Kutulis Karena Kau Ribka

ribka

“Kemudian berlarilah hamba itu mendapatkannya serta berkata: “Tolong beri aku minum air sedikit dari buyungmu itu.” Jawabnya: “Minumlah, tuan,” maka segeralah diturunkannya buyungnya itu ke tangannya, serta diberinya dia minum. Setelah ia selesai memberi hamba itu minum, berkatalah ia: “Baiklah untuk unta-untamu juga kutimba air, sampai semuanya puas minum.””

– Kejadian 24: 18-19

Aku pernah bertemu perempuan seperti Ribka. Yah! Dia ibuku dan beberapa wanita lainnya. Mungkin aku pernah melewatkannya satu kali atau bahkan berkali-kali. Tapi, aku suka dengan kebaikan para wanita itu. Jiwaku memuji-muji Tuhan dibuatnya. Aku takjub! Atas kelemahlembutan mereka!

Awal tahun kemarin, suatu malam, saya iseng membuka Alkitab, bagian dari cerita Ishak bertemu dengan Ribka. Sekali tatap, mereka langsung menikah! Keren juga. Mirip perjodohan yah. Tak ada kesempatan memilih.

Karena penasaran, saya pun membaca dari ayat-ayat sebelumnya. Ternyata Abraham meminta kepada pelayannya pergi mencarikan seorang gadis untuk diperistri Ishak. Dengan beberapa syarat. Tetapi tanpa memberitahu siapa namanya. Ibarat pergi tanpa tujuan yang jelas, itulah yang dirasakan sekaligus dilakukan si pelayan tersebut.

Sebelum pergi, si pelayan tersebut dititipkan unta dan segala perhiasan untuk calon istrinya Ishak itu, kalau bertemu. Kalau tidak, pulang dengan kemungkinan dipecat sebagai pelayan. Gampang sekali yah seorang tuan ‘mempermainkan’ pembantunya.

Pelayan itu pun pergi ke suatu negeri yang baru. Ia menambatkan Untanya di dekat sumur. Lalu duduk menunggu, berharap ada perempuan yang datang ke sumur itu, dan bersedia memberinya minum. Kebayang yah, si pelayan itu hausnya seperti apa, setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh.

Penantiannya berbuah. Seorang wanita cantik datang hendak mengambil air. Lalu pelayan itu meminta tolong untuk memberikannya air untuk diminum. Wanita itu tak kenal sama sekali dengan pelayan itu. Tapi, mungkin karena perempuan itu memang mendapatkan didikan yang baik, ia pun bersedia memberikan air.

Setelah memberikan air, perempuan itu melihat unta-unta si pelayan itu. Lalu menawarkan air untuk unta-unta itu. Ia tak sungkan untuk menimbah, bolak-balik. Tahu sendiri, unta biasanya minumnya banyak. Sekali lagi, ia tak kenal si pelayan itu.

Pelayan itu, karena tertawan kebaikan perempuan itu sambil mengingat syarat yang tuannya ucapkan, lalu berterima kasih dan menanyakan siapa wanita itu. Paras cantik jelita itu bernama Ribka. Setelah berkenalan, si pelayan itu nekat meminta bertemu dengan orang tua Ribka.

Apa jawab Ribka? Lagi-lagi saya terkejut. Katanya, “Lagi kata gadis itu: “Baik jerami, baik makanan unta banyak pada kami, tempat bermalampun ada.” Ini gila! Baru kenal sudah berani kasih tempat nginap!

Sudah baru kenal, minta air! Unta-untanya dikasih minum. Eh! Malah dikasih tempat menginap pula! Sulit bagi saya membayangkan terjadi demikian di jaman sekarang. Bertanya alamat saja kadang-kadang kita dicuekin. Apalagi bertanya nama bahkan meminta nomer HP!

Setelah itu mereka pun ke rumah Ribka. Si pelayan kemudian bercerita tujuannya. Rupanya keluarga Ribka masih memiliki hubungan dengan Abraham. Lewat Nahor. Jadi tahu latar belakang keluarga masing-masing.

Orang tuanya meminta Ribka untuk tinggal barang beberapa hari lagi. Tak siap secepat itu kalau harus berpisah rumah dengan Ribka. Tapi apa jawab Ribka? Katanya, “Mau!” Ia mau pergi bersama pelayan itu menjumpai Ishak.

Lalu mereka pergi setelah pelayan itu memberikan titipan yang dia bawa kepada keluarga Ribka.

Saya bertanya pada diri saya sendiri setelah membacanya. “Mungkin si pelayan itu dalam menjalankan tugasnya pakai kacamata kuda dan meyakini akan menjumpai perempuan yang disyaratkan tuannya itu. Tanpa banyak pertanyaan langsung melakukan.”

Lagi, saya bertanya, “Laki-laki itu, mana yang lebih besar yah. Mengutamakan cantiknya atau karakternya perempuan? Kalau 50:50 mungkin nggak yah? Ah! Yang jelas, Ribka dipilih karena kebaikannya. Lagi pula, apa artinya kecantikan tanpa kebaikan.”

Ribka, sebuah perjalanan iman keluarga Abraham demi melanjutkan keturunan melalui Ishak. Sementara, Ribka, dalam penantiannya, ia terus melakukan tugasnya sehari-hari dengan ketekunan dan mengembangkan karakter-karakter yang baik. Perjumpaan yang di intervensi Tuhan…. Berakhir sukacita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s