Membebaskan Indonesia dari Mental Terjajah

Saya mau mengaku. Ada rasa tidak percaya diri dan iri dalam diri saya. Saya tidak segan melanggar, menjelekkan, menjilat, menyogok, dan menindas demi kepentingan saya sendiri. Mulai hari ini, bantu saya memperbaikinya, pelan-pelan. Tuhan taruh saya di Indonesia tidak kebetulan. Seperti Anda juga. Kemerdekaan ini perlu kita penuhi dengan “kabar baik”.

 69 Tahun Benar Merdeka?

Dalam konsep Trisakti, Bung Karno mengutarakan tiga pilar dan menurut saya ini tujuan Indonesia merdeka; berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan berkepribadian secara sosial-budaya.

Hari ini genap 69 tahun Indonesia merdeka. Mei 2014 yang lalu, Bank Dunia menyatakan ekonomi Indonesia masuk dalam 10 besar dunia. Kelas menengah tumbuh subur. Berkat kemerdekaan, kita bisa merasakan beragam kebaikan; sekolah, bekerja, berlibur, dan yang lainnya. Rasanya kita hampir sampai pada cita-cita akhir para pejuang.

Namun, di tengah-tengah proses mewujudkan cita-cita Proklamasi itu secara utuh, kita juga masih menyaksikan koruptor yang keluar-masuk penjara, kemiskinan, intoleransi, aksi jalanan yang kian disukai, kesewenangan hukum, bobroknya moral generasi muda, pelecehan seksual, pembunuhan, birokrasi yang ribet, serta minimnya teladan dari pemimpin. Mendorong kita cenderung tidak lagi percaya pada pemerintah.

Belakangan, marak pula mental “kalah sebelum perang” dan prilaku individualisme. “Merdeka pun Indonesia, berganti pun presiden, aku harus tetap cari makan sendiri.”

Ada yang bilang, “Hidup harus terus bertumbuh dan berbuah.” Kita tidak punya pilihan lain. Hanya satu yang bisa kita lakukan demi mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera–kita bisa merasakan kebaikan lainnya kalau itu terwujud. Memerdekakan diri kita dari sikap pesimis dan individualisme dengan pertolongan Tuhan.

Sumber: terpaksabikinwebsite.wordpress.com

Sumber: terpaksabikinwebsite.wordpress.com

Merdeka dari Diri Sendiri

“… Orang perlu merdeka dari dirinya sendiri.” – Warren W. Wiersbe

Yesus lahir dari keluarga tukang kayu dan tidak terpandang. Tiba-tiba menjadi buah bibir sejak Ia bertanya-jawab dengan alim ulama pada usia 12 tahun di Bait Allah. Berbondong orang mengikuti kemana pun Ia pergi. Padahal hanya anak tukang kayu.

“Bukankah Ia ini tukang kayu….” – Markus 6:3. Yesus tidak mau memenjarakan dan membatasi potensiNya hanya karena “keluarga tukang kayu” dan penilaian orang lain. Ia membebaskan diriNya demi menyelamatkan Anda dan saya.

Kekecewaan itu Terbatas

“Kekecewaan itu terbatas, harapan tidak terbatas.” – Martin Luther King, Jr

Saya pernah curhat pada Alm. Kornel M. Sihombing karena kecewa atas pencapaian saya sendiri, “Bang, gimana yah, aku kan lulusnya 8 tahun. Mana ada yang mau terima aku kerja.” Dia membalas, “Aku 8 tahun juganya kuliah, tapi jadi vice president juganya.” Sejak itu saya belajar mengelola kekecewaan yang membatasi diri saya melakukan hal-hal yang berguna.

Setiap hari kita berinteraksi dengan banyak orang. Kadang kita kecewa atas pencapaian pribadi kita yang sekarang juga terhadap kondisi negara kita. Kalau kita kehilangan harapan, lantas untuk apa setiap hari kita berdoa, kuliah, dan bekerja?

Hapus Tradisi yang Tidak Membuat Bertumbuh

Masing ingat kisah Yesus menginap di rumah Zakheus? Menyembuhkan orang sakit pada Hari Sabat? Bercakap dengan orang Samaria? Membela pelacur? Yesus melakukannya demi menyelamatkan mereka, dengan lebih dulu merevolusi mental mereka. Pola pikir dan tradisi yang tidak memuliakan Allah diterabasNya.

Di Indonesia, ada pemimpin-pemimpin yang berani mendobrak tradisi yang menghambat kemajuan kita sebagai bangsa. Seperti Jokowi, Ahok, Tri Rismaharini, dan yang lainnya. Mereka memulainya dari lingkungan terdekat dan tempatnya bekerja. Birokrasi ruwet yang jadi tradisi dipangkas habis. Kebiasaan politisi yang membuai kita dengan janji-janji manis diganti dengan kerja nyata. Tindak-tanduk mereka menumbuhkan harapan kita pada pemerintah.

Ada tradisi yang sudah tidak revelan menjamur dan dominan dalam kehidupan pribadi kita, keluarga, tempat bekerja, dan di negara ini, yang membuat kita sulit berkembang. Kita perlu menerobosnya secara perlahan namun pasti.

Masa Depan Kita dan Indonesia

Indonesia masa depan, seperti kata Bung Karno; berdaulat, mandiri, dan berkebudayaan. Kita bisa mewujudkannya, memulainya dari diri kita sendiri dengan membuang mental terjajah.

Kita bisa membangun kebiasaan-kebiasaan baru yang positif, yang tidak hanya berguna bagi kita, tetapi juga sesama dan bangsa ini. Saya jadi ingat cerita teman yang pulang dari Singapore, “Sar, Singapore itu bersih, masyarakatnya taat aturan.” Juga tragedi nuklir Fukushima. Rakyat Jepang tidak larut dalam kesedihan karena bencana. Dengan tenang dan semangat persaudaraan yang kuat, mereka bisa menghadapi bencana yang mereka alami, pulih kembali dan merdeka dari keterpurukan.

“Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan.” – Efesus 6:8

*Kolom Bina GKI MY, 17 Agustus 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s