Smoke Gets in Your Eyes

smoking-1418483_640

“You’re flying without wings…” – Westlife

Ketika kau merasa telah kehilangan segalanya sebagai modal masa depanmu. Lebih-lebih dari kehilangan keluargamu, tentu kau hanya memiliki dua pilihan. Tetap diam dengan kemurunganmu sambil berharap belas kasihan dari yang melihatmu atau bisa saja kau mencoba berjalan sendiri, pelan-pelan namun pasti, sampai kau tiba di tujuan yang sejak lama kau ingin pijak.

Sejak memutuskan resign dari kantor, sekitar 3 minggu yang lalu, saya kehilangan berbagai kesempatan emas, anak-anak tangga demi mencapai masa depan saya yang lebih baik. Ya, saya telah menutup sendiri peluang terbaik (saat ini) dari diri saya sendiri.

Saya agak kaget, dengan tidak lagi memiliki penghasilan tetap, tak ada lagi kebebasan financial yang sedikit menenangkan aktivitas, ide bahkan pikiran saya. Ketakutan menguasai kehidupan saya sejak itu! Tidak adalah lagi rasa nyaman yang bisa saya kecap!

Rasanya, kadang-kadang Tuhan itu beserta dalam setiap helaan nafas saya. Dalam keadaan lain, seperti sengaja mendiamkan saya. Mungkin, seperti kata-kata para rohaniawan, “Mengizinkanmu untuk membangunkan kembali kesadaranmu agar bergantung pada Tuhan…”

Selain tidak lagi memiliki penghasilan bulanan, saya juga kehilangan sedikit gairah saya dalam ranah yang lebih pribadi (maaf, tidak bisa saya membagikannya). Bertambahnya beban hidup (perspektif saya saat ini), membuat ujung kaki sampai ujung rambut saya tiarap seketika.

adler-339128_640

Dalam keadaan lain, saya kembali kepada aktivitas yang telah lama tidak saya prioritaskan dalam kehidupan saya, kurang lebih, selama 4 tahun belakangan.

Saya ingat betul, tak ada lagi waktu serta kemauan saya selama tempo itu untuk; mengurusi redaksi, menjadwalkan pertemuan rutin dengan adik-adik mentor, tak lagi mencoba peka terhadap hal-hal yang terjadi pada kehidupan mereka, dan berbagai hal lainnya.

Tentu, berjalannya waktu itu, seiring dengan tak lagi adanya energi yang saya siapkan khusus untuk hal-hal semacam itu, membuat saya terkejut ketika belakangan ini kembali menjumpai mereka. Istilah dunia persilatan, “Turun gunung!” Kalau bahasa orang-orang hebat, “Turun kelas!”

Jelas, saya merasa minder ketika mendengar berbagai cerita perkembangan kehidupan mereka. Mulai dari yang akan lulus kuliah dalam waktu dekat, bekerja, menikah, dan yang sedang merencanakan berbagai hal demi membanggakan keluarga dan Tuhannya.

Di tengah-tengah kondisi perasaan saya yang turun-naik, saya coba menstimulus diri saya. Meyakinkan diri saya dengan berbagai terapi ala Basar Daniel. Dengan mulai lagi membaca buku, melengkapi tulisan-tulisan untuk buku perdana, bergaul serta meminta bermacam masukan dari senior-senior, mencari kemungkinan-kemungkinan project/pekerjaan, sembari mencoba bernegosiasi dengan diri saya; apakah saya masih ingin bekerja kantoran?

Izinkan saya sedikit berbagi tentang apa yang menjadi passion hidup saya. Saya telah menemukan dunia saya; media dan orang-orang muda. Saya mulai gembira menekuni perjalanan-perjalanan jauh menangkap kesempatan pelatihan-pelatihan menulis dan leadership dari berbagai teman, tentu, mereka yang meyakini kalau saya punya kapasitas yang pantas untuk itu.

