Valentine Bersama Bapak

Akhirnya, aku dan bapak sangat dekat, layaknya sahabat. Hangat dalam setiap perbincangan. Percayalah, banyak hal baru, yang tentu indah dan membuat kita semakin mengenal siapa itu Tuhan, ketika kita berani untuk saling mengasihi.

Orang tua dan anak tentu saling menyayangi. Meski demikian, ada saja kekakuan-kekakuan, yang membatasi sehingga proses saling mengasihi itu tidak berjalan dengan baik. Ada gengsi dan benturan keinginan di dalam relasi antar anggota keluarga. Hal yang wajar. Hanya perlu sedikit dilenturkan.

Sejak kecil sampai SMA, saya jarang bertemu bahkan bercakap-cakap dengan orang tua. Selain karena mereka tinggal di luar kota Jambi, ayah saya juga pendiam. Hanya akhir pekan kami bertemu. Sekedar makan malam, belanja kebutuhan sekolah, dan obrolan interogasi studi.

Sejak lama saya memiliki kerinduan, terutama pada bapak; bercerita kenapa saya berkelahi di sekolah, ditegur guru, nilai ulangan yang jelek, wanita yang saya taksir, jadi asisten guru sejarah, dan hal lainnya. Sayang, itu hanya menjadi angan-angan sampai saya kuliah di Bandung.

Ayah dan ibu saya lahir dan dididik dalam keluarga yang miskin nan disiplin. Ayah saya pernah bercerita, “Bapak itu, anak yang paling mengerti apa maunya opung kalian dulu.” Memang begitu dari cerita saudara-saudara bapak; anak yang baik, rajin belajar serta patuh pada perintah orang tua. Ayah saya berharap kami pun berlaku demikian.

Tentu setiap anak ingin membahagiakan orang tuanya. Termasuk saya. Tapi bagaimana saya bisa mengerti apa yang orang tua saya harapkan, kalau ia sulit diajak bicara, apalagi kalau nasihatnya saya tanggapi. Bentakan dan pukulan menjadi makanan.

Saya tidak merasakan ‘kehadiran’ orang tua dalam hidup saya. Membuat saya tidak betah di rumah dan memilih bergaul di luar; merasa diterima, didengar, dan bisa menjadi diri sendiri. Selain itu, saya merasa Tuhan dan ibadah-ibadah yang saya jalani bersama keluarga seperti formalitas.

Tahun 2006 semuanya mulai berubah. Bermula saat saya menghadiri ibadah di GKI Maulana Yusuf. Waktu itu ditayangkan video Take All of Me, Hillsong. Menceritakan hubungan seorang pemuda dengan ayahnya. Semasa kecil pemuda ini digendong, bermain, dan bercanda dengan ayahnya. Hangat! Ketika beranjak dewasa, pemuda ini menjadi tidak akur dengan ayahnya. Kemudian ayahnya meninggal dunia. Lalu pemuda itu marah kepada Tuhan. Akhirnya, ia menyadari begitu mengasihi ayahnya, begitu pula sebaliknya.

Sepulang ibadah saya gusar! Kalau-kalau cerita itu akan menimpah saya. Meskipun di mata saya bapak itu otoriter, stereotipe, sering membandingkan saya dengan anak tetangga atau saudara, selalu saja saya katakan namanya dalam doa-doa saya. Saya berusaha melawan gengsi yang ada dalam diri, kemudian saya putuskan mengirimkan pesan, “Selama ini di mata saya bapak itu monster. Aku sayang bapak.” Pesan itu berbalas, “Iya, saya mengerti perasaanmu.”

Sejak itu, secara bertahap kami seperti orang pacaran. Tidak lagi beliau segan-segan bercerita tentang tantangannya di kantor, kisah ngapel perdananya ke rumah ibu, masa kecilnya yang kocak, dan yang lainnya. Begitu juga saya, tidak ada lagi ketakutan dalam hati saya seperti di masa lalu, saat saya hendak menceritakan mimpi-mimpi saya. Relasi semodel ini juga akhirnya dialami oleh ibu dan adik-adik saya.

Inisiatif Karena Mengasihi
Saya tidak pernah membayangkan mengatakan “Aku sayang bapak.” Butuh tenaga ekstra untuk menyatakannya, meski hanya lewat SMS. Ada gengsi laki-laki dan kekakuan akut dalam diri saya.

Saya meyakini Tuhan yang menyadarkan saya dan bapak. Kami perlu sama-sama tahu dan ‘mengerti’ bahwa kami saling mengasihi. Sama seperti ketika kita rindu pada seseorang, kalau kita tidak mengatakannya, yang bersangkutan tidak akan pernah tahu.

Sumber: beritaparoki.blogspot.com

Sumber: beritaparoki.blogspot.com

Mengasihi Merubah Dunia
Tuhan Yesus telah lebih dulu berinisiatif menyayangi kita dan mengatakan, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” – Yoh 13:34. Juga tertera di Yoh:15:9-12.

Dengan terbuka Yesus mengatakan bahkan menyematkan mengasihi sebagai perintah. Ia ingin, selain kita intim dengan Allah, juga dekat dengan keluarga kita, seperti kedekatanNya dengan BapaNya. Kedekatan yang telah mengubah serta menyemangatkan dunia ini!

Malam sebelum disalib, pinta Yesus, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.“ – Matius 26:39. Bukankah ini menggambarkan keintiman dan keterbukaan? Yang akhirnya menyelamatkan sekaligus menginspirasi dunia ini?

Mungkin Anda sedang mengalami kekakuan komunikasi dalam keluarga. Baik itu sebagai orang tua maupun anak. Tuhan mengasihi Anda, saya, dan dunia ini. Kita perlu campur tangan Tuhan dan sedikit inisiatif untuk memperbaharuinya.

Semoga semakin banyak keluarga yang mengalami kehangatan saling mengasihi dan tentu di dalam proses itu ada Tuhan yang bekerja, sehingga kita semakin merasakan kebaikan-kebaikan Tuhan dan meneruskannya kepada sesama. Terima kasih Tuhan, aku berharap bisa selamanya valentine bersama bapak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s