Suatu Pagi Bersama Coklat

Ah! Kata-katamu itu bak cambuk yang mencabik kerasnya kepalaku. Kau seperti mentorku itu, abangmu juga yah! Lama aku berpikir bahkan berulang, kuingat semangatmu semalam, “Kita ini takut karena terlalu banyak tahu tapi minim implementasi.” Benar juga, kadang tindakan lebih penting daripada banyak tahu.

cooper

Rabu (24/9) malam, sepulang kerja saya chat dengan Tom. Ia seperti saudara kandung. Meski matanya sipit, bagi saya dia Indonesia.

“Sar, kau ngechat aku yah kemaren?”

“Apa kabar koko?”

“Hahaha. Masih gini-gini aja. Belum berani mengambil keputusan yang ekstrim. Kau gimana komandan?”

“Sama koko. Hahaha. Gawat ini.”

“Jadi gimana komandan? Haha…”

“Kita bertahan dululah. Haha. Kekmana?”

“Saya juga bingung sih.”

“Menurutmu?”

“Bergerak! Harus berani ambil keputusan, gimana?”

“Yah, kayaknya gitu. Aku melangkah untuk berani. Takut kali aku bah!”

Sampai di kamar, obrolan kami berlanjut.

“Hahaha… memang kita ini agak susah ngambil keputusan bahkan nggak jadi karena ketakutan. Takut kehilangan kenyamanan, takut kecewa, basisnya adalah takut.”

“Iya, gan. Tapi kekmanalah. Gini-gini aja kalau nggak dijalani.”

“Padahal, kita diajarin untuk takut kepada Tuhan. Bukan kepada keadaan atau yang lain. Kita ini takut karena terlalu banyak tahu tapi minim implementasi. Terlalu banyak pertimbangan dan nggak jalan akhirnya.”

“Nggak bagus juga banyak tahu ini yah.”

“Mungkin bukan itu sih pesan moralnya. Melatih melakukan apa yang kita tahu sih seharusnya perlu dititikberatkan. Kita ini terlalu banyak tahu dan mikir.”

“Betul. Yaudah, digaslah kalau gitu.”

“Yang penting motivasinya benar, penggeraknya benar.”

Sebelumnya, Selasa (23/9) malam, saya menonton film Maze Runner. Bercerita tentang orang-orang pilihan yang sedang diuji “bertahan hidup” oleh sekelompok peneliti. Satu per satu mereka dikirim ke sebuah hutan yang dikeliling labirin. Setiap yang dikirim kesana akan kesulitan mengingat siapa dirinya.

Mereka yang sudah lebih dulu ‘dijebloskan’ ke hutan, setiap hari berusaha mencari jalan keluar dari labirin itu. Mereka tahu pintu labirin itu akan terbuka setiap pagi dan tertutup menjelang malam. Hanya yang berpredikat ‘pelari’ yang boleh menelusuri labirin itu. Mereka juga tahu ada monster di dalam labirin itu.

Setelah 3 tahun menghafal jalan, tak jua menemukan jalan keluar. Mereka juga takut keluar karena monster-monster pemangsa itu. Mereka menjadi “banyak tahu” tapi tidak berani bertindak. Ada yang putus asa, ada yang masih menaruh harap. Makin lama, sebagian besar dari mereka menjadi nyaman hidup di ‘penjara’ itu.

Sampai akhirnya dua penghuni baru terakhir yang ‘dikirim’ ke hutan itu datang menjadi penyelamat. Keduanya berpikir ada kehidupan di luar labirin itu. Meskipun tahu ada bahaya di depan, mereka memutuskan ‘melawan’.

Namun mereka kesulitan meyakinkan orang-orang yang terlanjur merasa nyaman tinggal disana. Mereka yang rela hidupnya “begitu-begitu saja”. Singkatnya, sebagian orang-orang yang tidak ingin hidupnya “datar-datar saja” berhasil keluar. Mereka menang atas ketakutannya sendiri.

Saya ‘merekam’ dua kalimat dari film yang lumayan panjang dan sering membuat jantung berdegup kencang itu. Kira-kira begini:

“Kau harus menyelesaikan apa yang kau mulai.”

“Harus berani keluar, sampai kapan hidup begini-begini saja.”

Beres nonton ada yang ngasih coklat. Tentu saya senang. Sampai di tempat tidur, mata tak mau terpenjam. Pikiran saya tertuju pada dua kalimat itu.

Sekejab saya bertanya dalam hati, ”Apa tujuanku hidup? Apa pencapaianku? Apa yang membuat aku terlena dalam kenyamanan? Aku tahu banyak hal, tetapi kenapa aku tak mempraktekkannya? Berapa banyak labirin buatanku sendiri yang sering menjebak diriku sendiri.”

Kamis (25/9) pagi, sampai di kantor saya membaca tulisan pendek.

Burung hantu bijak duduk di pohon ek;
Banyak melihat jadi sedikit berkata-kata;
Sedikit berkata jadi banyak mendengar;
Kenapa kita semua tak bisa
seperti burung hantu bijak itu?

– Penulis Tak Dikenal

Sempat pula saya melihat status facebook saudara perempuan saya.

“You never know until you try.” – Meliza Silalahi

Pikiran saya pun melayang pada pesan Tom. Saya mesti belajar mengelola serta mencoba melakukan apa yang saya tahu. Tidak cukup memang kalau hanya sekedar tahu tapi tidak bertindak. Saya tidak mau lagi terbuai dalam pikiran juga kekuatiran saya.

Saya juga perlu melatih diri untuk tidak terlalu banyak omong serta lebih sering mendengar saran orang lain.

Mulai hari ini saya mau lari. Bukan lari dari kenyataan hidup. Berlari memecahkan teka-teki hidup saya. Kalau ketemu monster, mesti dilawan! Saya harus keluar!

Ernest dari Taiwan ke Belanda. Sorta sedang berpetualang di LA. Sebentar lagi Nona Hong ke tanah Inggris. Aku tak perlu sampai kesana. Tapi kalian bertiga tahu apa yang aku maksud.

Pagi ini, coklat itu hampir habis.

2 thoughts on “Suatu Pagi Bersama Coklat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s