Rahasia Hidup Jeffrey Samosir

jsSeperti pohon berbuat lebat di tepi sungai yang deras. Seperti itulah aku mengibaratkan dia. Pribadi yang gentle sekaligus rendah hati. Dia mirip sekali dengan mentorku yang sudah pergi lebih dulu. Mereka duet yang ‘berbahaya’. Kusematkan yang tertulis ini meskipun aku bukan pendeta padanya, “Cerdik seperti ular, tulus seperti merpati.” Itulah penghargaan dari hatiku untuknya. Jeffrey Samosir!

“I’m not giving up on you!” Kira-kira seperti itu yang Alm. Kornel M. Sihombing dan Jeffrey Samosir katakan serta lakukan pada saya. Padahal, sebelumnya, tiga pendeta sudah tak berhasil ‘bernegosiasi’ dengan saya. Saya jadi berpikir, “Beruntung juga bandel. Kalau nggak, mana aku bisa belajar dari duo mentor itu.” Yah, Jeffrey Samosir itu tandem Alm. Bang Onye. Dua pribadi yang getol berupaya, dengan apapun caranya dan resikonya mengembangkan potensi anak-anak muda.

Sebentar, saya belum mau bilang selamat ulang tahun. Saya mau nekat kali ini. Membuka sedikit, kalau pun berakibat fatal, paling-paling dipanggil. Tapi, seperti kata anak-anak remaja, “Ah! Bodoh amat!” Hahaha.

Jeffrey Samosir, dikenal sebagai pribadi yang sangat baik. Selalu bersedia membantu orang-orang yang sedang kesulitan. Ia ‘piawai’ dalam memberi nasehat dan tantangan kepada mereka yang membutuhkan semangat juga keyakinan baru dalam menghadapi persoalan hidup.

Dari dia, saya belajar bagaimana menghargai serta menjalin persahabatan dengan saudara-saudari yang berbeda keyakinan. Ia ayah yang baik bagi keluarga. Pelayan yang rendah hati. Tapi kalau sudah marah, hati-hati aja. Ahahaha.

Banggas itu nama tengahnya. Tidak banyak yang tahu bagaimana ia membangun dan mengembangkan panggilannya sebagai “profesional muda”. Saya termasuk yang “tidak beruntung” tahu beberapa ceritanya. Kalau ada pepatah, “Ketekunan melahirkan keberhasilan.” Itulah Jeffrey Samosir.

Pernah membayangkan Jeffrey Samosir makan satu nasi bungkus berdua dengan teman kerjanya? Pernah pula ia kurang tidur sampai tiga hari demi menyelesaikan pekerjaannya. Yang lainnya, kalau penasaran, silahkan tanya sendiri.

Yah, itulah sedikit rahasia Jeffrey Samosir.

Satu kejadian yang tidak bisa saya lupa kalau mengingat Jeffrey Samosir. Tahun 2006 yang lalu, dari ruang konsistori saya pergi meninggalkan seorang pendeta karena saya kesal dibuatnya.

Begitu saya turun tangga, Jeffrey Samosir mengejar saya. Ia ingin memastikan bahwa orang seberdosa apapun disayang Tuhan. Dan benarlah, tanpa pelukan memang. Ada air mata yang menetes di bawah pohon dekat pos satpam itu. Yah, tetesan air mata dan wajah yang tulus itu meyakinkan saya, bahwa Tuhan mencintai saya. Dari situ saya berlari menemukan masa depan saya.

Ah! Entah kenapa saya selalu tak berhasil menuliskan dengan baik setiap kali menceritakan kisah Jeffrey Samosir juga si pahlawan dirgantara itu.

Selamat bertambah usia abangku, Jeffrey Samosir! Biar kusimpan doaku untukmu dalam hatiku saja. Karena ini terlalu berharga. PTL!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s