Aku Batak Moderat

aku batak

Katanya orang Batak itu kalau ngomong suaranya keras. Mukanya petak-petak, makannya banyak, suka berkelahi dan yang lainnya. Aku tidak percaya soal itu, karena aku Batak. Yang cantik-cantik banyak, yang makannya sedikit ada, yang ngomongnya lemah lembut berserak. Batak itu tidak otomatis seram. Jujur dan tulus iya. Tak sekolot manusia zaman megalitikum. Satu lagi, soal adat Batak. Tidak rumit, ribet, dan mahal. Kalau nggak percaya, ayo kita ke pesta Batak. Ada nilai hidup disana.

Saya pernah bercakap-cakap dengan seorang teman perempuan, Batak.

“Eh, kau malu nggak kalau taruh margamu di account facebookmu?”
“Nggak dong, aku taruh kok. Tuh liat (sambil menunjukkan). Kenapa gitu?”
“Yah, aku bertanya-tanya aja. Kok masih ada yang nggak mau cantumin marganya yah?”
“Hmmm… Aneh juga yah. Bukannya kita mestinya bangga jadi orang Batak?”
“Iya, kita harusnya bangga.”

Sewaktu SMA, saya sering diminta mengantarkan ayah dan ibu saya ke arisan marga. Saya sering menolak bahkan protes.

“Kenapa sih, mak, ke arisan. Itu kan kerjaannya gosip-gosip aja.”
“Lho, bukan gosip-gosip itu, nakku. Itu kan kita kumpul-kumpul sebagai saudara. Di arisan itu mamak bertukar cerita dengan tantemu, kakakmu, dan yang lainnya.”
“Nah itu kan gosip?”
“Beda lho, bang. Misalnya yah, mamak cerita, si Basar kami sering pulang malam, gimana yah caranya supaya dia nggak sering pulang malam? Nah, mereka itu kasih saran gimana supaya mamak bisa kasih nasehat yang baik, yang bisa kau terima, tanpa marah-marah.”
“Oh, gitu ya. Iyalah mak.”

Sejak itu saya tidak lagi mau protes. Karena arisan itu bukan soal kakunya atau tajamnya gosip orang-orang Batak. Tapi mereka berkumpul untuk saling berbagi cerita, saling menguatkan, dan mendukung di dalam doa dan persaudaraan.

Soal adat. Saya juga pernah protes!

“Pak, kenapa sih mesti pake acara tortor kalau kawin? Kan itu boros.”
“Hmmm…. Gini, bang. Kalau misalnya nanti abang nikah, itu kan kegembiraan yah. Nah sebagai ekspresinya, kita kan girang, menari itu salah satunya.”
“T’rus?”
“Kalau abang nikah, itu nanti keluarga besar kita mendukung. Dengan hadir, mendoakan, memberikan ulos sambil menari. Mulai dari tulang, bapatua, uda, namboru, dan yang lainnya itu memberikan ulos sebagai simbol kasih sayang dan mendukungmu memasuki keluarga dan kehidupan yang baru.”
“Hmm… Tapi kan itu nggak gratis, biaya tiket mereka? Beli ulosnya?”
“Nah, ini yang keliru. Mereka itu datang dengan dasar niat baik. Mendukung pernikahanmu. Mereka senang kau menikah. Kita mengundang mereka untuk hadir. Kalau mereka datang, tidak mesti kita harus ganti ongkosnya. Tapi gini, kan karena ini dalam suasana sukacita, kita senang mereka datang dan peduli, yah kalau kita punya dan mampu, kita berikan tanda terima kasih. Tidak mesti uang.”
“T’rus”
“Intinya, adat Batak itu bukan sesuatu yang harus dihindari, tapi bagaimana kita menerapkannya dalam kehidupan kita sesuai esensinya. Bukan seperti yang kebanyakan abang dengar. Seperti, cerita tentang uangnya dan rumitnya. Padahal ndak seperti itu.”
“Ok, pak. Jadi kalau tulang nanti datang dan membantu pernikahanku, itu karena sayangnya yah. Bukan karena ada uangnya. Dan ulos itu hanya simbol aja kan yah.”
“Nah, itu yang betul.”

Menjadi Batak adalah kegembiraan. Menjadi Batak tak harus keras dan kaku seperti tembok.

Ah! Sudahlah! Aku Batak! Ahahahahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s