Kalau Ragu Nggak Usah Pilih Jokowi

Anak muda, bukankah kau memimpikan pemimpin seperti Jokowi? Yang sering kau diskusikan di kampus-kampus, warung kopi, percakapan telepon, dan dalam lamunan malam juga doa-doamu sebelum tidur? Kenapa kau ragu saat kesempatan emas itu di depan mata?

Kemiskinan Guru Hidup

Seorang teman sempat bertanya, “Kalau nanti Jokowi jadi presiden gimana yah? Kebayang, dia nggak bisa jalan tegap.”

Saya mendapatkan jawabannya dari Prof. Thamrin Tomagola di seminar, katanya, “Jokowi itu waktu kecilnya miskin, tidak pakai kereta dorong dibawa kesana-kemari. Digendong pakai kain, dipunggung atau disebelah ketiak. Dan rasanya sakit kalau digendong begitu. Setiap kali digendong, tangannya tidak masuk ke dalam kain gendongan, tergantung di luar. Makanya sekarang, kalau kita lihat Jokowi jalan, tangannya seperti ngegantung.”

jkw1Ia merasakan bagaimana hidup miskin. Kemiskinan telah mendidiknya menjadi seorang yang berkemauan keras, tekun, dan rendah hati. Kemiskinan itu pula yang memanggilnya untuk berbuat sesuatu, sesuatu yang baik untuk bangsa ini.

Kesantunan Hati dan Telinga

Seorang teman aktivis pernah bercerita bertemu Jokowi di rumah dinasnya. Kebetulan teman saya ini bersama rombongan, membuat kursi melingkar dua baris di ruang tamu. Lalu Jokowi bilang, “Kita melingkar satu baris saja yah, supaya kelihatan semuanya.” Lalu mereka pun bergegas berdiri, hendak memindahkan kursi-kursi itu, Jokowi melarang, “Biar tuan rumah yang beresin. Kedatangan tamu adalah kehormatan.” Lalu Jokowi dan ajudannya memindah-mindahkan kursi menjadi satu baris lingkaran.

Selama bertemu Jokowi, teman saya memperhatikan wajah dan gerakan tubuh Jokowi, katanya, “Memang benar, bang, kalem dan rendah hati orangnya. Kalau ada yang ngomong, dia dengarin baik-baik, dan kasih tanggapan.”

Pancasila Sampai Mati

Masa Pilkada DKI, Ahok habis diserang isu SARA, untuk menjatuhkan. Tetapi Jokowi tak bergeming. Baginya, perbedaan hal yang wajar, saling mewarnai. Juga setelah menjadi gubernur. Kasus Lurah Susan, kita ingat, bagaimana standar yang dipakai sebagian masyarakat untuk menilai kinerjanya, karena minoritas, tidak layak jadi lurah. Jokowi menolak tuntutan warga yang meminta Lurah Susan dicopot. Karena bagi Jokowi, bukan soal agamanya apa, gendernya apa, tapi bagaimana kinerjanya. Melayani masyarakat atau tidak?

Saya sempat menyaksikan Jokowi bertemu tetangganya, Ibu Sutarti, di acara Indonesia Baru di salah satu stasiun TV. Semasa kecil, kalau Jokowi hendak berpergian sepulang sekolah, Ibu Sutarti yang mengantarkannya naik sepeda. Ibu Sutarti (menurut saya) berbeda keyakinan dengannya. Dari kecil dia bisa dan merasakan indahnya hidup dalam perbedaan. Pancasilais dari kecil.

Kaget nggak sih lihat Jokowi? Kita seperti melihat Gus Dur hidup kembali, dalam diri Jokowi.

Teladan Kepemimpinan

Santer dan bikin iri. Hampir setiap hari berita Jokowi dan Ahok ada di media-media nasional. Kemunculan mereka sebagai teladan kemudian mendorong bermunculannya pribadi-pribadi baik lainnya, ditingkat daerah, perkantoran, kampus, dan lingkungan sekitar.

