Haruku Kau Antar Ke Wonosobo

Sebelumnya aku menduga, “Ah! Ini pasti desak-desakan, ada yang ngamen, kotor, bau dan lama. Ah! Malas!” Kenyataannya, aku terlalu berprasangka. Lain dulu, lain sekarang. Jugijagijug itu sekarang bersih, kian nyaman untuk ditumpangi. Di tengah perjalanan itu pula aku bersimbah harapan.

Jumat (29/8) malam, kami bertujuh menumpang kereta api kelas ekonomi dari Bandung ke Kutoarjo. Sebelum memesan karcis, saya sempat nawar untuk ngambil tiket bisnis. Karena kalah suara, akhirnya saya setuju kelas ekonomi.

Sehari sebelum berangkat saya bertanya pada teman kantor yang pernah naik kereta ekonomi.

“Mas, pernah naik kereta ekonomi?”

“Pernah, mas. Sekarang ada AC dan colokan listriknya, mas. Bersih lagi.”

“Ah, masa?”

“Serius, mas. Nggak boleh ngerokok lagi.”

“Oh, gitu? Waduh!”

Besoknya, sesampainya di depan Stasiun Kiaracondong, saya melihat ramai yang antri masuk ke ruang tunggu. “Waduh, mak. Alamat kacau ini.” Maklum saja, saya punya pengalaman buruk naik kereta ekonomi dari Yogya ke Bandung, 10 jam saya harus berdiri di sebelah pintu WC dengan satu kaki yang menggantung di luar dan satu berpijak di depan pintu masuk gerbong kereta. Sejak itu saya berjanji tidak mau naik kelas ekonomi lagi.

Saya mengira penumpang akan berebut kursi. Seperti yang saya alami dulu. Kenyataannya, dengan tertib mereka memasuki gerbong dan mencari kursi sesuai dengan yang tertera di karcis. Tidak ada lagi yang berdiri atau ngampar pakai koran karena kehabisan tiket.

Kami memilih masuk belakangan. Di dalam gerbong, saya sempat bingung mencari kursi begitu juga teman-teman yang lain. Saya mendapati ada yang duduk di kursi saya. “Ini aku yang salah gerbong atau gimana yah?” Tanya saya dalam hati.

Setelah berputar satu kali, akhirnya teman saya bertanya pada penumpang yang menduduki kursinya. Mereka mengaku berpindah tempat duduk supaya tidak jauh dan terpisah dari rombongannya. Sebetulnya saya kepengen protes, tapi mendengar penjelasannya, “Yoweslah. Aku rapopo, mbak…”

Kami pun akhirnya duduk di kursi-kursi kosong bekas mereka sebelumnya. Saya sempat kesal dengan seorang ibu, yang meminta bertukar tempat duduk dengan saya, padahal ia sudah berpindah tempat duduk sebelumnya. Saya bilang, “Bu, ini kita jadi berantakan karena kitanya nggak mau ikutin yang sesuai dengan tiket yah.”

Kejadian kecil ini mengingatkan saya, sistem yang baik bukan hanya soal aturan, namun juga kesadaran yang menggunakannya. Apakah ia meyakini itu akan menciptakan suasana yang lebih baik atau tidak.

Waktu saya duduk, saya melihat ada dua terminal listrik di bawah meja kecil dekat jendela kaca. Spontan saya berdecak, “Wah! Bisa chating sambil dengarin lagu nih kalau gini. Asik!”

Kemudian saya memperhatikan kursi yang saya duduki, besinya tidak karatan, lantainya bersih, juga ada AC, kira-kira jaraknya dua meter dari pandangan mata saya, “Ah! Ini bener kata Anto kemarin.” Lalu saya mencari posisi tidur yang pas. Setelah putar badan kiri-kanan, kaki ke atas-ke bawah, akhirnya saya menemukan posisi yang pas untuk memejamkan mata.

tiket

Kereta berangkat pukul 21.05, beberapa kali berhenti menurunkan dan menjemput penumpang di stasiun-stasiun kecil yang dilewatinya. Setiap kali berhenti saya terbangun. Saya ingat pengalaman dulu, para pedagang diijinkan masuk ke gerbong bahkan pengamen pun bebas noel para penumpang yang tidur, memaksa supaya berbelas kasihan.