Sore tadi, saya bertemu dengan salah satu adik saya yang satu tahun belakangan memutuskan mengabdi di dunia pelayanan. Ia membagikan cerita kalau ada tiga tipe manusia di dunia ini versi Alkitab; manusia duniawi, manusia Kristen rohani, dan manusia Kristen bertabiat duniawi.

Ketika ia bertanya saya tipe yang mana, saya mengakui bahwa saya manusia Kristen bertabiat duniawi, yang hanya menerima Yesus sebagai Tuhan demi keselamatan saya, namun tidak melakukan apa-apa dalam hidup saya; mengasihi, menyampaikan kabar dan melakoni perbuatan baik. Saya telah lama tak membiarkan Tuhan bertahta atas keseharian saya.

Kamis (7/7) malam, saya menanyakan pada seseorang untuk kesediaan waktunya terhadap plan pelatihan menulis, leadership, dan entrepreneur di daerah Timur. Dengan sigap iya menyatakan siap ikut. Bahkan ia menganjurkan untuk negosiasi keberangkatan saat libur di bulan September nanti. Saya senang membaca pesan balasannya. Seperti menemukan teman sepermainan di masa kecil.

Saya dibawa mengingat apa yang tertulis dalam buku yang saya baca, “Mungkin kamu tidak dapat menyentuh tangan wanita yang kamu sayangi tetapi kamu mampu menawan hatinya. Mungkin saya terlalu melankolis saat menyelesaikan catatan pendek ini.

Tentu, saya belum merasa pulih, perasaan saya masih bilang, “I’m flying without wings!” Tapi saya belajar untuk mengimani kehidupan di masa depan akan disertai Tuhan. Seperti saat Daud memutuskan berani melawan Goliath, karena ia mengingat bagaimana Tuhan menjagainya saat diserang binatang buas ketika menggembalakan ternak-ternak peliharaan bapaknya. Ia selamat! Ia menang melawan Goliath!

Saya sempat membaca postingan pendek tengah malam dua hari lalu dari seorang teman, tulisnya;

#294 “Kisah sepasang kaki”

“Suatu ketika saya sedang terperosok, menderita hingga tak sanggup menjalani kehidupan selanjutnya, saya seperti menyerah, tak sanggup berjalan sendiri. Lalu saya berdoa, meminta bimbingan dan tuntunanNya supaya saya bisa berjalan bersama-Nya tanpa sendirian.

Saya kemudian berjalan di pasir. Apa sangka, saat melihat ke belakang. Saya seperti berjalan sendirian karena hanya sepasang kaki terjejak di pasir, yang dari awal saya beranjak. Saya kecewa, sungguh kecewa. Dia tidak mengabulkan doa saya dan tak membimbing saya. Mengapa saya dibiarkan berjalan sendirian di saat seperti ini?

Setelah saya melanjutkan perjalanan, saya terasa seperti tidak lelah sama sekali bahkan merasa tidak seperti berjalan padahal sudah cukup jauh. Ini aneh sekali. Perasaan ini seperti tidak nyata, sampai pada akhirnya, saya menemukan jawaban sebenarnya…

Bahwa dari awal, saya tidak berjalan sendiri. Sepasang jejak kaki itu bukan kaki saya! Ternyata, saya DIGENDONG. Dia menggendong saya sejak awal, Dia tidak hanya mengabulkan doa saya tapi melebihkannya.

Saya tidak hanya dibimbing dan dituntun saat berjalan melainkan diantarkan di atas badanNya hingga saya sanggup untuk berjalan mandiri lagi.” – Christian Natalie

Suatu kali teman saya di Belanda bilang, “Elu supel! Bisa nulis. Bisa ngajar. Bisa ngomong depan orang banyak. Bagi gue itu semua spesial. Elu spesial, Sar. Karena elu berani belajar dan nggak merasa puas dengan cepat…”

Saya hanya perlu sedikit keyakinan serta keberanian untuk menetapkan jejak-jejak kecil di arena selanjutnya. Mengingat kembali talenta yang telah diberikanNya sembari memperkecil kelemahan saya. Semoga nggak flying without wings lagi ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s