Kutunggu Kau Pulang dari Ladang

Aku suka dengan niat baikmu. Mungkin aku yang bebal. Caramu membuatku sedikit tidak nyaman. Tapi, aku senang, karena kau setia mengingatkanku untuk menemukannya. Jangan putus harap mendoakan dan bertanya padaku. Sesekali, biarkan aku sedikit lebih leluasa mencarinya.

“Sar, kapan nikah?”

Saya bersyukur ada yang sering bertanya seperti itu belakangan ini. Tanda masih ada yang peduli. Sejujurnya, saya juga tidak ingin berlama-lama. Kalau bisa besok, kenapa harus tunggu tahun depan. Kata abang saya, berkeluarga itu sarana untuk semakin mengenal sekaligus memperluas kasih Tuhan.

Saya punya teman yang bekerja sebagai project manager, sering keliling pulau Jawa menjalankan dan mengawasi project. Kalau ke Bandung  biasanya  selalu mengajak  saya makan malam.  Kebetulan ia masih lajang. Suatu malam kami terlibat pembicaraan serius di Gang Sempit.

“Koh, menurutmu, kita ini belum menikah sampai sekarang karna apa?”

“Ada yang bilang terlalu milih dan takut. Padahal bukan itu menurutku.”

“Iya, terlalu milih. Sementara, yang mau dipilih pun nggak ada.”

“Aku rasa gini, ini bukan soal rasa takut atau terlalu memilih juga. Ini soal sudah ketemu atau nggak. Oh iya, kau mesti sama Batak?”

“Nggak mesti. Oh, jadi maksudmu, kalau sudah ketemu, rasa takut itu hilang dan nggak akan milih-milih lagi yah.”

“Iya…”

Saya sedikit lebih beruntung dari beberapa teman saya. Kedua orang tua saya tidak membatasi harus berpacaran dengan wanita Batak. Saya tidak berani menyangka orang tua yang mengharuskan anaknya menikah dengan yang sesuku itu cupet. Mereka punya pengalaman juga pertimbangan sendiri.

Ibu saya pernah bertanya.

“Sar, udah ada pacarmu, nak?”

“Belum, mak.”

“Cari yang seperti apa, nak? Kalau cari yang pas nggak akan pernah pas.”

“Oh gitu, mak?”

“Iya, mamak aja sama bapak nggak pernah pas, sampai sekarang. Hahaha…”

“Hahaha…”

Saya bersyukur punya ibu yang selalu membuat saya bertumbuh. Tidak hanya soal mensyukuri kebaikan Tuhan, tetapi juga di dalam mengenal Kaum Hawa. Saya juga belajar banyak dari perempuan-perempuan yang pernah dekat dengan kehidupan pribadi saya.

Jadi ingat juga kata ayah saya, “Bang, kalau bapak, terserah kamu kapan. Yang penting, setelah kamu ketemu dan merasa siap.”

Beberapa teman saya menyarankan, “Minta sama Tuhan dalam doa, Sar. Kamu mesti dekat sama Tuhan.”  Saya suka dengan saran-saran semodel ini. Saya mau belajar untuk ‘meminta’ bukan ‘memaksa’.

Saya pernah membaca buku tentang mengenali pasangan. Saya lupa judulnya. Penulis buku itu menyarankan di dalam bergaul dan memilih calon pasangan, perlakukan dia seperti sahabat. Karena jadi tahu kelebihan dan kekurangannya, sehingga mampu mengukur toleransi terhadap kedua hal itu. Ah! Saya jadi ingat sahabat-sahabat saya yang perempuan. Mereka tahu busuk-busuknya saya.

Dua bulan lalu, kakak sepupu saya menikah. Sehari sebelum menikah ia mengirimkan pesan kepada saya, “Sar, kakak nikah besok. Doakan lancar-lancar yah. Kamu sabar yah, kalau sudah ketemu, nanti pasti menikah.” Pesannya itu membuat hati saya tenang-teduh, dia mengerti  apa yang ada dalam hati dan pikiran saya. Kakak saya itu menikah usia 32 tahun.

Saya suka geli dengan pemikiran, “Kalau nikah itu jangan usia segitu. Ketuaan. Nanti kasihan anakmu.” Saya lantas bertanya dalam hati, “Perencanaan itu memang perlu. Tapi kan Tuhan punya rencana terbaik buat kita. Kenapa terlalu kuatir?Ada yang bisa jamin setiap orang akan menikah di usia yang ideal lalu punya anak setahun kemudian?”

Suatu malam saya bertukar pesan dengan seorang teman cewek, menurut saya dia cantik dan tidak sulit baginya untuk memiliki kekasih.

“Eh, gimana? Udah nemu belum?”

“Belum. Gue enjoy aja. Nggak terlalu diburu-buru. Kalau ketemu dijalani. Kalo nggak, yah mungkin selibat.”

“Serius lu?”

“Iya, selibat emang kenapa? Gue yah persiapan aja. Lagi gumulin juga.”

“Oh, ok. Nggak apa-apa.”

Saya belajar untuk tidak menganggap yang dia utarakan itu ganjil. Karena dia sedang belajar beriman, menaruh semuanya dalam keputusan dan pilihan dari Tuhan.

Terakhir, teringat cerita ayah saya. Awal ia bekerja mesti berpisah dengan ibu saya. Ayah saya di kota A, sementara ibu di kampung.

Saya tidak bisa membayangkan setiap malam ayah saya berdoa, menahan rindu dan berharap bisa secepatnya tinggal seatap dengan “mantan kekasihnya” itu.

Saya lupa berapa lama ayah saya harus berdoa dan menunggu. Kesempatan itu akhirnya tiba. Yang membuat saya terkejut saat  ia bilang, “Sambil nunggu kedatangan mamak, bapak buatkan tempat tidur sendiri buat mamamu ini. Supaya ada tempat tidurnya.”

Ceritanya mengajari saya untuk beriman, ‘menunggu’ waktuNya serta tekun mengerjakan sebaik mungkin apa tugas saya yang sekarang. Saya akan ‘menunggunya’ pulang dari ladang. Seperti wanita di Kidung Agung, setia ‘menunggu’ kekasihnya pulang dari ladang.

4 thoughts on “Kutunggu Kau Pulang dari Ladang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s