Janjiku Kepada Tuhan dan Indonesia

Tahun 1928, Belanda masih berkuasa. Tapi mereka, muda-muda belia itu tak takut! Janji itu pun akhirnya diucapkan. Tanah yang satu. Bangsa yang satu. Dan bahasa yang satu: Indonesia! Tanpa ‘sumpah’ itu, Indonesia jauh dari merdeka. Sekarang, kenapa janji-janjiku lebih banyak omong kosong. Bisa kapan saja kuingkari. Tobatkan aku yah Allahku!

Ingkar yang Menyebalkan

Tahun 90an akhir, tak banyak yang menggunakan HP. Masa itu, untuk berkomunikasi orang lebih banyak memakai telepon rumah, termasuk saya. Sering kali saya mengatur janji lewat telepon rumah, dan saya berusaha menepatinya. Tak ada pikiran menunda atau membatalkan kalau tak ada kejadian yang lebih penting.

Sejak harga HP terjangkau, kebanyakan dari kita memilikinya juga menggunakannya untuk banyak hal. Tidak sekedar kontak-kontakan saja, tetapi juga browsing dan main games!

Saya merasa ada yang berubah sejak itu. Beberapa kali menyusun janji dengan teman atau orang lain, sering tertunda, tak jarang batal. Kalau janji jam 14.00 bisa dibatalkan pukul 13.50. Saya yakin, kalau Anda pun mengalaminya pasti kecewa!

Saya membayangkan, apa jadinya kalau para pemuda yang berkumpul tahun 1928 di Jl. Kramat Raya 106 Jakarta itu akhirnya membatalkan ikrarnya untuk menyatakan bahwa ‘kita satu’? Jauhlah kita dari kemerdekaan 1945.

Ucapan dari Hati Cenderung Digenapi

“Semangat yang selama ini tertidur itu sekarang telah bangun. Inilah yang dinamakan roh Indonesia.” – Moh. Yamin

Janji yang digenapi. Itu kalimat yang saya pakai mengingat Sumpah Pemuda 1928. Pemuda-pemuda yang pada saat itu rata-rata berusia 18-20 tahun itu, tanpa takut, di tengah-tengah ketidakpastian masa depan dan proses menemukan jati diri mereka, justru merasa yakin menyatakan ‘satu bangsa’ demi lepas dari penjajah.

Saya membayangkan proses dan semangat Sumpah Pemuda itu seperti kisah Musa. Awalnya, ia merasa kecil dan tak sanggup menjalankan permintaan Allah, membawa bangsa Israel dari perbudakan Mesir menuju Tanah Perjanjian. Hingga akhirnya ia melakukannya karena kebaikan dan penyertaan Allah. Kemudian dilanjutkan oleh Yosua dan akhirnya sampai. Sama seperti itu saya rasa, dari Sumpah Pemuda menuju Proklamasi 1945.

Ada yang bilang, “Janji, mudah memang mengatakannya. Tapi sulit menepatinya.” Saya punya adik perempuan, satu-satunya, dan paling kecil pula. Setiap jelang ulang tahunnya saya selalu berjanji dalam hati, “Aku mau kasih Lina kado!” Tahun lalu saya berhasil menepati janji. Senangnya bukan main! Saya menepatinya karena sungguh-sungguh mengucapkannya dari hati!

Bayangkan kalau Yesus tak betul-betul dari hati mengatakan jaminan keselamatan pada kita. Ngeri ih! Kita bersyukur punya Tuhan yang gentle.

Belajar Percaya Meski Pernah Ingkar

Meski ayah saya pernah ingkar, tapi untuk raport sekolah saya belajar percaya.

Semasa SMA, ayah saya selalu bilang, “Kalau nilai raportmu bagus, aku kasih penghargaan, per nilai mata pelajaran.” Saya coba belajar percaya, setiap pembagian raport saya laporkan dan saya menerima penghargaan. Menyenangkan!

Saya jadi teringat pula pada masa kampanye Pilpres lalu. Ribuan relawan Jokowi berkarya dengan ide-ide sekreatif mungkin. Jokowi tak membatasi kreativitas mereka. Abang saya bilang, “Sar, Jokowi itu nggak ngawasin karena dia itu ‘trust’ sama relawan-relawan. Makanya jadi tak terbatas yang mereka lakukan, dan, hasilnya optimal bukan?” Kuncinya, belajar percaya.

Moh. Yamin penulis naskah Sumpah Pemuda adalah seorang penyair. Sebelumnya, kata ‘sumpah’ itu ‘ikrar’ sama dengan ‘janji’. Moh. Yamin mengubahnya supaya lebih nendang dan belajar percaya kalau kata-kata itu mampu menimbulkan dampak besar. Dia tak punya niat lain di luar itu. Hasilnya, yang mendengarkan pun tahu apa yang harus dikerjakan. Memperjuangkan kemerdekaan!

Janjiku untuk Tuhan dan Indonesia

sumpah pemudaKami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia.
Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.
Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. – Sumpah Pemuda 1928

Mulai hari ini, saya mau belajar untuk berkata ‘ya’ pada setiap hal yang bisa saya penuhi bahkan saya usahakan. Saya akan berkata ‘tidak’, jika saya tidak bisa memenuhinya. Dan saya akan sungguh-sungguh mengatakannya dari hati.

Lainnya lagi, saya mau belajar percaya pada orang-orang yang pernah mengecewakan saya. Terakhir, saya mau coba menerapkan Sumpah Pemuda di tempat saya berada. Anda pun bisa berjanji dan melakukannya.

“Jika seseorang asal-asalan berjanji dengan mulutnya untuk melakukan sesuatu yang jahat maupun yang baik, dalam semua hal yang asal-asalan diucapkan manusia dengan bersumpah, meskipun tidak disadarinya namun akhirnya diketahuinya, orang itu bersalah.”Imamat 5:4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s