Ah! Tak Kusangka, Bapakku Turunan Dukun Sakti

Tak kusangka, bapakku ternyata keturunan seorang dukun besar dari Balige. Nama opung bapakku itu, Opung Sibegu (Nenek Setan). Mendengar namanya saja hatiku bergetar, apalagi sampai tahu kenyataan kalau ayahku adalah cucunya. Pernah aku dapatkan cerita, bahwa Opung Sibegu ini pernah bertanding dengan dukun hebat dari Aceh, terbang menggunakan solu (sampan) di atas Danau Toba, dan menang! Ia punya 7 hulubalang, yang semuanya tak hidup, tengkorak. Tapi semuanya itu tak menjadi noda, begitu aku tahu cerita yang lebih bernilai dari itu semua. Ah! Tak sabar ingin kuselesaikan satu bagian ini.

Bapak-&-Mamak
Akhir minggu kedua bulan Juni lalu, adik saya yang nomor dua menikah. Berkumpulah kami satu keluarga besar. Baik dari keluarga bapak juga ibu, ramai! Saya selalu menunggu dan menyukai moment seperti itu. Karena, biasanya, selalu ada cerita yang baru tentang kehidupan masa kecil ayah dan ibu saya, dari saudara-saudarinya.

Alangkah terkejutnya saya, siang itu di ruang tamu rumah kami, adik bapak saya memberi konfirmasi, bahwa mereka adalah keturunan dari salah satu dukun terkenal di Balige, namanya Opung Sibegu, yang pernah ditantang dukun besar dari Aceh, dan ia memenangkan pertandingan itu.

Pulang membawa kemenangan, setelah bertarung di atas Danau Toba, terbang menggunakan solu (sampan), ia pulang mengadakan syukuran ala zaman itu. Satu desa itu margondang (menortor) selama tujuh hari tujuh malam. Tak lupa Opung Sibegu itu menunjukkan tujuh hulubalangnya yang kesemuanya adalah tengkorak.

Mendengar semua paparan itu, saya terkaget-kaget. “Alamaaak… Bapakku keturunan dukun sakti masa itu.” Cerita ini mengingat saya pada silsisah keturunan Tuhan saya, Yesus Kristus, yang jauh lebih buruk namun menyelamatkan dunia.

Uda, panggilan saya terhadap adik bapak. Ketika mengakhiri ceritanya, ia berkata, “Ah… itu paling 0,9% nya sisanya di darah uda dan bapak…” Seperti mau bilang, “Kan itu zaman dulu, sekarang zaman yang terbuka dan masanya berkontribusi serta berpikir positif terhadap tantangan kehidupan. Kita nggak boleh mengingat saja dan terbawa suasana masa lalu. Tugas kita fokus dan tekun pada apa prioritas kita masa kini. Boleh mengingat sejarah, tapi bukan jadi mundur.”

Yah, ada banyak kejadian masa lalu yang kalau kita ingat menimbulkan kenikmatan tersendiri. Ada pula akibatnya.

Ayah saya, lanjut cerita dari uda. Katanya, “Bapak itu dulu, sepulang marsiadap ari, pulang bawa lappet ke rumah…” Marsiadap ari itu kegiatan gotong-royong mengerjakan sawah warga di desa. Mereka hanya memberikan makan siang dan mengupah semampunya pada yang membantu. Tetapi ayah saya, karena mengingat tanggung jawab sebagai abang dan anak dalam keluarga, ia pulang membawa lappet demi keluarganya. Padahal punya pilihan untuk memakannya sendirian.

Lebih lanjut lagi. Ia menikah muda. Namun berbeda dengan lazimnya teman-teman seusianya yang menikah muda pula pada masa itu. Ia bertanggung jawab. Memikirkan masa depan, melakukan tugas-tugasnya. Seperti, menjadi kacung di pasar Balige, mengangkati belanjaan ibu-ibu, mengantarkannya, dan bekerja sebagai pemecah batu di pinggir Danau Toba.

