Bercinta Gaya Eros Berakhir Agape

Sumber: mdk16.wordpress.com

Sumber: mdk16.wordpress.com

Tidak ada salahnya saya mencintai seseorang karena bibirnya yang tipis atau hidungnya yang mancung. Bahkan! Meskipun saya tertarik karena badannya yang aduhai. Sah saja! Bukan dosa! Tapi, tak cukup memang hanya itu. Saya juga mesti belajar bercinta gaya Philia sekaligus Agape. Karena itu semua kasih yang Tuhan titipkan.

Jumat (10/1) malam, saya bertemu bapak angkat saya di halaman gereja. Kami bertukar cerita soal “bagaimana mencintai”.

Berawal dari perkataan saya, “Pak, aku sedikit kurang suka kalau cewe itu suka samaku karena aku penulis, aktif pelayanan di gereja, wawasannya luas, bekerja, dan satu lagi, punya banyak teman. Kalau itu semua hilang dari hidupku, apa dia nanti akan tetap mencintaiku?”

“Begini, Sar. Kamu tidak boleh menyalahkan orang lain yang suka sama kamu karena kamu nulisnya keren atau yang lainnya. Karena itu suatu keistimewaan yang diberikan Tuhan, dan kamu harus menjaga titipan Tuhan itu sekaligus mengembangkannya, sehingga terus bermanfaat bagi banyak orang. Nah, kamu bisa bayangkan ndak, kalau cewe yang suka sama kamu itu nanti cerita sama temen-temennya,”Itu si abang itu jago nulis lho, trus dia itu rajin pelayanan. Ah! Senangnya punya pacar seperti dia!” Itu kebanggaan dia. Dan ingat, ketertarikan kita pada lawan jenis itu dimulai dari cinta Eros.” Balasnya.

Karena penasaran saya tanya lagi, “T’rus Eros gimana pak? Bukannya dalam berelasi kita sebaiknya mengupayakan cinta Agape? Eros itu jauh lebih rendah dari Agape bukan?”

“Kamu mungkin nggak mencintai seseorang langsung karena karakternya? Tahu dari mana karakternya baik kalau kamu nggak tertarik sama fisiknya. Kamu pasti sudah duluan males ngobrol. Jadi biasanya, orang suka itu, tahap pertamanya selalu karena fisiknya. Suka matanya, rambutnya, atau yang lainnya. Baru setelah itu kita tertarik untuk berkomunikasi. Melanjutkan arah selanjutnya. Menuju kasih Philia.” Paparnya.

Saya makin penasaran, “Terusin, pak.”

“Eros itu permulaannya. Ada cinta yang lebih ‘kaya’ lagi. Setelah penjajakan, saling mengenal, tentunya kamu kepengen jadi pacarnya, begitu pula dia. Nah, itu yang disebut cinta Philia. Bagaimana kalian saling mengasihi dalam ikatan. Kalau kamu sudah jadi pacarnya, kamu nggak boleh pacaran sama yang lain.”

Lebih lanjut, katanya, “Jadi ada komitmen. Itu juga termasuk seperti tahap tunangan dan lamaran. Philia itu juga seperti kasih sahabat. Kalau kamu bilang, “Dia sahabatku.” Orang itu mesti kamu perlakukan seperti sahabatmu. Seperti saya ini, selama kamu menganggap aku pendetamu, selama itu pula saya akan tetap melayani kamu. Itulah ikatan. Kalau sama pacar, kamu mesti belajar memprioritaskan dia, menolong dia kalau butuh bantuan, dan semacamnya. Karena kalian komitmen.”

“Iya juga yah, pak. Terusin lagi, pak. Saya butuh belajar banyak soal beginian.” Tantang saya.

“Jadi kamu sudah bisa bayangkan dari mulai Eros berkembang ke Philia yah. Setelah itu ada lagi. Kasih Agape. Ini kasih yang tak bersyarat sekaligus tak terbatas. Seperti kasih Tuhan pada kita. Masuk dalam pernikahan, istrimu itu kamu sadari adalah ciptaan yang sangat dikasihi Tuhan, dan karena kamu punya pengertian dia itu disayang Tuhan, maka kamu pun mesti belajar mencintai dia seperti Tuhan mengasihinya.” Jawabnya.

Dalam hati saya, “Yah, ampuuun… Kemana aja aku selama ini.” Makin penasaran, “Terusin lagi, pak. Sampai selesai.” Ujar saya.

“Nah, begini. Kasih Agape itu, kita hanya bisa ‘memantulkan’ besarnya cinta Tuhan itu kepada orang yang kita cintai, dalam hal ini, pasangan hidup kamu. Kita tidak bisa langsung memancarkan kasih Agape itu, karena yang punya itu hanya Tuhan, tetapi Dia memberi kita kekuatan untuk memantulkannya.”

Lanjutnya, “Ada banyak kejadian dalam rumah tangga yang sebenarnya tak bisa kita lalui, tapi karena Allah punya kasih itu dan dipantulkan lewat kita, dengan itu kita bisa belajar mempraktekkan kasih Agape itu pada pasangan kita. Kalau bersyarat atau terbatas, cerai ngampang, marah-marah mudah sekali.” Katanya.

“Jadi mana kasih yang paling besar pak?” Tanya saya.

“Ketiga kasih itu punya peran dan ada dalam kehidupan kita. Hanya memang, kita saja yang sering membedakan tahapannya dan mana yang paling besar. Oh iya, meskipun Agape itu ada, tapi Eros dan Philia mesti juga dijaga yah. Pacar atau istrimu kan mesti tetap perlu berdandan, supaya kamu tetap punya keinginan merayu, romantislah! Begitu pula dengan ikatan, harus setia. Kalau ndak, yah nanti mudah bosan dan menimbulkan banyak problem.” Tutupnya.

Sepulang dari gereja saya merasa bersalah. Bahwa kasih Allah yang terbesar, itu betul. Tapi cinta Eros dan Philia tak boleh dianggap lebih rendah atau ‘didosakan’ maknanya. Dan seperti pesannya pada saya, “Kamu mesti terima kalau orang suka sama kamu karena wawasanmu luas, suka bercanda, jago nulis, mau bekerja, dan semacamnya. Dan kamu mesti jaga itu sekaligus dikembangkan.”

Yah! Saya mau belajar! Terima kasih, pak!

2 thoughts on “Bercinta Gaya Eros Berakhir Agape

  1. ohhh aku baru tau juga bang ada tahapan dan perbedaannya, sampai aku googling juga.hehehe
    diawali eros, diakhiri agape dan semoga disempurnakan dengan storge🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s