Ini Aku Bukan Dia

Tidak seorangpun berharap dibandingkan dengan orang lain. Setiap orang punya kelemahan dan kelebihan masing-masing. Lagi pula, Tuhan menciptakan kita berbeda-beda, dengan tugas yang berbeda pula. Kalau saja kita mau sedikit berusaha menerima orang-orang di sekitar kita apa adanya, mereka akan melakukan hal-hal besar yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Setiap manusia butuh diterima dan dihargai.

Sejak kecil sampai kuliah tahun ke enam, saya sering dibanding-bandingkan oleh ayah dan ibu saya dengan anak tetangga atau saudara, maupun orang-orang yang mereka anggap baik serta berhasil (mapan secara ekonomi, dewasa secara sikap dan pemikiran).

“Itu coba lihat anaknya om sebelah, baik, nggak suka keluyuran malam, rajin belajar, dan patuh sama orang tua. Mamak itu kok nggak liat kalian begitu yah.”

“Saya berharap kamu bisa beres kuliah cepat, seperti anak bapak tuamu. Dia cepat beres kuliah, dan sekarang sudah bekerja.”

Tujuan yang baik dengan cara yang kurang tepat tidak akan berhasil.

Saya tahu tujuan mereka baik, tetapi saya tidak mengerti. Karena sebaik apapun tujuan mereka, kalau caranya tidak bisa saya terima, saya tidak akan mendengar. Seperti berpura-pura mendengar saja, sambil menyimpan rasa kesal.

Karena terbiasa dibandingkan, secara tidak sadar, saya mulai membandingkan diri saya dengan orang-orang yang mereka contohkan, dan dengan orang-orang yang saya anggap lebih buruk dari saya, waktu itu.

Alhasil, dalam suatu waktu saya seperti orang sombong. Karena merasa lebih baik dari orang-orang yang buruk di mata saya. Pada keadaan lain, menjadi rendah diri, kurang motivasi, dan cenderung sedikit iri terhadap orang-orang yang lebih baik dari saya.

“Siapalah aku ini, aku tidak akan bisa seperti dia…”

Tentu sangat berbahaya ketika ada orang yang rendah diri dalam waktu yang cukup lama. Karena merasa tidak diterima apa adanya, cenderung berprilaku buruk, yang dampaknya merugikan dan menyakiti diri sendiri.

Misalnya, mabuk-mabukan, berbicara kotor, gampang marah, mudah sedih, pola hidup tidak teratur, dan sebagainya. Bukankah ini sangat membahayakan masa depannya?

Seperti kata orang-orang, “Kita berharga di mata Tuhan.”

Saya sering bertemu orang-orang yang menjadi korban perbandingan beberapa tahun belakangan. Karena saya tahu bagaimana rasanya dibandingkan, saya hanya berusaha belajar menerima mereka apa adanya.

Begitu menyakitkan ketika mendengar seorang teman bercerita, “Papaku sering kali membandingkan aku dengan orang lain. Aku kepengen membahagiakan papaku, tapi kan aku nggak sama dengan orang lain.”

Tidak mudah bagi saya untuk menghilangkan kebiasaan membandingkan setelah lulus kuliah. Karena saya masih mendengar, meski sudah berkurang, dari keluarga dekat saya. Tentang kegemaran menceritakan prestasi orang lain, dan seperti yang lupa bersyukur, sedikit saja, atas pencapaian anaknya.

Saya tidak mau sepenuhnya menyalahkan orang tua saya yang dulu punya kebiasaan membandingkan. Mungkin mereka pun dulu diperlakukan seperti itu. Sehingga cara terbaik yang mereka yakini untuk memompa semangat anak dengan cara seperti itu.

“Hanya seseorang yang mampu berkata ‘aku cinta padamu’ yang sanggup berkata ‘aku memaafkanmu’.”  Paulo Coelho, Aleph

Titik awal saya mulai berani berdamai dengan pahitnya ‘dibandingkan’ itu sejak bertemu pribadi-pribadi yang bersedia menerima saya apa adanya. Membuat saya mampu melihat dan merasakan bahwa saya berharga di mata Tuhan.

Pertemuan itu mendorong sekaligus menolong saya sehingga sanggup memaafkan serta melupakan kata-kata yang melukai, yang pernah orang tua saya ucapkan. Dan kenyataannya saya mencintai mereka. Tidak mudah memang, berproses.

Belakangan, ayah dan ibu saya tidak pernah lagi membandingkan kami dengan orang lain. Dan ayah saya pernah bilang, “Masa depan kamu, kamu yang tentukan. Hidup kamu, yah kamu yang jalani. Lakukan yang terbaik yang kamu bisa.”

Seperti kata orang bijak, “Di atas langit ada langit.”

Tidak ada habisnya kalau membandingkan. Setiap orang punya kesempatan-kesempatan yang berbeda, disesuaikan dengan kemampuan juga lingkungan yang berbeda. Baik itu kesempatan bekerja di perusahaan A, kuliah di kampus B, dan sebagainya.

Saya meyakini, setiap orang, serendah, seburuk, sebandal, atau sebaik apa pun, punya keinginan untuk melakukan yang terbaik dalam setiap langkah hidupnya. Yang mereka perlukan adalah diterima dan sedikit apresiasi atas apa yang sudah mereka capai dalam hidupnya.

Dan kita harus berhenti menciptakan orang-orang jahat dengan berhenti membanding-bandingkan.

Kita perlu belajar menerima mereka apa adanya dan memberikan penghargaan terhadap hidup yang sudah mereka lalui selama ini. Seperti kita juga yang berharap diterima sertai dihargai sebagai ciptaan Tuhan.

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” – Matius 7:12

com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s