Semuanya dia lakukan supaya ia dan ibu saya bisa makan juga membantu adiknya melanjutkan pendidikan. Yang saya tahu, masa itu, untuk makan saja setiap keluarga mesti menjatah, karena kemiskinan. Ikan asin makanan harian, mie goreng menjadi santapan yang sangat mewah. Itu pula yang keluarga ayah dan ibu saya alami. Lebih sering menyantap ikan asin ketimbang mie goreng.

Uda saya sering mengerjai ayah saya, dengan pura-pura mengatakan, “Dijou oma dohot bapa, abang (dipanggil mamak sama bapak, abang)…” Seketika, ayah saya yang begitu patuh dan hormat pada orang tuanya itu berkata, “Bah! I do? (0h, iya?).” Ia dengan cepat menghampiri kedua orang tuanya, kalau-kalau membutuhkan bantuan, memindahkan barang, diminta ke sawah atau ladang. Padahal, sebelumnya, ibu dan bapaknya lebih dulu meminta uda saya yang mengerjakan.

Ayah saya pun pernah bercerita, “Bapak waktu remaja, kalau opung nggak kasih apa yang bapak ajukan, yang bapak lakukan pergi ke semak-semak atau pinggir saya, menangis di sana, tanpa mereka tahu. Saya memilih menangis dan pergi jauh supaya saya bisa meluapkan emosi saya, dan tidak menjadi pikiran mereka.”

Jujur, terharu melimpah saya mendengar cerita ini. Begitu selesai bercerita, saya dan udah pulang dari lapo ke rumah. Saya peluk ayah saya, dan bilang, “Terima kasih bapak telah menjadi abang yang baik bagi adik bapak. Aku jadi tahu dan mengerti apa maksud dan siapa bapak sebenarnya…” Di tengah kondisi kemiskinan masa itu, ia tidak memikirkan dirinya semata. Ia lebih dulu mengutamakan apa yang baik untuk keluarganya. Usianya masa itu kira-kira 15-17 tahunan.

Di gedung pesta adik saya kemarin, hadir ribuan orang memberikan ucapan selamat kepada ayah, ibu serta adik saya atas pernikahan yang sudah terjadi. Adik saya yang nomor tiga bilang, “Bang, nggak pernah seramai ini gedung ini kalau ada orang menikah…” Lantas saya dibawa pikiran saya, “Ini bukti kebesaran hati sekaligus kepandaian ayah juga ibu saya bergaul di masyarakat, sampai-sampai dirutnya pun datang! Terpujilah Tuhan!”

Saya sendiri pernah hadir dalam acara pernikahan teman dekat saya, yang sudah di set lux dengan undangan yang banyak, namun yang hadir hanya sedikit. Sikap pergaulan menentukan seberapa banyak yang akan memberikan dukungan pada kita.

Sebelum lupa. Ada satu lagi cerita uda saya. “Bapak itu, hormat sekali sama opungmu. Bapak sudah pernah memberi ke bapak dan mamak kami. Jadi berkat untuk bapak itu memang ada lho. Seperti di Alkitab, yang menghormati orang tuanya diberikan umur panjang. Pasu-pasu (berkatnya) akan mengalir. Seperti sekarang, bapak dapat tanggung jawab baru sebagai pimpinan di kantornya. Itu memang kerja keras dia, karena ia anak yang berbakti.”

Mendengar ceritanya itu, saya menyesal pernah nakal dan melawan. Tapi saya bersyukur, sadar bahwa orang tua itu kasihnya tak perhitungan, tulus! Saya pun semakin bergairah belajar mewujudkan apa yang menjadi harapan ayah dan ibu saya. Tuhan begitu baik, menuntun, mendorong, dan menjadikan ayah serta ibu saya berguna bagi keluarga serta lingkungan sekitar.

Mauliate ale bapa, oma hasian! Pangasi roha na sumurung i ma mangaramoti jala mandongani hita di ari-ari na naeng ro. Horas!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s