Kusamosir Kau ke Toba

bulan di atas kuburanUsai menonton, aku meminta maaf, “Semoga aku tidak salah merantau ini. Aku sedang dekat dengan keserakahan yang tak terukur. Sudah tak seperti dulu lagi! Aku harus merajut kembali hati sekaligus sikapku. Ah! Daripada aku mundur, lebih baik aku menjaga diri”. Mending ‘kaya’ karakter ketimbang kaya materi! Cukup sudah omong kosong ini! Aku benci kata-kata lembut bersayap dibalik ambisius tak berbatas!

Aku terpaksa! Dengan sukacita bercampur rindu menuliskan ini. Aku sedang berusaha menyemangati dan meluruskan apa yang salah, yang pernah aku lakukan di masa kini.

Terima kasih untuk kisah yang mengingatkan sekaligus membangkitkanku, sekarang aku ‘panas’! Ini yang mestinya menjadi nilai utama hidup suku Batak. Kepedulian, ketegaran hati, dan kesetiakawanan. Lebih sukanya, aku diingatkan kembali tentang ketulusan yang ‘polos’!

Tak sabar, sejak teaser film Bulan di Atas Kuburan dirilis lewat youtube, aku langsung naksir! Tak sabar! Buru-buru kusampaikan ajakanku menonton film itu. Gayung bersambut!

Sedikit jujur, aku kecewa karena ekspektasiku yang terlalu tinggi tentang latar film. Aku kira akan lebih banyak tayangan tentang keindahan Pulau Samosir dan Danau Toba. Jauh dari itu!

Meski aku kecewa, kekesalanku dibayar dengan dialek dan pesan moral yang seharusnya menjadikan orang Batak bangga terhadap kesukuannya. Tentang kepedulian! Lebih lagi tentang ketegaran hati, dan terutama pertemanan!

Ada satu lagi. Tentang ‘nyali’ para pria turunan Tapanuli. Kata bos preman itu, “Kamu coba test nyali si Tigor. Dia berani nggak sama perempuan.” Lalu Nissa, wanita penghibur itu, menghampiri, duduk berdekatan dengan Tigor, yang datang ke Jakarta mengadu nasib untuk menjadikan hidupnya lebih baik. Sayangnya, di Samosir ia supir, di Jakarta kerja serabutan! Begitu Nissa duduk disampingnya, ia lalu memegang tangan Nissa dan mengatakan, “Abang taunya adek kerja disini. Makanya abang kesini.”

Tigor, pria Batak polos yang gigih memperjuangkan ungkapan “tahu diri dan terima kasih” terhadap mereka yang berjasa dan dekat dalam hidupnya. Meski akhirnya ia harus mati ditikam teman premannya, yang cemburu karena ia menjadi kesayangan bosnya.

Sahat, teman dekat Tigor, yang sama-sama berangkat ke Jakarta merantau. Menemukan kesuksesannya. Demi meraih mimpinya, ia menikahi Mona, anak orang kaya, lulusan US. Karena keluguannya, ia menerima saja permintaan orang tua dari perempuan yang dia taksir itu untuk mengerjakan proyek kampanye salah satu calon presiden, tanpa sepengetahuan Mona.

Akhirnya, ia pun begitu sibuk mengurusi pekerjaannya itu setelah menikah dengan anak gedongan itu. Tak hanya Tigor yang merasa kecewa atas prilaku Sahat. Mona pun ngambek karena Sahat berubah banyak karakternya. Dari pemimpi menjadi “tukang parkir”. Sampai-sampai, sewaktu pemakaman Sabar dan Tigor, ia tak datang dan tak memberi pertolongan. Lupa diri! Setiap kali Tigor memohon bantuan, ia tak pernah menolong!

Lalu Sahat pulang ke Samosir. Gurunya, menasehati. Menceritakan sejarah bahwa orang Batak dilahirkan di atas “bom waktu”, danau hasil vulkanik. Menandakan, dimana kematian terjadi, disitu kelahiran orang Batak terjadi.

Mendengar perkataan itu, kata Sahat, “Aku memang salah, tetapi ini bukan soal kelahiran orang Batak. Keserakahan, ketidakpedulian, dan kesendirian itulah yang membuat kita, orang-orang Batak khususnya, gagal!” Kira-kira seperti itu kata Sahat, setelah gurunya menyalahkan sebagian besar ulahnya. Usai percakapan itu, tak lama ibu Sahat meninggal.

Terima kasih untuk ‘genggaman’ yang mendamaikan itu. Kusamosir kau ke Toba!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s