Kali ini lain. Jangankan pengamen, pedagangpun tak diperbolehkan masuk. Saya hanya sayup-sayup mendengar suara, “Kopi…Tisu… Popmie…”

Kami sampai di Kutoarjo sekitar pukul 06.00. Saya sempat melihat fasilitas “Isi Power Bank Gratis”  di stasiun itu. Saya perhatikan juga stasiunnya bersih, tertata rapih, tak ada lagi pedagang yang sembarangan menawarkan jajanan. Ada tempat khusus berjualan sehingga tidak mengganggu lalu-lalang penumpang yang turun-naik.

Saya sempat pula mampir ke kamar kecil di dalam stasiun, “Ah, pasti ini WC nya jorok.” Tapi lagi-lagi, tebakan saya keliru. WC nya kinclong!

Kami mampir sebentar di warung, minum kopi dan makan gorengan.

Sambil makan gorengan saya bertanya pada pemilik warung apa angkutan menuju Wonosobo. Saat ia sedang menjelaskan, tiba-tiba seorang bapak memotong, menyarankan kami naik angkot ke tempat bis tujuan Wonosobo biasa ngetem. Kami mengikuti sarannya dan sekitar 30 menit kemudian kami sampai di depan bis tujuan Wonosobo.

Kami pun langsung naik ke bis tersebut. Kebetulan kursi yang kosong tersisa tujuh. Setelah kami naik, bis tancap gas.

Dari Kutoarjo ke Wonosobo memakan waktu sekitar dua jam. Rute yang kami lalui berliku dan terjal. Di tengah perjalanan kadang bis berhenti menurunkan juga mengangkut penumpang. Ada ibu-ibu yang hendak ke pasar, anak-anak yang ingin sekolah, biarawati, juga guru-guru yang hendak mengajar. Mereka rela berdiri dan sedikit bergantung di pintu bis demi sampai ke tempat yang mereka tuju.

Saya sempat menguping pembicaraan dua orang guru, yang satu duduk, satunya lagi berdiri.

bis“Itu si anu, saya tanya PR nya, eh dia beralasan bukunya disobek sama adiknya.”

“Wah, iku iso dadi alasan yo, mbak.”

‘Iyo, tak minta kerjain ulang. Mentalnya kok gitu. Mestinya kalau tahu gitu, cepet-cepet dikerjain ulang.”

“Iyo, mbak. Anak sekarang kok ngono yo.”

Mereka seperti tidak menghiraukan minimnya transportasi. Yang mereka utamakan bagaimana membangun mental dan intelektualitas para murid. Beda dengan saya, macet sedikit ngeluh.

Sampai di terminal Wonosobo, saya bercakap sebentar dengan sang supir.

“Mas, ini nanti narik lagi lewat jalan tadi?”

“Nggak, mas. Cuma sekali lewat. Ini karena mereka harus ke sekolah. Jarang bis yang lewat situ.”

“Oh, gitu. Terima kasih, mas.”

Haru seketika hati saya. Di tengah-tengah kondisi negara yang sering kita bilang “sudah tidak ada harapan lagi”, ternyata masih ada yang berusaha terus menyalakan lilin.

PT. KAI salah satunya, pelayanannya kian membaik. Para pekerja disana sekarang bangga berseragamkan PT. KAI. Kapan waktu saya pasti naik kereta api lagi.

Ibu guru, adik-adik, dan supir yang saya temui, tidak putus harapan meskipun tinggal di desa. Mereka terus berjalan merajut masa depan dan mengingatkan saya kembali akan arti harapan. Terima kasih!

2 thoughts on “Haruku Kau Antar Ke Wonosobo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s