He Can Move The Mountains

“….Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana,  —  maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” – Matius 17: 20

Sumber: beechwoodcross.blogspot.com

Sumber: beechwoodcross.blogspotcom

Suatu siang, setahun yang lalu, saya bercakap-cakap dengan OB di kantor.

“Mas, kamu belajar administrasi yah.”

“Waduh! Mas, aku takut. Itu kan kerjaannya susah. Aku ini tamatan SMA, mas.”

“Lho, t’rus kenapa kalau kamu tamat SMA?”

“Yah, gimana, mas. Aku nggak pernah belajar administrasi.”

“Yah, kan bisa belajar. Kamu mau jadi OB terus? Aku mau kamu naik kelas.”

“Aduh, mas… Gimana nanti kalau aku nggak bisa?”

“Coba dulu. Kamu nanti kursus administrasi dulu yah.”

“Yaudah, mas. Aku coba.”

Setelah percakapan itu, beberapa hari kemudian ia mendaftar kursus administrasi perkantoran. Saya tahu ia ketakutan. Ia berpikir kalau dia tidak akan mampu, padahal ia belum melakukannya.

Saya masih ingat betul bagaimana raut wajahnya sejak ia mengambil les itu. Mukanya kusut, matanya seperti kurang tidur. Tapi saya toh tak peduli, saya diamkan saja.

Sampai akhirnya ia menyelesaikan kursusnya. Kami pun bercakap-cakap.

“Mas, udah beres yah? Gimana rasanya?”

“Yah, pelan-pelan jadi ngerti mas. Buat surat, laporan keuangan, dan yang lainnya.”

“Bagus kalau gitu. Dapet sertifikat kan, yah?”

“Iya, mas. Ini sertifikatnya.”

“Wah! Mantap! Mulai besok siap yah langsung duduk di meja admin.”

“Aduh! Tapi bantuin yah.”

“Kalau bantuin liat nanti yah. Ahahaha.”

Berhasil! Ia pun duduk di kursi admin. Saya tahu, dengan susah payah ia melawan kenyamanan sekaligus ketakutannya untuk maju. Sepertinya, setiap malam sebelum tidur, ia berdoa memohon Tuhan menyertainya. Seperti memindahkan gunung!

“Lebih dulu berpikir “tidak sanggup” padahal belum melakukan”. Itu yang membuat kita sering tak bersedia menaikkan kelas kita. Baik itu kelas mental, sosial, pekerjaan, dan yang lainnya. Kita sering kalah sebelum perang!

Beriman sambil melakukan. Kita mesti memulainya. Kita perlu berpikir memang. Tetapi kita tidak boleh lupa, berpikir kadang membuat kita kaku sekaligus mengerdilkan diri kita sendiri.

Ini cerita lain. Ayah saya menderita penyakit di otak. Saraf kelimanya bersentuhan dengan pembuluh darah. Sejak divonis sakit, ia mesti meminum obat 11 butir setiap hari. Kalau kambuh, tak bisa ‘ngomong’. Sementara, mentalnya semakin rapuh, tetapi ia terus berdoa kepada Tuhan yang mampu menyembuhkannya. Ia pernah berpikir untuk bunuh diri.

Sudah beberapa kali bolak-balik ke rumah sakit, bahkan waktu itu sempat ke pengobatan alternatif. Saya tidak tahu seberapa bosannya ia harus berhadapan dengan petugas medis dan menghirup ‘bau’ rumah sakit.

Suatu siang, pertengahan tahun tahun 2011, ayah saya menelepon meminta mencarikan sinshe atau dokter saraf, karena sudah tidak tahan setiap pagi menahan nyeri, pipinya sebelah seperti kena bor, dan nyentrum kalau dipegang. Sedikit saja kena AC, kambuh!

Seisi rumah kami gelap selama 6 tahun lebih. Ia semakin kurus, makanpun tak bisa banyak, karena mulutnya sangat sakit kalau digerakkan. Ibu dan adik-adik saya hanya bisa berdoa berteman air mata. Pilihannya, dia akan dipanggil karena ‘ngobat’ atau dia akan sehat dengan ‘sentuhan’ Tuhan.

Sambil menangis, saya pun mencari berbagai informasi mengenai dokter yang mampu mengobati ayah saya. Dalam hati saya, dengan keyakinan setengah percaya setengah tidak, selama mencari pengobatan, “Tuhan, Kau lebih besar dari apa pun!”

Dahsyat! Tak lama, saya menemukan dokter yang tepat di Surabaya, dan ayah saya pun dioperasi. Kepalanya di bor, dipisahkan sarafnya, menjauh dari pembuluh darah. Saya melihat otak bagian dalamnya, ada yang berdenyut-denyut. Dan saya melihat sendiri Tuhan mengambil penyakit ayah saya melalui dokter itu. Ayah saya sembuh! Imannya menyelamatkan dirinya sendiri.

Ah, ada banyak cerita seperti itu. Tapi kita juga tidak boleh lupa, seberapa banyak cerita ketakutan kita yang membuat kita ‘cupu’.

Beriman. Tak hanya soal doa. Tapi bagaimana melakukannya juga. He can move the mountains!

Sumber: impossiblehq.com

Sumber: impossiblehq.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s