I Miss You Like Crazy, Sir!

bang onyeKupandangi indahnya bukit-bukit di Tapanuli sambil sesekali mataku tak mampu menahan godaan untuk memanjakan pandangan pada indahnya Danau Toba. Tertulis dalam di relung hatiku, “Aku bisa kesini sekarang, karena abangku itunya. Abangku yang baik, inspiratif, dan sederhana itu! Mauliate di ho ale Tuhan! Paten kali memang Bang Onye itu!” Itu yang kurasakan sewaktu mendapatkan kesempatan berbagi pengalaman menulis di Yasop Balige.

Tak pernah aku menyangka sebelumnya. Tempatku bermain dan belajar menulis yang dicetuskan Bang Onye dan dua mentorku lainnya itu, telah membuat aku melangkah sejauh ini. Sampai ke tanah kelahiranku. Apa yang pernah aku impikan itu ternyata terjadi. “Kalau nggak jumpa Bang Onye, nggak akan bisa aku ke Balige berbagi dan mengubah hidup anak-anak muda disana.”

Aku tahu, kemarin, 15 Mei, ia berulang tahun. Mestinya, ia akan mengirimkan pesan ajakan makan malam di rumahnya, yang isinya kira-kira begini, “Sar, ke rumah yah. Ada syukuran kecil.”

Tapi tak sempat lama aku berharap begitu. Karena ia sudah pergi menjumpai Tuhannya yang besar dan pengasih itu. Berkat Tuhannya itu, ia diajar-ajari rendah hati sekaligus diberikan panggilan mengembangkan anak-anak muda supaya terbang seperti rajawali setinggi mungkin.

Sebenarnya aku berusaha untuk melupakan ulang tahunnya kemarin. Tapi nyatanya, seseorang yang begitu menaruh bekas dan membekali banyak nilai-nilai hidup dalam diriku itu, takkan mampu dihapus oleh siapapun. Sampai akhirnya aku pun ikut menyusul menjumpai Tuhanku.

Senyum, kecerdasan, dan sikap rendah hatinya, selalu ia tampilkan setiap kali bercakap dan bertemu denganku juga teman-teman muda yang lainnya.

Ia tak sungkan untuk minum kopi di kios rokok pinggiran jalan. Pernah pula kami diskusi ringan di warteg dekat rumahnya. Padahal, posisinya kala itu Vice President PT. Dirgantara. Sepantas apa aku layak diajak bercakap-cakap dengan seorang pejabat BUMN?

Ah! Masihol au, bang!

Ia rajawali. Bekerja dalam senyap dan sunyinya jalan yang ia ambil. Tak sedikitpun tergoda tawaran dari luar negeri. Padahal ia sangat pantas untuk hidup mewah. Tapi apa mau dikata, hatinya memang telah tertambat hidup dalam kesederhanaan. Setiap kali melangkah dalam pikiraannya selalu saja, “Bagaimana supaya perusahaan tempatku bekerja bisa berkembang.”

Baginya, bekerja demi Tuhan dan Merah Putih itu kegairahan berlipat.

Kalau aku berandai-andai sesuai perhitungan yang terukur. Kalau masih hidup abang, sekarang mungkin sudah jadi menteri. Tapi tak apa. Tuhan memang punya rencana yang jauh lebih indah dari apa yang kita pikirkan. Mendidik generasi muda. Itu yang abang titipkan pada kami.

Semoga kita sampai yah, bang! Mengantarkan mereka ke pintu kesempatan menjadi bagian dari penentu kebijakan publik di negara ini.

Bang… Kau kebanggaan kami! Kau intelektual yang nyata! Kau pengabdi gereja yang teguh! Kau… ah! Kau, bang! Kau Batak sejati! Seperti katamu, “Maenkan!” untuk setiap hal yang membangun.

Di pojok tempat kerjaku ini, aku tak mau larut lama. Karena aku tahu, PDCA (Plan Do Check Action), pesanmu itu lho. smile emoticon

Sebentar lagi, dari surga sana abang akan melihat rajawali-rajawali muda yang terbang tinggi menebar kebaikan-kebaikan Tuhan.

I miss you like crazy, sir!
#Kornel M. Sihombing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s