From Narnia to Lucy

“Rasanya kita perlu merubah cara pandang dan keyakinan kita tentang kegagalan, dan lebih jauh lagi mengubah budaya kita agar merayakan kegagalan dan terus bergerak maju.” – Bistok  

Pernah, di kelas katekisasi, sebelum kelas dimulai, aku meminta seseorang yang duduk di depan berdoa membuka kelas hari itu. Sekejab wajahnya memutih, tangannya dingin saat kusentuh. Hampir saja ia menangis, “Aku takut, bang…” katanya.

Hal yang sama terjadi padaku, ketika ada yang memintaku menjalankan program katekisasi dialogis tahun 2007 silam. “Aku nggak punya kapasitas, bang…” Toh akhirnya aku bisa. Bahkan, tak ada yang tahu kalau aku sebelumnya lebih senang rendah diri. Aku tak menyangka, selanjutnya, mereka suka, menyimak apa yang kukatakan. Berkat mereka, aku menjadi manusia.

“Kenapa aku menjadi lebih penakut dari sebelumnya? Aku pernah berhasil karena gagal.”

“Tentukan pilihan, wahai petualang asing. Bunyikan bel, dan hadapi bahaya genting. Atau teruslah penasaran, hingga lenyap kewarasan. Akan apa yang bakal terjadi bila saja dilakukan.” – C.S. Lewis, The Magician’s Nephew

Tanpa Tuhan Semua Kian Menakutkan

fear-has-two-meanings

sumber: aviesplace.wordpress.com

Selasa (9/9) malam yang lalu, setelah sekian lama, secara tak kebetulan, saya bertemu lima sahabat saya yang sudah menikah, di teras sebelah gereja. Ada beberapa obrolan mereka yang tidak saya pahami. Tapi saya tetap mendengarkannya, pasti berguna kelak. Meskipun itu hanya cerita susu atau cerita, “Anakku udah bisa ngomong sekarang… Ba… Ba… Pa.. Pa…”

Sekitar satu jam lebih kami bertukar cerita, yang paling menohok, saat Mas Seno berkata, “Hidup ini makin berat! Apalagi tanpa Tuhan. Ngeri!” Ia bekerja sebagai HRD dan hampir setiap hari mendengar keluhan para pegawai di tempatnya bekerja. Gaji yang kecil, kebutuhan hidup yang kian mahal dan yang lainnya. Mas Seno mengingatkan saya, hidup yang berat ini hanya bisa dilalui bersama Tuhan.  Jangan coba-coba tanpa Tuhan.

Sebelum bertemu mereka, saya meminjam dua dari tujuh seri novel Narnia dari seseorang. Saya sedang belajar menjalani hidup dengan “tidak terlalu serius”. Melahap yang ringan-ringan.

Sesuatu Perlu Dijalani dan Dirasakan

Pulang dari teras, saya langsung membaca seri pertama Narnia. Petualangan beberapa orang yang suka bereksperimen. Awalnya mereka takut, tapi akhirnya menemukan kejutan-kejutan yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya, di tempat yang baru. Mereka mulai menemukan diri mereka disana.

Saya sempat berpikir, “Pengen dong dikasih kejutan sama Tuhan. Tapi kalau gagal, gimana?” Jujur, saya sering takut menerima tantangan. Baik itu di kantor atau untuk lebih serius menjalani hubungan dengan seseorang, juga yang lainnya. Belakangan saya seperti lebih cupu dari sebelumnya.

Membiarkan ‘Terang’ Menuntun

Kamis (11/9) kemarin, teman saya mem-posting album baru U2. Seketika saya berdecak. Ada satu lagu yang saya dengar seharian,  Song for Someone.

If there is a light, you can see always be

If there is a dark, that we shouldn’t doubt

And there is a light, don’t let it go out

And this is a song, a song for someone

Nyanyiannya itu pas untuk kondisi saya sekarang. Saya kadang bertanya, “Kalau udah pernah berani gagal. Masak takut gagal?” Oh iya, saya suka U2 karena kepiawaiannya menerjemahkan pesan-pesan Tuhan dengan bahasa yang bisa diterima oleh siapapun lewat lagu-lagunya. Selain memang nada-nadanya yang memanjakan telinga. Setiap kali konser, setengah dari pendapatan U2 selalu diberikan untuk kegiatan kemanusiaan.

Tindakan Terbaik Dalam Waktu

Jumat (12/9) malam, saya menonton film Lucy. Belakangan, saya lebih sering menonton film yang ringan ketimbang diskusi film-film yang berat. Sekali lagi, demi belajar untuk hidup tidak terlalu serius.

Filmnya bercerita tentang wanita bernama Lucy. Mampu mengoptimalkan otaknya seratus persen sejak sel-sel tubuhnya bercampur dengan paket narkoba baru titipan mafia yang pecah di dalam perutnya.

Sadar ada yang berubah dalam dirinya, dengan cepat Lucy menghubungi seorang peneliti yang sudah 20 tahun melakukan riset “potensi otak manusia”. Lucy meminta profesor itu ’ memanfaatkan’ dirinya untuk pengembangan ilmu pengetahuan.

Dalam satu kelas, peneliti tersebut berkata, kira-kira begini, “Otak harus dipakai untuk kebaikan. Bukan untuk kejahatan. Kadang-kadang kita berlomba untuk memiliki. Kenapa kita tidak berlomba untuk menjadi?” Beda yah, memiliki seseorang dengan menjadi kekasih seseorang. Termasuk dalam hal lainnya. Saya sepakat dengan peneliti itu, to be nampaknya lebih ciamik ketimbang to have.

“Sar, cepat kalau ada yang dikejar. Lama kalau ada yang ditunggu.”  – Rosida Nababan

Oh iya, Lucy juga mengingatkan saya, katanya, “Ada yang lebih penting dari kehebatan bahkan kepintaran manusia. Menggunakan waktu sebaik-baiknya.”  Saya, lebih banyak menghabiskan waktu mengakses sosial media ketimbang waktu untuk membaca buku.

Waktu tidak bisa kembali. Sesuatu yang terus berjalan. Kalau pun ada di jam yang sama, keadaannya sudah berbeda dan berkurang dari hari sebelumnya. Perlu sedikit keberanian untuk memutuskan. Diam saja, pasrah, atau bertindak dengan resiko berhasil karena gagal. Itulah hidup, selalu ada pilihan dan harus memilih, kata orang-orang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s