Aku untuk Asa!

aidsSetelah Nada tahu bahwa suaminya meninggal karena AIDS, ia pun memutuskan periksa darah. Ia panik! Ketiga anaknya masih kecil. Dua lelaki, satu perempuan. Begitu hasilnya keluar, Nada dinyatakan positif HIV. Lalu dokter memintanya untuk memeriksakan anaknya.

Mendengar saran dokter itu, ia marah! Lalu berlari menuju rumah ayahnya. Tetapi apa sangka, kakak dan ayahnya menolak setelah tahu ia tertular HIV. Tapi ia harus tetap hidup! Anaknya masih kecil.

Belum usai kesedihannya karena suaminya yang baru meninggal. Ia mesti terpapar sebagai korban pula, dikucilkan dalam keluarga. Ditambah lagi ketakutan kalau-kalau ketiga anaknya positif HIV! Rasanya dunia tak adil! Akhirnya memang, dua anak laki-lakinya negatif. Yang perempuan, namanya Asa, positif!

Setelah memutuskan mengikuti saran dokter untuk menggunakan obat agar dapat bertahan hidup dan membesarkan anaknya, Nada pun mulai bisa pelan-pelan menerima kenyataan, bahwa kenapa ia dan anaknya harus menerima ‘musibah’ ini. Katanya pada Asa saat mereka bercakap-cakap di tangga belakang rumahnya, “Yah, karena kita pribadi yang MAMPU menghadapinya.”

Asa tumbuh besar. Lucunya, ia dipecat dari perusahaannya begitu pihak manajemen tahu bahwa dia positif HIV. Padahal, ia sangat berprestasi. Yah! Itulah ketidakadilan! Orang-orang takut tertular HIV. Padahal tak segampang itu. HIV tak bisa menular hanya dengan sentuhan, hembusan nafas, keringat, bahkan ‘cipokan’ sekalipun.

Oh iya, saya punya lebih dari satu teman yang positif HIV. Salah satu dari mereka sudah meninggal. Ajaibnya, istri dan anaknya tak tertular HIV. Dan mereka sekarang hidup sehat-sehat saja.

Saya sedikit ‘jijik’ sewaktu menyaksikan adegan kakaknya Nada yang membuang tisu bekas keringat Nada karena positif HIV. Tak sebegitu hinanya!

Akhirnya, Asa bertemu seorang laki-laki yang “tidak sakit” dan memutuskan menjalin asmara untuk selama-lamanya, dan terus! Kata mereka, “… pada waktu suka maupun duka, pada waktu sehat maupun sakit….”

Saya jadi ingat seorang teman saya yang ODHA. Pernah suatu kali ia mengirimkan pesan pada saya, “Sar, ada temenmu yang cewe ODHA nggak? Aku butuh teman yang bisa terima aku, Sar…” Membacanya saja air mata saya menetes. Apalagi ia yang menjalaninya.

Saya, istilah “orang-orang sehat”, sedikit lebih beruntung tak tertular HIV. Dan saya bersyukur punya sahabat seperti mereka. Dari mereka saya bisa mengerti, kenapa kita harus hidup. Lebih lagi, bagaimana menghargai sekaligus menerima.

Sudahlah. Saya tak bisa meneruskan tulisan ini. Semoga teman-teman yang ODHA tetap kuat, menjalani hidup dengan semangat. Karena kalian berharga! Semoga pula tidak ada lagi diskriminasi atau penolakan yang melukai hati para ODHA hanya karena ketidakmengertian akan apa itu HIV.

Aku jalani hidup hanya untuk sekali saja

Cintaku kan berlabuh

Pada mentari dan langit biru 

Seluas itu cintaku… – Nada untuk Asa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s