu perempuan yang mau dari nol, secepatnya kasih tahu aku yah.” Terlalu idealis, berharap ada manusia lucu yang bersedia memulai kehidupan bersama dari nol. Itu sama saja menurunkan kelas belajarnya. Kalau bisa memulainya dari angka 7, kenapa harus memaksa hidup dari nol.

Maksudnya begini, ini bukan soal perempuan. Saya perlu menyeimbangkan keinginan, kemampuan, dan tren. Bukan berarti mengalah. Saya memiliki kebiasaan berkeras hati, bahwa sesuatu yang saya pikirkan dan bayangkan harus terjadi utuh seperti itu. Sementara, dunia ini butuh kelenturan, tidak kaku. Saya mesti bertobat untuk yang satu ini.

Kelima, memberi bukan menerima. Ada yang selalu mengganggu pikiran saya akhir-akhir ini. Saya bertemu orang-orang yang dengan bersuka hati memberikan perhatiannya kepada saya. Tak jarang mereka mesti mengorbankan banyak hal. Setiap kali saya membutuhkan, mereka selalu ada.

Keadaan itu menyadarkan saya. Dengan memberi, mereka merasakan kedamaian hati. Kalau saya lebih sering menerima, logisnya, saya mesti belajar memberi untuk masa-masa mendatang. Karena memang, cinta atau yang biasanya kita sebut kasih itu memberi.

Cukuplah tahun 2013 saya mengingat apa yang baik. Tahun selanjutnya tetap misteri. Kalau rasa takut dan kecewa, itu normal saja ada. Toh, saya akan tetap memilih mencoba mengikuti dan membuka misteri-misteri itu. Seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya.

Terima kasih untuk penajaman dan pengalaman yang luar biasa di tahun 2013. Selamat Tahun Baru 2014! Immanuel!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s