Lessons from Java

Jonggrang, berkat permintaanmu itu, aku bisa melihat salah satu bukti kebesaran pendahuluku. Di kota ini pula aku semakin meyakini, wanita tak lebih lemah dari pria. Aku juga belajar untuk tidak mudah berprasangka hanya karena penampilan seseorang. Disini pula aku belajar apa akibatnya kalau buru-buru. Perlu sedikit tenang.

y2Usai menengok Festival Dieng, Minggu (31/8) sore, saya, Cae, Impola, Dianne, Antin, dan Riri menuju Yogyakarta menumpang minis bus tujuan Magelang dari Terminal Wonosobo.

Perjalanan kurang lebih dua jam. Di mini bus itu, saya berkenalan dengan Andre. Pekerja kreatif yang serius mengembangkan bisnis website. Ia melibatkan anak-anak kuliahan, memberikan kesempatan kepada mereka bereksperimen sekaligus penghasilan sampingan.

Banyak yang kami obrolin. Mulai dari harapan industri kreatif, sampai tentang kerukunan umat beragama. Kami punya nilai yang sama, siapapun berhak dihargai sebagai sesama, apapun agama dan sukunya. Indonesia dibangun atas dasar cinta dan kebersamaan. Saya sangat terkesan saat ia bercerita tentang Gus Mus.

Dari Terminal Magelang, kami menumpang bus besar tujuan Surabaya yang mampir ke Yogyakarta. Karena perjalanan malam hari, teman-teman yang lain pada tidur. Saya yang bersebelahan kursi dengan Andre lanjut bertukar cerita, seperti “yang sudah kenal lama”. Satu jam kemudian kami sampai di Terminal Giwangan, Yogyakarta.

Di Giwangan, saya berpisah dengan Andre. Kami berdua berjanji tak putus harap terhadap industri kreatif juga kerukunan umat beragama di Indonesia. Dimulai dari kami sendiri dan lingkungan terdekat yang kami jumpai.

Waktu menunjukkan sekitar pukul 20.30. Saya takut Trans Jogja yang akan kami tumpangi sudah habis. Lantas saya buru-buru menuju halte Trans Jogja bersama Cae. Sedangkan Antin, Riri, Impola, dan Dianne menyusul. Begitu tiba di halte, saya langsung membeli tiket untuk 6 orang. Saat yang lain tiba, kami terlibat percakapan singkat.

Impola: “Bang, si Antin jatuh tadi. Abang sih jalan cepat-cepat.”

Basar: “Wah, mana coba liat. Perih nggak?”

Antin: “Nggak apa-apa, bang. Lecet dikit aja, kok.”

Riri: “Yah, dia sebelum ke Dieng jatuh dari motor. Itu lihat yang biru ditendang pas main futsal (sambil menunjuk ke bawah lutut Antin).”

Basar: “Oh, gitu, kapan-kapan futsal bareng yah.”

Saya sedikit merasa bersalah. Kadang tak perlu buru-buru mengejar sesuatu. Perlu ketenangan. Tahu kapan harus tancap gas. Maafkan aku, Antin.

Di halte itu saya berjumpa dengan dua warga asing. Sebelumnya saya mengira satu bule Jepang, satunya lagi asal Amerika. Ternyata keduanya dari Amerika. Benar juga  yah, don’t judge a book by its cover. Jangan karena matanya sipit, kulitnya sedikit eksotis, gaya bicaranya datar, lalu saya mengiranya dari Jepang. Saya sempat bercakap dengannya.

“Hai, dari mana?”

“Dari Dieng. Kamu dari mana?”

“Sama, dari Dieng juga. Tinggal di Jogja?”

“Ya, saya tinggal di Jogja. Mengajar Bahasa Inggris.”

“Wah, di mana?”

“Di UGM. Kamu tinggal di mana?”

“Kami ada yang di Bandung, ada yang di Jakarta. Suka tinggal di Jogja?”

“Yah, saya suka. Tenang dan tidak terlalu berisik. Sebelumnya saya dari Los Angeles.”

y1Tak lama, Trans Jogja datang, spontan saya berpamitan dengan kedua bule itu. Tapi ternyata bis itu bis yang harus sama-sama kami tumpangi. Padahal sebelumnya saya sudah bilang,  “See you soon!” Cae dan Dianne menahan ketawa sambil menatap saya. Malu deh.. hehe…

Singkatnya, kami sampai di Jln. Malioboro. Mendapatkan penginapan berkat panduan seorang bapak tua yang mendadak mendekati kami. Saya kurang suka sebenarnya. Kami bisa mencari penginapan sendiri tanpa bantuan bapak tua itu. Saya tahu maksudnya, membantu mencari sambil berharap dikasih uang. Ini mental yang buruk.

Dugaan saya tidak salah, petugas di penginapan kami bercerita, “Yah, dikasih, mas. Biasanya 20 persen dari uang sewa kamar. Kalo ndak, ndak mau pergi si bapaknya.” Hmmm… Menyebalkan!

Usai menaruh barang, malam itu Riri langsung mengajak berfoto ria di ujung jalan Malioboro. Disana ada Monumen Serangan Umum 1 Maret. Mengingatkan saya pada masa-masa perjuangan Indonesia.

Sebentar saja kami nongkrong disana. Karena Antin sudah mengantuk. Saya suka bertukar cerita dengannya juga Riri. Meskipun mereka wanita, keduanya jauh lebih perkasa dari saya. Mereka sudah berkeliling beberapa tempat eksotis di Nusantara ini. Saya kalah pengalaman, jadi lebih banyak mendengarkan. Sejak bertemu Antin juga Riri, saya belajar untuk tidak menganggap wanita lebih lemah dari pria.

Senin (1/9) pagi, kami bersiap-siap menuju Candi Prambanan. Saat hendak masuk ke areal candi, petugas meminta kami menggunakan sarung (kain batik), karena kami semua bercelana pendek. Saya suka dengan motif kain batik yang kami pakai. Selama di candi itu kami lebih banyak saling memotret, juga menikmati karya-karya seni era Bandung Bondowoso.

y3

Waktu menaiki tangga salah satu candi, saya jadi ingat pembicaraan beberapa tahun lalu di Candi Borobudur dengan seorang guide.

“Mas, ini dari satu anak tangga ke tangga berikutnya kok tinggi yah?”

“Oh iya, mas. Orang dulu itu besar-besar. Ini tangga didesain sesuai postur orang dulu.”

Setelah satu setengah jam mengelilingi Prambanan, kami kembali ke Jln. Malioboro. Membeli oleh-oleh, makan siang, lalu berpisah dengan Antin dan Riri yang sore itu pulang ke Jakarta. Mereka pribadi yang menyenangkan, baru saya kenal di Dieng. Semoga lain waktu saya bisa jalan-jalan lagi bersama mereka.

Malamnya, kami ngider-ngider di sekitar Malioboro. Selasa (2/9) pagi, kami ke Stasiun Tugu, menunggu kereta tujuan Bandung. Jangan tanya kondisi stasiunnya, kinclong! Perjalanan kami nyaman dan lancar sampai di tujuan. Terima kasih KAI!

2 thoughts on “Lessons from Java

  1. Aku maafkan kok bang, maklum badan kecil keberatan tas ditambah mata sipit lagi ngantuk jadi yagitulah.hehehehe
    Terima kasih juga jadi teman seperjalanan aku dan riri yang super asyik dan aku juga banyak belajar hal baru dari bang Basar dan lainnya. Baca cerita dieng blog aku juga ya bang😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s