Cintai Aku Apa Adanya

“Sometimes it’s better to be alone. Nobody can hurt you.” – Kristine

Saat menulis catatan pendek ini, saya sedang kesalnya setengah mati! Sebabnya, saya habis ‘dikeselin’ oleh seseorang yang sangat dekat dengan kehidupan saya. Ia sedikit protes atas satu tindakan saya, yang menurutnya itu bukan hal yang wajar untuk dilakukan. Saya marah! Dalam hati saya, “Bagaimana mungkin saya bisa bertahan kalau dia tak bisa menerima saya apa adanya?”

Saya juga Anda, mungkin pernah berangan-angan, “Andai ada seseorang yang bisa menerima diriku apa adanya. Seperti Tuhan mengasihiku…” Yah! Tuhan tanpa segan menerabas segala batas-batas kekurangan kita, Ia sigap mencintai dan menyertai kita. Meskipun kenyataannya, kita lebih sering lari menjauh. Dan kita selalu gagal, tak pernah berhasil membuatNya menyerah.

bb

Sumber foto: dedhotindra.blogspot.com

Saya punya abang mentor, Kornel M. Sihombing. Seseorang yang pernah hidup dan mampu menerima saya apa adanya lebih dari orang lain yang dekat dengan kehidupan saya.

Suatu kali, usai kelas Leadership Training, tahun 2006 lalu. Sore itu, setelah saya menerima sertifikat, saya mencampakkan sertifikat itu ke tempat sampah, persis di hadapan Bang Onye, panggilan akrabnya. Saya membuangnya sambil berkeluh, “Percuma dikasih sertifikat juga, kalau gereja nggak bisa terima orang berdosa, buat apa!”

Waktu itu, Bang Onye, salah satu fasilitator pelatihan itu. Saya pikir ia akan marah besar pada saya!

Setelah sertifikat itu jatuh ke tong sampah, Bang Onye mengambilnya lalu menatap saya sambil senyum sembari menghampiri saya, katanya, “Sar, kita ngopi di The Cellar yuk…” Singkatnya, kami pun ke cafe itu bersama dua teman dekat saya. Lama kami bertukar cerita hingga akhirnya saya perlahan mengerti sekaligus merasakan perkataannya, “Namun saya menerima Tommy apa adanya…” Terhadap saudara PA saya yang sebelumnya.

Sejak kejadian itu, saya mulai bisa meyakini bahwa saya manusia berharga yang diciptakan Tuhan! Saya tidak sedang dibuang ke dunia ini. Karena ada pribadi yang menerima saya. Kemudian juga, setelah itu saya menemukan siapa diri saya; apa kekuatan dan kelemahan saya. Bagaimana saya bisa bertindak, kecil-kecil, untuk meneruskan, bahwa siapapun berharga di mata Tuhan.

Saya tidak bisa membayangkan kalau Tuhan tak utus Bang Onye dalam kehidupan saya. Begitu juga dengan abang, kakak, serta adik-adik yang belakangan semakin banyak saya kenal. Setelah kematian menjemput Bang Onye.

Mencintai apa adanya. Saya pernah katakan pada adik saya yang perempuan, “Eh, kalau ada cowok yang bilang, “Aku mencintaimu apa adanya. Itu bohong!” Setelah itu ia bertanya, “Kenapa, bang? Kan bagus. Masa nipu sih?”

Mencintai apa adanya. Untuk mencintai seseorang apa adanya, tentu membutuhkan proses. Karena, “Hari ini mungkin dia bisa terima kamu punya kebiasaan ngupil di depannya. Kalau besoknya kamu kentut di samping dia, apa dia bisa terima?” Mengucapkan memang tak semudah melakukannya.

Saya tidak pernah tahu kenapa Yesus tiba-tiba menjadi begitu dekat, pasca kejadian membela pelacur yang hendak dilempari batu oleh orang-orang Farisi itu. Yesus memilih semakin dekat dengan perempuan itu. Saya sempat bertanya, “Jangan-jangan Yesus udah kenal duluan sebelumnya yah?”

Ah! Tapi sudahlah. Tak perlu saya memikirkan pertanyaan itu. Karena, sekali lagi, kenyataannya, Yesus menerima pelacur itu apa adanya, hanya karena satu alasan, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.Matius 22:39

Suatu sore, saya hendak pergi ke suatu tempat bersama kekasih saya. Di jalan, saya tidak mengancingkan jaket saya, lalu si nona dengan sigap mengancingkannya, lalu berkata, “Katanya mencintai. Tapi gimana mau mencintai orang lain kalau diri sendiri aja nggak dicintai lebih dulu.”

Mengasihi diri sendiri. Saya pikir, saya mulai takut untuk mencintai seseorang ketika saya tak bersedia menyayangi serta menerima diri saya sendiri apa adanya lebih dulu. Baik itu kekurangan juga kelebihan saya.

“Mencintai pasti membuat diri rapuh. Cinta pada apa pun akan membuat hatimu mendapat perlakuan yang salah dan mungkin dapat hancur. Jika ingin menjaga keutuhan hati, janganlah pernah memberikannya kepada apa pun. Tidak juga kepada binatang peliharaan. Bungkuslah hatimu rapi-rapi dengan hobi dan sedikit kemewahan, hindari semua bentuk hubungan, simpanlah dengan aman di dalam relung keegoisanmu. Tetapi ketika berada disana – aman, gelap, tidak bergerak, tanpa udara, hatimu akan berubah. Ia tidak lagi akan pecah berkeping. Ia akan menjadi tahan banting, tidak terselami dan tak terseberangi.” – C.S. Lewis

Cinta, mau tak mau, telah membuat kita rapuh. Kita akan menjadi sangat sensitif bahkan mendadak egois pada pasangan kita atau orang lain. Kita akan seperti kehilangan daya dan nalar yang sehat ketika menjalaninya. Tetapi, tanpa cinta, hati kita seperti kedap udara. Yesus, memilih melawan segala kerapuhan cinta itu di kayu salib sekalipun! Demi saya, Anda, dan dunia ini. Kita mau ikut?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s