Cintaku, Rumahku Sekolahku

rumah-jambiJangan kau larang aku untuk pulang ke rumahku! Aku selalu merindukan kamar masa kecilku, apalagi mereka yang selalu ada buatku. Yah! “Datanglah ke gubuk kecil kami.” Itu bahasa ibuku. Di rumahku, semua yang aku makan enak rasanya, jauh melebihi nikmatnya masakan di restoran mana pun. Ayah, ibu, dan adik-adikku, mereka, yah! Mereka selalu ada untukku. Seperti sejoli, kadang kami berkelahi, kadang kami berpelukkan.

Akhir tahun 2014 lalu, saya pulang ke Jambi. Ke rumah orang tua saya. Demi berjumpa dengan mereka, niat baik untuk menabung saya batalkan. Bahkan saya seperti orang yang kerasukan demi bertemu mereka. Pribadi-pribadi unik dan spesial yang selalu ingin tahu juga peduli atas apa saja yang saya lakukan dalam kehidupan saya sehari-hari. Ah! Tuhan! Tanpa mereka apa jadinya aku!

Sampai di Jambi, Guntar, adik saya yang nomer tiga menjemput. Dengan senyumnya yang ceria, ia menyambut dan memeluk saya. Di jalan, karena kangennya pada saya, ia langsung bercerita dan kami pun bercakap-cakap seru.

“Bang, kok kau tetap hitam yah. Hahaha. Oh iya, sekarang aku sama mamak buka jasa rangkai bunga dan jual melati. Aku juga udah punya tabungan lho, bang. Ahahaha.”

“Makkkk! Keren kali yah!  Baik kali Tuhan itu sama kalian. Oh iya, mamak masak apa di rumah?”

“Masak arsiklah. Kan kau pulang. Ahahaha.”

“Wah! Agak cepat kalau gitu, kebut sikitlah. Ahahaha.”

Sampai di rumah, ayah, ibu, dan adik saya yang perempuan sudah menunggu. Begitu sampai di depan pintu rumah, saya langsung mengejar dan memeluk mereka, satu-persatu! Kami pun melepas rindu dengan bertukar cerita sambil menikmati buah tangan yang saya bawa dari Bandung.

Setelah itu, tanpa basa-basi saya langsung ke dapur. Ikan mas arsik lengkap dengan sayur dan nasi sudah tersedia. Langsung tancap gaslah anak mudanya, boy! Ahahaha.

Biasanya, saya termasuk yang cepat dalam mengunyah makanan. Tapi kali itu saya memilih pelan-pelan. Saya menikmati rasa sambil membayangkan bagaimana perjuangan ibu saya yang terkasih itu memasaknya. Bangun pagi-pagi sekali. Membersihkan ikan sembari menahan kantuk. Menyiapkan bumbu sambil melawan dinginnya pagi. Memasaknya demi anak kesayangannya. Air mata saya pun menetes, betapa baiknya keluarga ini pada saya. Yah, baik sekali!

Selama dua minggu di Jambi. Kami sarapan pagi bersama. Siangnya, kadang saya menemani adik saya memetik melati, kadang tidur siang. Sorenya kami jalan-jalan sambil cari-cari mie pangsit atau durian, malamnya menonton TV bersama.

Saya jadi ingat percakapan singkat sewaktu menemani adik saya memetik melati.

“Dek, ini perawatannya gimana?”

“Tiga hari sekali disemprot bang. T’rus dipupuk juga. Tiap hari harus dipetik, bang.”

“Oh gitu yah. Nah, kalau metiknya mesti siang jam satuan gini yah?”

“Iya, kan kalau siang gini kelihatan mana yang harus dipetik dan mana yang belum bisa. Kalau kesorean, bunganya mekar.”

“Wah, udah ahli kau yah soal bunga melati. Ahahaha. Inilah yah baiknya Tuhan itu samamu. Tinggal petik! Hebat! Jangan lupa bersyukur yah, dek.”

“Iya, bang. Baik nian Tuhan itu sama kita yah.”

Percakapanpun saya hentikan seketika. Menahan haru. Setiap pagi adik saya ke kebun melati itu, membersihkannya. Siangnya memetik. Sore harinya ia mengantarkan kepada yang memesan. Hampir begitu setiap hari. Apa yang dikerjakannya diberkati Tuhan.

Saya jadi belajar, apa yang saya impikan, tanpa usaha, semuanya akan sia-sia. Bahkan Tuhan pun mungkin malas mendengar doa saya ketika saya tidak sungguh-sungguh mengerjakan apa yang ingin saya wujudkan. Terima kasih, dek!

kebun-melati

Oh iya, saya juga ingat. Adik saya yang paling kecil, Lina, punya anjing. Namanya Moise. Seperti biasa, nama peliharaan lebih keren dari nama majikannya. Setiap hari Moise harus diberi makan. Bapak dan adik-adik saya sering bermain-main dengannya. Kadang mereka mengajak Moise ngobrol. Ahahaha! Aneh yah, anjing pun diajak bicara. Sudah ‘gila’ mereka. Ahahaha.

Bermain playstation juga menjadi kegiatan rutin saya selama liburan di Jambi, bersama adik saya yang nomer dua. Kami lebih banyak ketawanya ketimbang main. Ahaha! Yah, adik saya itu namanya Budi. Saya belajar darinya bagaimana bekerja dengan tekun dan berintegritas. Beberapa kali di tempat kerjanya, ia harus ‘berkelahi’ dengan orang-orang yang punya niat jahat terhadap perusahaan.

Nah, yang satu ini pun tak boleh ketinggalan. Adik saya yang pertama, Kiki. Wajahnya ganteng, jauhlah dari muka saya. Kami memang jarang bicara, karena pekerjaannya yang padat pada akhir tahun. Tapi saya suka sekali dengan canda-candannya dan pesannya saat saya hendak pulang ke Bandung.

Kalau soal ayah dan ibu saya, jangan ditanya. Setiap hari kami bertukar ide dan pendapat. Sejoli yang romantis. Itu julukan mereka berdua. Tapi lucu yah kalau melihat orang tua kita sedang ‘berantem’. Malamnya, segimana pun amarah mereka, tetap saja tidur berdua. Ahahaha.

Yah, rumah kami yang kecil menjadi sangat besar karena kasih sayang para penghuninya. Saya pasti kembali kesana lagi.

Terakhir, supaya tidak banyak yang bertanya dan berasumsi. Pada malam tahun baru, tidak ada tuntutan supaya saya menikah secepatnya, dan bahkan tidak untuk tahun ini. Semuanya terserah saya, siapa dan kapannya. Tidak mesti Batak. Kata ibu saya, “Kita ini memang Batak, tapi kita ini keluarga Batak yang terbuka dan moderat.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s