Ada Cinta di Sekitaran Bintaro-Kuningan

“Dreams mean work.” – Paulo Coelho

Aku sedikit keliru, memang hidup bukan seperti roda yang berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Tepatnya, lebih baik mengibaratkan seperti sedang menaiki anak tangga. Setiap hari kita berusaha menaiki anak-anak tangga, kadang-kadang kita berhenti di anak tangga ke tujuh, tapi kita pasti melanjutkan ke tangga yang selanjutnya, perlahan atau cepat. Sampai akhirnya tidak ada lagi anak tangga yang harus ditapaki.

Katanya Cinta Butuh Diperjuangkan

Subuh, 12 April lalu, saya berangkat dari Bandung bersama Bistok dan kekasihnya, Icha, ke Jakarta, demi menyaksikan pemberkatan dan resepsi pernikahan sahabat kami, Kelik.

www.wattpadKami ngotot hadir karena tahu bagaimana Kelik dan Tia memperjuangkan cintanya, 9 tahun. Entah apa rasanya, selama itu berjuang. Kelik sempat cerita, “Gue udah nggak tahu lagi ini pacar atau temen.”  dan akhirnya tuntas di altar GKJ Kanaan Bintaro.

Saat acara sungkeman, kelik menangis. Setahun lebih sekasur, saya tak pernah melihatnya menangis. Sisanya, kelik tersenyum sampai akhir pemberkatan.

Saya bertemu Tommy dan Bang Dennis disana. Selesai pemberkatan, menunggu resepsi, saya, Bistok, Icha, dan Tommy menepi sejenak ke supermarket. Bertukar pergumulan terkini. Yang saya tangkap dari Tommy dan Bistok, apa yang salah dari diri kita maupun orang lain, kita harus membantu diri kita dan orang lain untuk memperbaikinya. Minimal, kita lebih dulu.

Di resepsi, saya bertemu Kiki, Erick, dan Andi. Kiki, pribadi yang pantang menyerah, hidup teratur, dan selalu berusaha berpikir positif untuk setiap tantangan yang datang mewarnai hari-harinya.

Selesai resepsi, saya, Bistok, Icha, Kiki, dan Erick menuju Gandaria City (Gancit), dipandu Waze. Kami nyasar karena sinyal yang kadang hilang-timbul. Mungkin seperti itu juga ketika kita kehilangan komunikasi dengan Sang Pencipta, nyasar, dan akhirnya dituntun kembali.

Mutiara Tetap Mutiara

Di Gancit, Erick bercerita, sudah beberapa kali ingin keluar dari perusahaan tempatnya bekerja, namun bosnya selalu punya cara untuk menahan. Tanda bahwa dia kompeten dan dipercaya untuk terus ada di perusahaan tersebut. Dia memiliki kemauan keras untuk maju.

Sekitar 3 jam kami bercakap-cakap. Setelah itu saya, Kiki, dan Erick menuju Blok M. Dalam perjalanan saya sempat bilang, “Hebat yah, kalian dua bisa tahan kerja di Jakarta. Nggak cuma soal kerja juga. Beda kayak aku, nggak berani kerja di Jakarta. Masih cupu mentalku.” Saya dan Kiki berpisah dengan Erick di Blok M. Lalu saya berpisah dengan Kiki di halte Tegalan. Ia menuju Rawamangun, saya ke Matraman.

Jangan Lakukan Yang tidak Kau suka

Saya buru-buru ke Matraman menumpang mandi dan menginap. Gerah seharian tidak mandi. Selain itu ada janji dengan seseorang.

Sekitar pukul 21 saya bertemu dengannya di Setiabudi One. Dia suka bercerita. Kali ini sebagian besar tentang upayanya demi kebahagiaan hidup. Ia bercerita betapa pedihnya ketika kita bertindak hanya untuk kebahagiaan keluarga semata, mengesampingkan hati kita.

Kita harus memperjuangkan yang kita mau, sebaik mungkin dengan cara-cara yang bisa diterima keluarga kita. Malam itu saya lebih banyak mendengar. Nampaknya dia tak akan lagi membiarkan kebahagiaan yang mestinya dia peroleh direbut oleh egoisme orang-orang yang ada di dekatnya.

Kau Tidak Pernah Jalan Sendirian

Minggu pagi, saya beribadah di Duta Injil, daerah Kuningan juga. Sedikit terlambat, karena menunggu teman. Begitu masuk, lagu pembuka ibadahnya, “Bersamamu Bapa… kulewati semua…” Seketika saya terenyuh, diingatkan bahwa kita tidak hidup sendirian, ada Tuhan yang bekerja. Kita merasa sendiri karena bosan menunggu janji Tuhan.

Anak Tangga

Selesai ibadah, makan siang bersama beberapa teman di Kuningan City. Lalu saya kembali bertemu seseorang. Bercanda juga bertukar cerita tantangan yang kami lewati.

Saya bilang padanya, “Aku kadang merasa hidupku, terutama sekarang, seperti roda yang berputar, lagi ada di bawah.” Ia menimpah, “Salah dong, kita hidup itu nggak ada turunnya, bertumbuh terus.” Katanya. “Oh, seperti anak tangga gitu yah? Kadang aja berhenti di satu anak tangga, tapi nanti naik lagi?” Balas saya.

Dari Kuningan City saya ke Matraman, dan sudah memesan travel pukul 21.00, namun akhirnya pulang jam 23.00 karena larut mendengar cerita kedua adik yang saya kasihi, yang sudah berpacaran selama 5 tahun, terhambat restu untuk menikah.

Saya meyakini, orang tua hanya ingin memastikan anaknya hidup dengan orang yang tepat, tapi tidak menjadi penentu. Saya hanya katakan, “Apa yang kalian sudah jalani, kalian yang tahu gimana rasanya kesatuan hati kalian. Aku rasa kalian perlu tekun dan sabar memperjuangkannya. Tapi tentu, dengan lebih giat namun bisa diterima oleh orang tua kalian.” Hal ini tidak hanya berlaku bagi mereka tapi bagi saya juga.

Dua hari yang singkat, menyadarkan. Saya harus tetap melakukan yang saya suka, memperjuangkan yang saya mau, dan terus bertumbuh. Kalau gagal, itu hanya perhentian sejenak. Dan tidak perlu merasa hidup sendiri. Ada Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s