Kenapa Kalau Aku China

Aku terbakar amarah waktu membaca pesannya, “Yaaa… Kalau aku mana dikasih jalan-jalan kayak abang gitu. Kan aku gini (baca: Tionghoa).” Setelah aku bercerita perjalanan ala ekonomiku ke Dieng. Kata-katanya itu seperti sambaran petir. Aku disadarkan kilat. Diskriminasi itu ternyata masih ada dan mengakibatkan luka yang sangat dalam! Aku marah! Sayang, tak bisa aku memaki disini. Akan kucoba membalutnya sebaik mungkin.

Diskriminasi Sesuku
Empat tahun yang lalu, ayah saya mengikuti tes kenaikan jabatan. Hasilnya, ayah saya posisi dua terbaik. Tapi apa lacur, karena tak ‘mampir’ ke rumah bosnya yang Batak itu, ia tak mendapatkan jabatan barunya. Atasannya lebih memilih orang Batak lainnya yang ‘berkunjung’ ke rumahnya. Padahal tak masuk predikat tujuh terbaik.

Ayah saya bilang, “Iya, lebih baik saya tidak naik jabatan karena sama-sama Batak dan harus ke rumahnya.”

Dendam Tak Sembuhkan Luka
Saya sekolah di SMP negeri. Teman-teman saya sering mengejek, “Woy! Batak!” Terjadi berulang. Tidak bisa melawan karena minoritas. Hanya bisa mendendam dalam hati, “Tunggu!”

Setelah lulus, saya masuk ke SMA negeri. Disana, saya melampiaskan dendam lama saya terhadap mereka yang pernah merendahkan saya. Hampir setiap hari saya memalak teman-teman di sekolah. Termasuk memajak supir-supir angkot di terminal. Padahal, saya tak kekurangan uang jajan. Saya tidak takut, karena saya dekat dengan preman-preman di terminal.

Ketika kita pernah ‘ditindas’ karena dianggap berbeda, hanya ada dua pilihan pendek. Membiarkan terus ketakutan atau balas dendam pada mereka yang melecehkan. Waktu itu, saya membiarkan diri saya terus terluka dengan membalaskan kepahitan yang lama saya tahan dalam hati.

tanpa diskriminasi

Sumber foto: azzuralhi.wordpress.com

Pilihan Lain: Berdamai Dengan Diri Sendiri
Ketika orang Yahudi ‘mengucilkan’ orang Samaria, Yesus justru ngobrol dengan perempuan Samaria. Ia berani berbuat begitu karena Ia mampu berdamai dengan diriNya sendiri.

Dalam Alkitab tertulis, “Bukankah Dia itu anak tukang kayu?” Yesus sendiri jelas mengalami diskriminasi. Tapi, bagiNya, meneruskan amarah tak merubah apa pun. Ia memilih menenangkan hati dan pikiranNya lalu memberikan cintaNya yang tak terbatas itu kepada mereka yang dibedakan.

Sejalur dengan Yesus, Martin Luther King, Jr sampai kehilangan nyawanya demi menghentikan aturan dan praktek diskriminatif terhadap ras kulit hitam.

Katanya, “Dari setiap lereng gunung, biarlah kebebasan berdering. Ketika kita membiarkan kebebasan berdering, ketika kita membiarkannya berdering dari setiap desa dan setiap dusun, dari setiap negara bagian dan setiap kota, kita akan mampu mempercepat hari itu ketika seluruh anak-anak Allah, orang kulit hitam dan orang kulit putih, orang Yahudi dan orang bukan Yahudi, Protestan dan Katolik, akan mampu bergandeng tangan dan menyanyikan kata-kata lagu rohani kuno orang Negro, “Akhirnya bebas! Akhirnya bebas! Terima kasih Allah Mahakuasa, kami akhirnya bebas!””

Ahok. Meski tiga minoritas; Kristen, Tionghoa, dan jujur. Tak ciut nyalinya berhadapan dengan berbagai kritik, yang lebih condong karena matanya yang ‘sipit’ itu. Lebih hebatnya, pria kelahiran Belitung Timur itu malahan mengasihi mereka yang membencinya dengan sepenuh hati.

Gus Dur, kyai asli NU. Darinya kita merasakan kebaikan Islam. Ia memilih jalan serong demi menyadarkan bahwa kita semua ciptaan Tuhan yang berharga. Kita setara!

Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit Dijunjung
Sahabat kental saya asal Jawa. Setiap bertemu, kami ‘berdialek’ Jawa. Saya belajar Bahasa Jawa karena menghormatinya sebagai seorang bersuku Jawa. Ia pun jadi lebih mudah mengenali karakter saya sebagai keturunan Batak.

Di lain kesempatan, saya belajar kapan harus menggunakan bahasa daerah saya. Bayangkan kalau saya berbahasa Batak di depan teman-teman yang Jawa atau Tionghoa. Mungkin mereka akan berkata, “Si Basar lagi berbahasa roh nih.” Atau, “Si Basar lagi ngomongin kita nih!”

Setiap suku/etnis punya kebanggaan masing-masing. Sayangnya, lebih banyak dari kita yang keliru bahkan berlebihan menempatkan keistimewaan suku kita sendiri. Kita lebih sering merendahkan kualitas suku lain. Lewat tingkah laku kita. Secara sadar juga tanpa sadar. Rasa-rasanya, kita bisa semakin rendah hati dan mulai menghargai keberagaman secara lebih konkret lagi. Kita punya kemampuan itu.

Stereotipe
Dengan sangat yakin saya harus katakan, diskriminasi itu tak selalu dialami oleh setiap orang. Bisa saja, hanya karena mendengar dari saudaranya maka ia pun meyakininya sebagai kebenaran. Sangat kacau ketika kita merasa seolah tertindas, padahal tak mengalaminya. Kita mesti memilih untuk berhenti dihantui ketakutan!

Beberapa bulan setelah obrolan Dieng, statusnya, “Biar China tapi lebih Indonesia!” :)

“Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” – Matius 22:39

*Stereotipe dalam aspek lain memiliki peran positif. Sebagai peringatan untuk hati-hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s