Doraemon Was a Love Story

2e9f9e6668e1611e0185433dd9217429Banyak yang bilang, “Film Stand By Me Doraemon nggak terlalu bagus. Di luar ekspektasi.” Bagiku lain, Senin (15/12) malam aku menontonnya. Kata aku sih filmnya lucu sekaligus dalem. Dari awal sampai penghujung film aku tertawa. Yang disebelahku pun begitu. Satu yang aku tangkap, kita tidak akan pernah bersedia mengijinkan orang yang dekat dan berjasa dalam hidup kita pergi jauh begitu saja. Apalagi kalau selucu dan sesabar Doraemon!

Begitu tahu Stand By Me Doraemon (SBMD) sudah tayang di Blitz, ingatan saya langsung melayang pada masa remaja. Setiap kali menonton serial Doraemon, selalu saja ibu saya mengganggu. Lagi asyik-asyiknya tertawa, dari dapur terdengar suara, “Bang! Cuci piring! Nanti sore jangan lupa nyapu halaman yah!” Seketika khusyuknya ritual bersama Doraemon sirna.

Tapi entah kenapa, setiap kali ibu saya ngomel-ngomel dari dapur, mata saya memilih kekeuh menikmati sajian akrabnya Doraemon dengan Nobita. Giant nakal yang selalu ditemani Suneo. Juga cantiknya Shizuka sampai selesai.

Oh iya, mantan saya pernah memanggil saya, “Giant!”. Bukan karena lucunya Giant, tapi karena bandelnya saya.

Senin siang saya berhasil mendapatkan tiket SBMD. Senangnya! Apalagi ada yang menemani. Sorenya langsung tancap gas ke PVJ. Sampai disana, ramai sekali! “Non, ini kayaknya yang mau nonton Doraemon semua yah.” Kata saya padanya.

Film SBMD pun dimulai. Dikisahkan asal-usul datangnya Doraemon, kenapa dia disuruh menemani Nobita, sok-sokannya Giant, isengnya Suneo, tak lupa mantapnya Shizuka yang akhirnya memilih Nobita menjadi kekasihnya. Katanya pada Nobita, “Kamu nggak bisa hidup sendiri. Butuh ada yang menemani. Aku bersedia untuk itu.” Kira-kira begitu kata Shizuka menjawab cintanya Nobita.

Nobita digambarkan sebagai cowo yang melow, garing, dan selalu grogi setiap kali bertemu Shizuka. Sampai-sampai Shizuka bilang, “You’re acting like a child.“

Dalam kehidupan nyata pun demikian adanya. Laki-laki pemilik kharisma di atas podium mendadak jadi macan ompong saat bertemu wanita yang dikasihinya.

Banyak adegan garing yang dilakukan Nobita di depan Shizuka. Sesekali Nobita menjadi putus asa, sampai berkata, “She’s better off without me.” Pada Doraemon.

Doraemon setia menemani Nobita kemana pun pergi dan apapun permintaannya dipenuhi. Mulai dari pintu masa depan, baling-baling bambu, formula untuk pelupa dan pembohong, dan yang lainnya. Setiap hari Doeramon menjadi saksi prilaku Nobita.

Di mata Doraemon, Nobita itu pemalas, penakut, suka telat ke sekolah, mudah menyerah, dan tak bisa hidup mengurusi dirinya sendiri dengan baik. Tapi karena itu pula Doraemon ditugaskan menemani dan mendorongnya berubah perlahan.

Doraemon akhirnya berhasil menyemangati Nobita. Dari yang biasanya terlambat, menjadi lebih dulu sampai di sekolah (meskipun lewat pintu ajaib), berani melawan Giant, rajin bersih-bersih di rumah, dan pede ngedeketin Shizuka dengan jantan.

Saya jadi ingat pada para ‘Doraemon’ saya. Mulai dari ayah dan ibu juga adik-adik, Alm. Kornel M. Sihombing, Jeffrey Samosir, Albertus Patty, Maruli Nababan, Santi Wibowo, Rudy Hermawan, Bistok Diel Lelono, Warner Sidabutar, Immanuel Kelik, Maria Christi, dan nama lain yang tak bisa saya sebutkan.

Meski tak persis seperti Nobita, saya punya banyak kelemahan. Berkat bantuan para Doraemon itu saya perlahan belajar menjadi pria ‘dewasa’. Susah payah dan sabar hati mereka mendorong pendewasaan pikiran dan prilaku saya.

Kembali pada cerita Doraemon. Setelah Nobita mulai belajar dewasa, Doraemon harus kembali pada bos yang menyuruhnya. Tugasnya sudah selesai. Katanya pada Nobita, “I can’t stay any more.”

Seketika Nobita menangis seperti anak kecil. Memohon agar Doraemon tak pergi Tapi Doraemon tak kuasa, karena ia diprogram oleh bosnya. Nobita pun diam seribu bahasa. Pergi menjauh dari Doraemon.

Di jalan ia bertemu Giant lalu ia teringat kata-kata Doraemon, “Kamu nggak berani lawan Giant! Kamu nggak bisa hidup sendiri!” Disampernya Giant,  mereka pun berkelahi.

Meski sampai kacamatanya patah dan mukanya babak belur, Nobita akhirnya menang. Dia ingin membuktikan bahwa ia bisa hidup sendiri dan menjadi pemberani dengan melawan Giant pada Doraemon.

Singkatnya, Doraemon pun pergi. Sejak kepergiannya, Nobita mengingat masa-masa indah mereka sambil sesenggukan. Memang yah, something taken for granted was something very precious. Sama seperti kita, kadang kita baru sadar betapa berharganya seseorang dalam hidup kita setelah mereka pergi dan saat kita mengingat kembali kenangan bersama mereka.

Saya sempat cerita sebelum nonton Doraemon pada seorang teman, “Kita kalau di rumah kan punya panggilan rumah tuh. Si buncitlah, si kritinglah, dan sebagainya. Nah, waktu kita merantau, kita kan berpisah dengan mereka. Kita jadi sangat merindukan panggilan-panggilan itu di rumah. Itu hal sepele tapi sangat berharga yah.”

Doraemon was a love story

Saya punya Doraemon. Anda pun  punya Doraemon. Saya sering lupa berterima kasih kepada mereka, yang selalu membantu setiap kali ada persoalan yang menimpa saya. SBMD mengingatkan saya bagaimana caranya berterima kasih dan terus bertumbuh. Satu lagi, Nobita mengajarkan bagaimana ‘mempertahankan’ seseorang yang begitu berarti dalam hidup kita.

Betulah memang, SBMD itu tentang cinta. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s