Tuhan Jesus Siparmahan, Sai Ihutononhu Ho!

1“Jesus gok di Ho rohahu, sai ihutononhu Ho.” Kunyanyikan setengah suara mulai dari Bandung sampai ke Balige. Tak hentinya aku ‘terharu’ karena Tuhan memberikan kesempatan untuk bertandang ke tanah kelahiranku, berbagi pengalaman menulis dan hidup yang kujalani selama ini.

Kataku pada Pirhot Nababan​, “Kita wajib kasih yang terbaik. Biarkan adik-adik disana nanti ‘eksploitasi’ kita habis-habisan. Sampai tak bersisa!” Iyok, panggilan dekat Pirhot Nababan membalas, “Siap! Gas terus!”

Takjub hatiku, tak deg-degan lagi jantung, namun bergetar! Waktu pertama kali kulihat rancaknya Danau Toba! Kulihat pula pemandangan sawah yang menghijau, diselingi perpaduan zaman sebelum masehi dan Megalitikum (baca: kuburan yang di bagian depannya ada gambar Yesus).

Selain itu, tak lupa, mataku dimanjakan kilauan salib-salib besar letaknya tinggi di kiri-kanan jalan. Meski manja mataku, tapi hatiku marah! “Kenapa mesti salibnya yang berkilau, besar, dan tinggi. Kenapa bukan orangnya yang memancarkan nilai-nilai salib itu. Salib itu mestinya orangnya!” Tapi kupikir lagi, “Ah! Sudahlah. Aku pilih jalan lain, ‘menyalibkan’ orang-orang muda disini.”

“Aku tak boleh lupa, tugasku kesini, yang utama adalah berbagi hidup. Supaya ‘kekuatan’ salib itu betul-betul dirasakan oleh adik-adik pelajar disini. Dan mereka melanjutkannya dalam kehidupan sehari-hari.” Itu tekadku usai sampai di Yayasan Soposurung (Yasop).

Mekar Sinurat, teman dekat yang memfasilitasi segala keperluan kami selama di Yasop. Waktu ia menjemput kami, kulihat wajahnya, senang hatiku! Katanya, “Kalau sevisi pasti ketemu yah, bang!” Kuiyakan dengan menundukkan kepala.

Tiba di Yasop, aku teringat kata-kata bapakku dulu, “Orang-orang yang lulus seleksi di Yasop itu pintar-pintar, semangatnya luar biasa. Jadi ini kebanggaan buat kita sebagai orang Batak. Tempat mencetak pemimpin-pemimpin Indonesia.”

2Tak meleset! Begitu sampai di kelas, aku langsung teriak, “Selamat sore!” Seketika, 60 lebih siswa-siswi di kelas itu menjawab, “Selamat Sooo…. reee!” Sekejab menari hatiku merasakan semangat mereka! Kemudian kulanjutkan pembukaan pelatihan itu, lalu kukenalkan dua teman dekatku yang hebat itu. Efraim Leonardo Sitinjak​ dan Pirhot Nababan sebagai fasilitator.

2a4 jam waktu yang kami punya untuk berbagi dan memompa semangat adik-adik disana bagaimana mengubah kehidupan lewat tulisan.

3Puji Tuhan! Di tengah-tengah pelatihan, Pirhot Nababan berbisik, “Buset! Pusing kepala awak bah! Keren-keren kali tulisan mereka! Masih kelas 1 dan 2 SMA lho!” Aku hanya tertawa, kusimpan kejutan itu dalam hati. Pelatihan mengalir dan usai sekitar pukul 19. Setelah itu kami berfoto di depan Yasop.

4Malamnya, kami makan di tepi Danau Toba, daerah Lumban Silintong. Disitu aku bercakap ringan dengan Mekar Sinurat​:

“Gimana tadi, Mekar?”
“Paten, bang! Menginspirasi!”
“Kalau kita buat rutin misalnya 2 kali setahun gimana?”
“Nah, mantap, bang! Bisa bang!
“Paten! Kira-kira bulan berapa aja yah cocoknya?”
“Bulan 3 dan bulan 9 gimana?
“Siap! Deal!”

Setelah itu kami langsung bersalaman. Usai makan, di kamar penginapan, tak bisa kusembunyikan luapan kegembiraanku, “Tuhan Jesus Siparmahan. Au biru-biru na do! Sai ihutononhu Ho!”

#Tuhan Yesus Gembalaku. Aku ikut kemana saja Tuhan utus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s