Morse Dibalik Tawa

laughter-449781_640

Saya baru sadar. Tertawa ternyata menjadi tanda sederhana bahwa kita suka atas apa yang sedang atau baru saja kita lakukan.

Jadi, nggak usah capek-capek buat cari tahu passion, talenta, atau apapunlah sebutannya. Kalau bahagia melakukannya, tekuni dan kembangkan saja itu. Tidak perlu embel-embel; aku mampu nggak atau ini kehendak Tuhan bukan yah buatku.

Sesimpel itu kenyataan untuk mengenali apa yang jadi keistimewaan kita.

Lama terombang-ambing tak bagus, karena waktu terus berjalan – meskipun itu campur tangan sebagian dari orang yang dekat dengan kehidupan kita bahkan orang-orang yang mengklaim dirinya punya kemampuan mendengarkan suara Tuhan sekalipun.

Memahami apa kehendak Tuhan buat saya, dari apa yang saya harapkan terjadi pada diri saya.

Suatu pagi di hari Minggu, usai ibadah, saya berjumpa dengan seorang kakak yang akan sembahyang pada jam selanjutnya. Ia bertanya dan kami terlibat percakapan singkat saat saya berdiri di depan pagar gereja itu;

“Sar, udah kebaktian?”
“Udah, kak…”
“Sendiri atau sama siapa?”
“Oh, tadi sama seseorang, kak…”
“Rencanamu kapan?”
“Aduh, nggak tahu aku, kak. Terserah Tuhan aja maunya apa…”
“Lho, nggak bisa gitu… Kamu tanya dong sama diri kamu. Kenapa Tuhan kasih kamu ibadah sama dia. Kamu maunya apa?”
“Oh, gitu yah, kak? Bingung aku, kak..”
“Gini aja, singkatnya, apa maumu, itulah kehendak Tuhan samamu!” Lalu ia bergegas menuju ruang ibadah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s