Seperti dalam buku The Secret, kalau ada yang baik ingin mengerjakan yang baik, yang baik lainnya akan datang ikut membantu.

Layak Capres?

Setelah melihat perkembangan, akhirnya Megawati memberi mandat kepada Jokowi untuk menjadi capres dari PDIP. Ramai, ada yang suka dan memaki. Saya gatal menulis opini soal itu, tapi akhirnya saya urungkan karena membaca status seorang abang:

“Mencap Jokowi “ingkar janji” bahkan “pelanggar hukum” hanya karena akhirnya menjadi capres dan berarti membatalkan janji memimpin Jakarta selama 5 tahun, bukankah kita sedang mendangkalkan harapan atas seorang pemimpin? Di sisi lain, kita diam dan tak jarang malah membela pemimpin (pejabat negara, tokoh agama) yang korup dan nyata-nyata melanggar sumpah jabatan, mengesampingkan konstitusi, menginjak-injak ajaran agama, hingga menyengsarakan rakyat.” – JS

Kita punya kesempatan memiliki pemimpin yang berbudaya, disiplin, tegas, rendah hati, paham manajemen dan merakyat. Kapan lagi?

Boneka Amerika

Makin gencar serangan kepada Jokowi. Ada yang bilang boneka Megawati, pesanan Amerika Serikat, ambisius, korupsi dana pengadaan Trans Jakarta, ingkar janji 5 tahun di DKI, dan yang lainnya.

Saya sempat memutuskan berdiskusi dengan beberapa teman terkait isu Jokowi dicapreskan karena Megawati dipaksa Amerika. Kasarnya, ada deal lagi untuk melanjutkan penjualan SDA negeri ini nantinya.

Tapi akhirnya kami menyimpulkan pikiran sederhana saja, “Itu beritanya dari mana. Kalau nggak jelas sumbernya, yah jangan dipercaya. Nggak ada sumbernya.”

Oh iya, proses pengerjaan MRT alot karena Jokowi tidak mau diatur oleh asing. Jokowi juga sudah menyiapkan dana untuk membeli perusahaan air PT. PALYJA dan PT. Aetra milik asing yang selama ini menguasai air bersih di Jakarta (sumber: http://www.republika.co.id).

Cawapres Penentu Jokowi

Katanya kalau Jokowi dipasangkan dengan sendal jepitpun pasti menang. Sekarang sudah tidak berlaku rasanya. Kalau Jokowi salah pilih cawapres, selamat tinggal!

Koalisi partai perlu, karena perolehan suara dan Indonesia tidak bisa dibangun hanya oleh Jokowi dan PDIP. Agak lain model koalisi yang akan diterapkan Jokowi nanti jika terpilih. Tidak mau transaksi kekuasaan atau kursi menteri.

“Kita ingin membangun kabinet kerja, bukan kabinet politik. Saya akan ngotot untuk bangun kabinet kerja,” ujar Jokowi di dalam pertemuan dengan Forum Pemred di Restoran Horapa, Jalan Teuku Cik Ditiro, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (15/4/2014). “Beban masalah kita di Indonesia berat. Saya ndak ingin menteri kita nanti sibuk urus partai, saya bilang ndak ada.” (Sumber: http://notes.pdiperjuangan.org).

Indonesia Masa Depan

Kita wajib menghantar Jokowi menjadi presiden. Memastikan hak pilih 9 Juli nanti, ajak yang lain. Kita rindu Indonesia jadi Macan dunia, bukan sekedar Macan Asia. Kalau anak muda sudah bergerak, bahaya!

2 thoughts on “Kalau Ragu Nggak Usah Pilih Jokowi

    • Sebelumnya, terima kasih sudah merespon tulisan saya, mas.

      Saya nggak berusaha untuk ngibul, apalagi mendewakan Jokowi. Saya hanya melihat ada yang baik, yang berani, dan punya pola kerja yang berbeda dari pemimpin-pemimpin sebelumnya. Soal kekurangan, pasti ada.

      Bisa tolong yakinkan saya kenapa saya harus yakin bahwa Jokowi boneka Megawati?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s