Daddy di TV, Horeee!

Kau tahu? Betapa besarnya keinginanku berkekasih. Itu anugerah! Aku ingin menunjukkan kepada dunia, lebih lagi dari yang sebelumnya, bahwa benarlah yang tertulis, “Berdua jauh lebih baik dan Tuhan itu kasihNya tak terbatas”. Aku membayangkan, setiap hari bangun bersama penolongku. Sebelum ke kantor, lari pagi bersama kedua jagoanku. Sambil bercakap-cakap, satu dari kedua cilik itu bilang, “Dad, kemarin aku lihat daddy di TV. Bangga deh! I love you, dad!” Lalu dikecupnya pipiku. Ah! Senangnya!

Sumber: devi-inspirationofmylife.blogspot.com

Sumber: devi-inspirationofmylife.blogspot.com

Teman-teman saya sering bergurau, “Wanita malang mana yang mendapatkan kau, Sar?”  Mulai hari ini saya akan jawab, “Ahahaha. Bukan yang malang, tapi yang paling beruntung di dunia ini. Karena dia mendapatkan cintanya seorang Basar Daniel.”

Suatu sore, sepulang sharing soal leadership di gereja, saya makan malam dengan abang saya, Tommy, dan Jones. Di sela-sela pembicaraan saat makan, abang saya bilang:

“Sar, nanti calon-calon mertuamu yang nggak jadi itu, dia lihat kau di TV. Dibilangnyalah nanti, “Itu si Basar Daniel yang di TV itu, dulu calon menantuku mestinya. Hebat yah dia sekarang, sudah sukses dan kaya.” Hahahaha. Jadi kau harus makin tekun dan yakin yah, Sar. Ingat, makananmu memang ngomong di podium, tapi sama perempuan perlu terus dilatih yah!” – JS

Saya hanya tertawa, tetapi dalam hati mengamini.

Pernah, leadership training tahun lalu. Waktu itu saya melihat foto-foto saya saat berbagi cerita di kelas. Di sebelah, duduk abang saya. Katanya, “Sar, foto-fotomu itu nanti kau tunjukkin sama calon mertuamu yah. Itu investasi. Biar meyakinkan dan tahu siapa sih Basar Daniel itu sebenarnya.” Saya bersyukur punya abang yang selalu mengingatkan dan mendorong apa yang perlu saya capai.

Saya jadi ingat, pernah suatu kali saya bertandang ke rumah seorang perempuan. Bertemu dengan ibunya. Saya datang naik angkot. Mungkin, karena ia tahu, jadi obrolan kami biasa-biasa saja. Setelah lebih lama ngobrol, ibunya tahu kalau orang tua saya memiliki kebun kelapa sawit, mendadak ia sumbringah bertukar cerita dengan saya.

Waktu itu, sejujurnya, saya sedikit mual. Masakan setelah ia tahu ayah saya pemilik kebun kelapa sawit, seketika akrab!

Tapi saya mengerti sekarang. Orang tua seperti itu baik adanya. Mereka ingin memastikan kalau anak perempuannya menikah dengan saya, paling tidak, ia sedikit lebih tenang. Anaknya tak akan kelaparan. Pasti, ibu saya pun akan bersikap seperti itu pada pacar adik saya yang perempuan.

Saya kepengen lebih jujur. Tiga perempuan pernah dekat dengan saya. Dari relasi yang kami jalin, semuanya berakhir karena saya dianggap tak serius. Memang, saya punya banyak ketakutan.

Coba, siapa yang nggak ketar-ketir sama biaya pernikahan di zaman sekarang. Kalau di Bandung, yah 100-200 juta ludes pasti yah. Di Jakarta? Jangan tanya. Itu salah satu yang saya takuti dulu. Belum lagi, kebetulan perempuan-perempuan yang pernah dekat dengan saya itu semuanya keluarga yang berada. Saya takut!

Suatu kali saya bercakap-cakap dengan Ibu saya.

“Bang, jangan cari yang kaya kali yah, kalau bisa yang sama kayak kita aja.

“Kenapa, mak?”

“Iyalah, yang biasa-biasa aja. Biar bisa ngimbanginnya nanti. Eh, tapi jangan yang terlalu susah juga. Nanti kasihan dia makin susah hidup samamu. Kan uangmu nggak ada. Hahaha.”

“Ahahahaha. Siap, mak!”

Sahabat dekat saya bercerita tentang pernikahannya tahun lalu.

“Sar, tahu nggak. Biaya nikah kami berdua itu kemarin, 3 kali lipat dari budget yang kami rencanakan. Tapi puji Tuhan, semua lancar dan malah nutup lho. Ahahaha.”

“Kok bisa, mas?”

“Iya bisa. Makanya jangan kuatir. Itu bayar gedung kan DP dulu. Habis pesta pas mau bayar, yang punya gedung bilang “Nggak usah dilunasin. Anggep ini hadiah dari om.” Gitu, Sar. Sound system juga, yang lainnya juga.”

“Wah! Asik yah, mas!”

“Iya, jadi jangan takut-takut. Yang penting saling terbuka dan semuanya, kepengennya gimana, dibicarakan dengan kedua keluarga.”

Ah! Saya jadi teringat juga pada sahabat saya di Jambi. Waktu itu, ia hanya memiliki uang 3 juta untuk menikah. Tapi jadi juga, dan saat ini istrinya sedang hamil.

Belakangan, saya sering bilang pada sahabat-sahabat saya, “Kalau ada perempuan yang tanya, abang punya apa dan bisa kasih jaminan apa sama aku? Aku akan bilang, “Aku nggak punya apa-apa, selain cinta dan semangat, dari ujung kaki sampai ujung rambut, dek.””

Beberapa tahun ke depan, dalam waktu yang tidak lama. Saya akan berdiri di TV bersaksi betapa baiknya Tuhan dalam kehidupan saya, bersama istri dan kedua anak saya (kalau dikasih dua yah).

Dia yang ada di dalam hati saya saat ini, setiap hari saya mendoakannya. Saya sedang memperjuangkannya. Sesuai dengan kemampuan dan keyakinan saya. Dia anugerah!

*Oh iya, sebelum lupa. Kalau nanti kedua anak saya itu jatuh, saat mereka bermain. Saya tidak akan langsung menggendongnya. Saya akan membiarkan keduanya merasakan sakitnya jatuh. Supaya nanti mereka lebih hati-hati.

2 thoughts on “Daddy di TV, Horeee!

  1. inspiratif bang….semoga dapet jodoh yang bukan hanya mendampingi, tapi juga melengkapi dan menyempurnakan abang yaaa.amin

    *btw kayanya asik tuh ngebolang ke kebon sawitnya abang,hahaha semoga ada kesempatan nanti ya

    • Makasih lho dibilang inspiratif. Amin! Semoga yang terbaik yah, dek.

      Boleh, ayok aja kalau mau kapan2. Maen sama ular dan harimau kita disana. Ahahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s