Rahasia Hati Seorang HRD

Dalam satu waktu, seorang HRD harus berdiri sebagai penerus kepentingan perusahaan. Pada keadaan lain, ada rasa kemanusiaan yang harus dikelolah dengan baik. Tidak seorangpun HRD di dunia ini yang bermimpi akan berkata, “Maaf, kontrak kamu tidak diteruskan.” atau “Mulai besok kamu tidak lagi menjadi bagian perusahaan ini.”

Akhir tahun 2013 lalu, masa perpanjangan kontrak beberapa karyawan, saya berdiskusi dengan tiga rekan kerja saya. Ada yang dilanjutkan, karena pertimbangan kebutuhan perusahaan, produktivitas serta disiplin, juga perkembangannya. Ada yang tidak diperpanjang, karena tidak disiplin juga produktif. Dan saya adalah orang yang bertugas mengeksekusi hasil rapat kami berempat.

Saya bingung sekali waktu itu, bagaimana cara menyampaikannya kepada rekan yang kontraknya tidak diperpanjang. Kalau dengan yang kontraknya diperpanjang kan lebih banyak senyum dan ketawanya.

Saya coba membuat coretan. Kenapa tidak disiplin? Kenapa tidak produktif? Kenapa tidak berkembang? Apa kelebihannya? Apa kemampuan yang perlu dia asah? Apa plan perusahaan tahun depan?

Saya menemukan jawabannya, “Kalau seseorang itu tidak berkembang dalam pekerjaannya yang sekarang, bisa jadi itu bukan passionnya dia. Dan ketika kita menahannya karena kebutuhan perusahaan dan membiarkan seolah-olah yang sekarang dikerjakannya itu bagian dari passionnya, maka kita telah menghancurkan masa depannya.”

hrd3Masuk akal, terlalu berbahaya kalau kita merasa nyaman-nyaman saja dengan rutinitas, pergi pagi pulang sore, dapat gaji bulanan. Tanpa ada keinginan yang kuat untuk mengembangkan diri. Tanda-tanda ada yang salah dengan hidup kita.

Saya meyakini alasan itu yang terbaik. Dan akhirnya saya menyampaikan “kabar baik” itu, “…. Maaf, kontrakmu nggak diterusin. Aku lihat kau jago dalam hal…dst… Aku yakin kau bisa berkembang di tempat yang baru..”

Malamnya saya tidak bisa tidur dengan tenang, karena merasa ikut serta memutuskan nasib seseorang yang sudah bekerja kurang lebih satu setengah tahun. Itu pengalaman yang tidak mengenakkan bagi saya sebagai HRD.

Soal disiplin. Saya paling benci kalau harus ‘ngobrol’ dengan rekan kerja karena terlambat masuk kerja. Saya meyakini, tidak seorangpun ingin ditegur. Tetapi akhirnya saya melakukannya, bukan hanya karena tugas saya. Tetapi karena saya berpikir, “Kalau disiplin, pasti target kerja tercapai, dan target perusahaan juga tercapai. Itu artinya kesejahteraan itu sudah dekat.

Perkara lembur. Saya paling getol mencegah rekan-rekan lembur. Bukan perkara hitungan lembur. Saya punya alasan, “Kalau dia tidak lembur, kesehatannya terjaga, dia punya waktu istirahat yang cukup, dia punya waktu bertemu temannya, atau bermain bersama istri dan anaknya. Dan besok dia fit bekerja.”

Perkara kenaikan gaji. Saya tidak menentukan gaji karena jenjang pendidikan dan jabatan semata, ada aspek lain;single/keluarga, tempat tinggal, dan sebagainya. Saya juga selalu memastikan setiap karyawan mendapatkan haknya; gaji, uang lembur, cuti, asuransi kesehatan, fasilitas kerja, sarapan pagi, makan siang, dsb. Mengikuti peraturan yang berlaku serta diseimbangkan dengan kemampuan perusahaan.

Suatu kali, seorang teman kantor cerita tentang kondisi keluarganya. Ia menjadi tulang punggung dan berharap mendapatkan kenaikan gaji. Saya selalu terkesan dengan cerita-cerita nyata seperti itu. Sebenarnya saya bisa langsung saja menaikkan gajinya. Tapi saya perlu tahu kinerjanya, bertanya pada atasannya. Di sisi lain, kenaikan upah biasanya diselaraskan dengan tanggung jawab yang diemban.

Atasannya mengatakan, “Dia perlu didorong inisiatif dan produktivitasnya, Sar.” Mendengar itu, singkat saja kesimpulan saya, “Oh, kalau gitu naik gaji bukan jawabannya.” Kemudian saya coba berpikir apa yang akan saya katakan pada teman saya itu.

Saya tidak sedang berniat untuk menyakiti hatinya, tetapi saya merasa perlu memberi sudut pandang lain, “Kalau kita bertekad mencapai mimpi-mimpi kita, itu semua dimulai dari diri kita sendiri, kita mesti berusaha lebih keras dari sebelumnya.”

Saya pun akhirnya berbicara dari hati ke hati dengannya. “Cuy, aku ngerti problemmu. Kalau aku, memandang gaji itu, berapa pun bisa kurang, bisa cukup. Tergantung cara mengelolahnya. Mungkin gini, kalau kau merasa kurang, aku lebih setuju kalau di luar jam kantor ambil kerja sampingan, tapi jangan sampai ganggu kerjaan kantor. Dan memang itu akan membuatmu sedikit lebih capek dari sekarang.”

Sebagai HRD, sering bersentuhan langsung dengan bos. Hampir setiap hari kami membicarakan bagaimana mengembangkan perusahaan; menjaga disiplin, meningkatkan produktivitas, memasarkan produk, inisiasi kerjasama, serta upaya-upaya peningkatan kesejahteraan karyawan.

Saya sering merasa salah posisi, “Masa iya kayak aku gini  jadi HRD, bisa berantakan semuanya.” Tapi mungkin karena itu pulalah ditugaskan untuk itu, supaya tidak hanya memandang dan memutuskan sesuatu hanya berdasarkan kapital. Dan saya tahu, pemilik perusahaan tempat saya bekerja, tujuannya membuat perusahaan bukan kapital yang utama, tetapi panggilan untuk menyatakan kebaikan Tuhan.

Tidak seorang pun HRD berharap ada yang resign atau dipecat. Malahan berharap bertambah jumlah dan gajinya. Alasan sederhananya, “Eh, kau tau nggak, cari pekerja yang cocok untuk posisi yang dibutuhkan itu susah. Udah gitu ngedevelop itu orang butuh waktu, ada cost dan resikonya.”

Suatu kali, saat makan siang, saya duduk paling pinggir. Teman-teman saya lahap sekali makan sambil asik bercanda. Entah kenapa, tiba-tiba terbersit, “Aku baru ngerti, kenapa orang-orang banyak yang ngotot jadi pengusaha, mereka ingin ikut serta mewujudkan kebaikan Tuhan kepada sesamanya, melalui penyediaan lapangan kerja. Dengan bekerja, setiap orang akan merasa terhormat serta diterima di masyarakat.”

Kalau Tuhan mengijinkan, saya mau jadi pengusaha.

Oh iya, pernah kebayang kalau HRD habis kontrak, yang tentuin gajinya dan buat kontraknya siapa? Gimana rasanya? Hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s