I Have a Dream

Katanya, kharisma itu anugerah dari Tuhan. Betul! Dengan sedikit tambahan. Sebabnya, aku pernah dekat dengan tiga orang yang ‘kharismatis’. Mulai dari kedua opungku yang laki-laki juga mentorku. Biasanya, begitu mereka selesai berbicara, yang mendengar merasa diberkati dan tersemangati.

Kubuka sedikit, kharisma mereka itu juga karena kesungguhan hati mempersiapkan apa yang akan disampaikan.

Opung dari bapak pernah jadi happung (kepala desa/adat). Setiap kali ada acara adat maupun gereja, ia selalu kebagian tugas pidato atau kata sambutan. Ia sering memakai jas warna biru muda, kadang juga baju safari. Setelannya Belanda banget! Hahaha.

Ayah saya pernah bercerita, “Itu opung dolimu itu, dulu, kalau udah ngomong di acara adat, gereja, juga kalau diundang ke acara rumahan, semua yang dengar itu diam. Menikmati, tertegun, tepuk tangan dan semangat hidupnya setelah opung bicara. Itu kharisma opungmu.”

Ibu saya pun tak mau kalah bercerita, “Opung Tampahan, kalau udah jamita (kotbah) di gereja, suaranya terdengar sampai ke seluruh rumah-rumah di Meat (kampung ibu saya). Gitu dia jalan ke altar, diam semua yang duduk. Itulah bapakku.”

Oh iya, Opung Tampahan itu saudara kandung dari ayah ibu saya, yang meninggal saat ibu saya masih belia sekali.

Saya beruntung pernah bercakap-cakap juga mendengar mereka bicara dalam acara keluarga. Saya merasakan betul mereka mengucapkan setiap kata sungguh-sungguh dari hati, mempersiapkan serta memikirkan apa yang terbaik yang akan disampaikan sebelumnya.

Satu lagi, Alm. Bang Kornel M. Sihombing. Tak hanya di kelas leadership training! Acara persekutuan, seminar, talk show, dan semacamnya. Kalau dia sudah mulai bicara, semua terpanah. Mengambil posisi paling enak, memfokuskan kuping dan matanya ke Bang Onye. Tak jarang ia diminta sharing kembali untuk kesempatan berikutnya oleh para pengundang.

Sahabat-sahabat dekat Bang Onye pernah bilang, “Itu Bang Onye, kalau udah ngomong. Apalagi soal leadership, diam semua! Terpesona. Kharismanya itu memang yah.” Yah! Saya mengiyakannya karena pernah beberapa kali di kelas mendengarnya ‘mendendangkan’ kebaikan dan kebesaran Tuhan.

Saya jadi ingat yang Bang Onye katakan, “Kalau kita diminta bicara di suatu acara, kalau mendadak, mending kita tolak. Karena kita butuh waktu untuk menyiapkan materi. Supaya optimal hasilnya.”

Tiga orator. Bersyukur pernah dekat dengan hidup mereka.

Omong-omong orator, saya jadi membayangkan betapa bahagianya orang-orang yang dekat dengan hidup Martin Luther King, Jr dulu.

Saya ingat judul pidatonya I Have a Dream. Dan saya punya mimpi, melanjutkan peran tiga orator itu.

Terakhir, kisi-kisi, dua minggu lalu saya sharing di kelas leadership, ada seorang peserta yang menuliskan, “Bang Basar lucu bikin ketawa aja.” di form evaluasi.

Terima kasih! I still have a dream!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s