Aku Mau Bilang Terima Kasih

Sumber: leadingwithtrust.com

Sumber: leadingwithtrust.com

Bapak tua itu, tanpa sungkan, waktu kami bertemu di gereja, katanya, “Selamat yah! Saya suka sekali dengan tulisan-tulisan Anda.” Aku pun tersenyum dan mengucap terima kasih. Dugaanku, “Sepertinya om ini baru baca tulisanku di warta GKI.”

Besoknya, giliran koster gereja berkata, “Sar, tadi aku ketemu orang di kelurahan, dia seneng banget sama tulisan kamu. Dia puji-puji kamu di depan saya. Sekarang Basar tulisannya dimana-mana, jadi orang pinter.Gitu katanya, Sar.”

Saya jadi ingat. Suatu kali seorang wartawan senior dalam pelatihan menulis berkata, “Dulu, emang zamannya orang-orang luar biasa dan hebat, seperti Soekarno, Hatta, dan yang lainnya ngetop di media. Sekarang, waktunya orang-orang biasa jadi luar biasa. Banyak orang biasa jadi keren sejak mereka menulis.”

Pernah pula, saat saya rajin menulis di blog pribadi, seorang cantik dari Jerman tanpa malu-malu bilang, “I like reading yours!” Oh iya, ada dua perempuan Indonesia lainnya di Jerman yang suka baca tulisan-tulisan saya.

Siapa sih yang tidak senang dipuji karena karyanya berguna bagi orang lain? Saya senang!

Dulu, awal belajar menulis, saya memaksa teman-teman saya membaca tulisan saya. Suka tidak suka, mereka harus baca! Responnya?

“Bagus, Sar! Tapi ini tanda bacanya banyak banget? Hampir setengah halaman A4.”
“Sar, aku ngerti maksudmu. Tapi aku nggak ngerti maksud dari tulisanmu ini.”
“Sar, terusin nulis yah!”
“Sar, tulisan Anda ini bagus sekali. Tapi alurnya jelek. Nanti saya edit, trus kirim ke you yah.”

Mendengar ucapan mereka, banyak sedihnya ketimbang gembiranya. Tapi saya tak mau putus asa. Hampir setiap hari, di kamar kost, waktu itu, di tengah-tengah gelap (karena lampu kamar putus dan saya biarkan selama setahun lebih tak diganti), saya terus menulis.

Kemarin (23/11) malam, seorang teman yang sudah lama tak jumpa berkata, “Bang, aku sering lho baca tulisan-tulisanmu. Menarik dan bikin penasaran. Jadi siapa bang? Ahahaha.”

Ada haru, air mata, semangat, kadang bosan juga belajar menulis. Pernah, sanking bosannya, untuk menentukan topik yang mau ditulis pun saya tak bisa!

Saya pernah bertanya pada teman fotografer.

“Ndru, kenapa sih kau suka moto. Sampai ke mana-mana?”
“Bang, meskipun jepretanku nggak oke-oke banget. Tapi dengan kamera ini aku bisa membuat orang lain tersenyum saat difoto atau waktu lihat fotonya.”

Kalau ada yang tanya kenapa saya suka menulis. Supaya yang membaca tulisan saya punya semangat, tak merasa hidupnya sendirian dengan persoalan yang dia hadapi, dan sama seperti yang teman fotografer saya bilang, tersenyum.

Saya hanya belajar menulis dari hati saya. Terima kasih untuk orang-orang yang menyimpulkan tulisan saya enak dibaca dan berguna. Terpujilah Tuhan!

3 thoughts on “Aku Mau Bilang Terima Kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s