Sehari Bersama ‘Jokowi’ di Atas Awan

Kalau terbang di atas awan aku pernah, sepertimu, naik pesawat. Kali ini, aku benar-benar menjejakkan kakiku di tempat yang melampaui awan. Di tanah yang subur itu bahkan aku tergagap menyaksikan para penghuninya setia menjaga budayanya. Aku juga bertemu dan bercakap-cakap dengan ‘Jokowi’ disana.

Sabtu (30/8) pagi, kami bertujuh menunggu jemputan Pak Didik di Terminal Wonosobo menuju Dieng. Menengok Festival Budaya Dieng ke-5 sekaligus pertunjukan jazz.

15 menit menanti, seorang pria berlogat “Jawa banget” menghampiri, “Saya Pak Sukur. Rombongan Mbak Ririn?” tanyanya. Kami pun berkenalan lalu masuk ke mini busnya. Kata Ririn ada 5 lagi teman kami dalam perjalanan ke Dieng. Siapa mereka?

Selama perjalanan, saya coba memejamkan mata seperti yang lainnya. Namun mata saya seperti tak rela melewatkan suguhan panorama aduhai di sepanjang jalan ke Dieng.

Sambil nyetir, Pak Sukur bercerita, “Saya pernah mas, enam jam di jalan ke Dieng, pas lebaran. Kali ini sepertinya lancar.” Saya sempat kuatir. Maklum saja, Festival Dieng selalu ramai pengunjung. Angan saya pun melayang, “Besok ada pemotongan rambut gembel, seru pasti.”

Sampai di Dieng, kami tak langsung ke homestay karena tidak tahu tempatnya, begitu juga Pak Sukur. Setelah menghubungi Pak Didik, kami disarankan keliling Dieng dulu. Sorenya baru ke penginapan.

Pak Didik nama yang sakti. Waktu kami memasuki kawasan Dieng mestinya dikenai biaya tiket masuk. Namun begitu Pak Sukur berkata, “Rombongan Pak Didik.” Petugas pun langsung mengangguk.

d1

Sebelum ngider, kami makan siang di warung. Disitu kami bertemu Dian dari Solo, Dina dari Pekalongan, dan Mas Rakhmat yang numpak motor dari Purwokerto. Mereka bergabung satu penginapan dengan kami.

Pak Sukur dan kernetnya kami ajak makan siang bersama. Jawabnya, “Silahkan, Mas. Saya sudah makan. Menunggu disini saja.”

Usai santap siang, kami dibawa ke Telaga Warna. Sewaktu hendak parkir, lagi-lagi Pak Sukur berkata, “Rombongan Pak Didik, mas.” Seketika petugas mempersilahkan parkir. “Gile ini, nama Pak Didik kok sakti banget yah. Kita nanti kalau ada apa-apa bilang ‘Pak Didik’.” kata Cae.

Di Telaga Warna kami berfoto ria, bercanda sambil menikmati suasana alam ditemani bau belerang yang sedikit mengganggu. Lalu ke Gua Semar. Sebelumnya saya sempat melihat batu besar, di depannya ada patung Gadjah Mada, saya lupa nama situs itu. Ada kembang, bekas rokok dan dupa yang dibakar di batu itu.

d2

Selanjutnya kami menuju tempat menginap, Patak Banteng, sesuai intruksi Pak Didik. Disana kami dijemput pria bermotor. Saya penasaran.

“Pak Didik?”

“Bukan, mas. Saya temennya. Penginapannya disini yah, mas.”

“Ok”

Kami pun masuk beberes barang di lantai dua. Tak lama pemilik rumah menaruh termos berisi teh beserta kue.  Sementara, Pak Sukur dan kernetnya menunggu di luar. Lalu saya turun menghampirinya.

“Pak, kami istirahat dulu yah. Bapak juga istirahat aja dulu.”

“Iya, mas. Saya tunggu disini saja.”

“Wah, saya nggak enak kalau bapak tunggu disini. Bapak istirahat saja dulu.”

“Baik, mas. Nanti bel saja yah. Saya jemput.”

“Baik, pak.”

Setelah itu saya selonjoran. Tak lama datang dua teman baru dari Jakarta. Antin dan Riri yang  bekerja di salah satu stasiun TV swasta. Sambil istirahat, kami saling bertukar cemilan dan cerita perjalanan menuju Dieng. Ada yang pakai motor, ada yang keretanya terlambat, ada pula yang kursinya didudukin orang lain.

Sekitar pukul 18.00, kami siap-siap ke Dieng. Sebelum berangkat, “Mas, jadi besok mau ke Sikunir?” Tanya Pak Sukur. “Jadi, pak, jam 3 subuh yah?” Jawab Cae. “Siap, mas!” Balas Pak Sukur.

Tiba di Dieng kami sudah tidak sabar menyaksikan pertunjukkan Jazz. Sambil menunggu, kami makan malam dulu. Lagi-lagi, Pak Sukur dan kernetnya enggan diajak makan bersama. Mereka setia menunggu kami sampai jam 23.00 di pertigaan.

Menjelang pertunjukan jazz dimulai, kami mengikuti acara bakar dan makan jagung bersama dengan pengunjung lainnya.

Meskipun malam itu sangat dingin, semua yang ada di dekat candi tetap merasa hangat. Kian semarak ketika satu-persatu musisi menyajikan nada-nada manja, ditambah lagi selingan kembang api dan lampion yang menghiasi langit. Malam itu kami bersuka, menerbangkan tiga lampion beserta doa kami masing-masing.

d4

Sebelum naik ke mobil kami sempat mengintip pertunjukan wayang orang. Dalam perjalanan pulang Cae bercakap dengan Pak Sukur.

“Mas, besok jadi mau ke Sikunir?”

“Jadi, pak. Enaknya jam berapa yah?”

“Jam 4 sudah berangkat, mas.”

“Ok, pak. Sampai ketemu besok.”

Kasihan, jam tidur Pak Sukur hanya 3 jam. Tapi saya ingat ucapannya sore tadi, “Siap, mas!”

Gaya bicara juga kesiapannya mengingatkan saya pada Jokowi. Ia menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati, cepat tanggap, dan tidak bersungut. Beda dengan saya.

Sampai di penginapan semua tidur. Ada yang bangun jam 3 ke Sikunir, ada yang ke Prau.

2 thoughts on “Sehari Bersama ‘Jokowi’ di Atas Awan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s