Kisah Veteran Kala Mendaki Burangrang

11770517_10204641229172518_2141200323_o“Tulang, sini bagi bebannya samaku. Tasku masih kosong kok,” kata Billy pada tulangnya.

Siang itu aku terima pesan, “Sar, naik ke Burangrang yuk! Billy pengen belajar naik gunung.” Tak pikir lama, “Ayooo, mas!” Balasku.

Singkatnya, 20 Juli siang, sekitar jam 11, kami bertiga berangkat menuju kaki gunung Burangrang. Sama sekali aku dan temanku, yang biasa kupanggil Mas Rudy itu tak pernah kesana sebelumnya. Dalam rute panjang melewati jalur yang terjal dan sedikit menyeramkan itu pun, akhirnya aku dan Billy memanggilnya ‘veteran’.

Kami memanggilnya veteran karena ia memang sejak muda suka sekali hiking, camping, dan naik gunung. Usianya saat ini menginjak 44 tahun. Berbeda 11 tahun denganku.

Sedangkan Billy, usianya 21 tahun. Kebetulan, libur Lebaran tahun 2015 ini bertepatan dengan liburan kuliahnya di Ameria Serikat (AS). Ia anak yang cerdas. Sekolah di AS bukan karena ayahnya seorang pegusaha, melainkan beasiswa.

Sekitar pukul 12.30 kami tiba di kaki salah satu gunung purba di Bandung itu. Kami istirahat sebentar di depan Masjid Aa Gym, sembari menunggu Mas Rudy mengambil persediaan air mentah. Tak lama, ia pun tiba membawa air seukuran kantong kresek.

Inisiatif, tak mau hanya tulangnya yang membawa beban yang berat ke puncak Burangrang, Billy menawar, “Tulang, sini bagi bebannya samaku. Tasku masih kosong kok.” Serasa mendapat angin segar, Yeck, panggilan lain Mas Rudy pun mengiyakan.

11754999_10204641201131817_541872731_oKami pun menyusuri jalan setapak. 15 menit kemudian kami tiba di hutan pinus. Udaranya segar, menyenangkan! Ada pula satu-dua orang yang lewat hendak turun dan naik ke puncak Burangrang. Kemudian kami lanjutkan perjalanan.

“Dimana ada turunan, disitu ada tanjakan,” kataku pada Billy. Setiap kali kami mendapatkan bonus jalan datar dan sedikit turunan, setelah itu tanjakan terjal menunggu. Bahkan tak tanggung-tanggung, panjangnya tanjakan membuat kami lumayan lelah. Tak hanya satu tanjakan, ada sekitar 5 tanjakan panjang malam itu yang berhasil kami lewati, dengan sesekali berhenti di tengah areal yang curam itu.

Setiap kali ada turunan, selalu aku bercanda, “Dimana ada turunan, disitu ada tanjakan,” pada Billy, setiap kali mendengar kata itu ia tertawa.

Ada satu kejadian yang sama setiap kali kami letih. Di tengah-tengah kondisi fisik yang menurun, kami selalu saling menyemangati. Berbagi peran sebagai ‘kompor’ supaya sampai di puncak dalam keadaan selamat.

Kadang Mas Rudy yang berkata, “Ayo!” Lalu berganti Billy yang bilang, “Ayok bang!” Sesekali aku memanasi sang veteran, “Rek! Ayo wis arep gelap iki!” Saling membakar di tengah harapan yang kadang membuat kami kepengen menyerah karena terjalnya Burangrang.

“Beda memang yah, Sar. Usia nggak bisa dibohongin. Liat Billy itu, baru pertama naik gunung padahal, tapi dia kuat dan selalu di depan kita. Darah muda, men! Beda sama kita yang udah tua gini,” kata Mas Rudy padaku.

11725370_10204641215572178_143926981_oBeban yang awalnya kami bawa sudah cukup berat, terasa semakin bertambah berat karena mulai capek. Beberapa kali kami berpas-pasan dengan rombongan lain yang hendak turun pulang. Dalam hati, “Apa aku pulang aja yah?” Ahahaha.

Ada cerita miring mengenai Burangrang. Sebelum naik, aku sempatkan ke pos komando menanyakan jalur. Yang kudapatkan jawabannya, “Tidak boleh lagi naik. Ada banyak yang meninggal. Terakhir itu karena disambar petir, dua orang.” Menjadi tidak seru kalau kami berhenti karena kata-kata yang menakuti itu. Kami tetap lanjut!

Cerita sang petugas itu mulai teringat di kepala saya, sewaktu kami masih mendaki namun hari sudah gelap. Di tengah tenaga yang terkuras, ditambah suasana yang mulai dingin karena kemarau dan banyaknya pepohonan. Beruntung, akhirnya kami sampai di dekat puncak dan mendapati areal camp. Tak terjadi apa-apa dengan kami bertiga malam itu.

Gerak cepat, Mas Rudy membuka peralatan tenda dari tasnya. Billy membantu sekaligus belajar mendirikan tenda. Sementara aku, mengarahkan senter ke hadapan mereka. Setelah itu, kami pun memasak makanan malam, dengan terlebih dahulu membuat kopi. Tidur kami nyenyak malam itu usai berbagi cerita tentang banyak hal. Salah satunya, kisah hidup abang kami Kornel M. Sihombing yang meninggal di Gunung Salak.

Bangun pagi, kami sarapan mie instant campur cornet. Lalu naik ke puncak dan berfoto sebentar disana. Kami melihat pemandangan yang luar biasa. “Bang Billy, pohon pinusnya kecil-kecil, bagus-bagus dan kelihatan semua yah yang dibawa itu. Kayak gitulah yah Tuhan melihat kita dari atas ke bawah. Dia tahu apa yang kita lakukan.” Dia pun mengangguk sambil jepret sana-sini.

11753524_10204641183851385_258909964_oDi puncak itu, ada banyak orang. Kami bertegur sapa sambil bersalaman. Suasananya seperti sudah lama kenal. Padahal bertemu muka pun baru siang itu.

Ada memorial yang meninggal disana. Aku bersyukur tidak jatuh atau terpeleset ke jurang. Memang betul safety first itu prinsip utama naik gunung.  Seperti sore sebelum sampai, kami bertemu remaja-remaja yang naik namun terpaksa pulang malam karena tak membawa tenda. Sebelum turun terlebih dahulu kami berdoa. Memohon penyertaan Tuhan.

Dalam perjalanan pulang, tanjakan yang awalnya terjal, menjadi turunan yang curam. Billy membuat Mas Rudy dan aku behasil menjaga semangat, katanya, “Bang, sampai di depan, kita minum es teh manis dululah yah. Enak kali itu. Sedap!”

Sekitar 3 jam kami berjalan turun. Begitu sampai di pemukiman warga, kami minum teh dingin sambil tertawa-tawa. Mengingat, ternyata kami berhasil sampai ke puncak dan menikmati indahnya karya Tuhan.

11211875_10204641214492151_2140799663_oBagiku, gunung sekalipun bisa ditaklukan manusia. Tetapi tidak boleh lupa, bahwa Tuhan tak pantas dilawan. Ia menciptakan kita indah seperti pemandangan-pemandangan gunung yang sering menawan mata dan hati kita, bahkan jauh lebih indah dari semua itu kita diciptakan Tuhan.

One thought on “Kisah Veteran Kala Mendaki Burangrang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s