Let the Lower Ligths be Burning

sunk-boat-977650_640

Lebih baik terjun ke tengah lautan daripada harus mati diterjang badai! Seperti itu kira-kira semangat saya kemarin selama perjalanan ke Jakarta. Di tengah itu tentu ada ketakutan besar dalam hati saya, “Kalau nggak deal ini nanti kekmana yah? Gimanalah nasibku? Apa yang aku harus lakukan lagi?”

Selama perjalanan, sambil mampir di salah satu tempat ngopi, saya bertukar cerita dengan teman saya yang punya niatan mulia pula, yang getol sama orang-orang muda sekaligus meyakini kalau media adalah salah satu alat bantu edukasi yang tepat untuk orang-orang muda dan zaman ini.

Obrolan kami selama kurang lebih 4 jam, dimulai dari tentang kehidupan di lingkungan gereja sampai pada soal filsafat ringan. Saya sedikit kurang suka dengan filsafat, karena salah satu teman saya jadi ‘miring’ karena belajar itu.

Saya nggak mau sinting gara-gara filsafat. Kalau karena adek itu sih bolehlah, hahaha.

Singkatnya, sampailah kami pada bahasan salah satu lagu rohani. Judulnya, Let the lower lights be burning. Refrainnya kira-kira begini;

Let the lower lights be burning!
Send a gleam across the wave!
Some poor *struggling, fainting seaman
You may rescue, you may save

Teman saya itu bilang, “Sar, kita ini harus pelihara suluh di pantai itu. Meskipun itu k’lap kelip, yang penting harus tetap nyala, supaya ada yang lihat dan tahu jalan pulang.”

Saya simpan pesan itu sebagai semangat sebelum dealing salah satu projectkan media itu sorenya. Saya tidak terlalu berupaya optimis selama perjalanan, karena saya fokus mempersiapkan diri terhadap kemungkinan terburuk, “Kalau nanti nggak deal, aku siap nggak yah?”

Yah! Saya persis seperti anak kecil, bak laki-laki yang lebih dulu bermental siap ditolak sebelum menyatakan cinta pada perempuan. Saya tidak mempersiapkan diri, “Kalau diterima, akan kubawa kemana kisah cintaku ini?” Terbiasa bermental rendah ini saya!

Saya tidak tahu kenapa saya bermental pengecut seperti itu. Padahal sebelumnya, saya sudah siapkan konsep, model content, strategy marketing, cara kerja, tim, dan hal-hal terkait aktivitas untuk menjalankan media tersebut. Bodok kali kau, Sar!

Sementara, saya tahu, kalau nanti dikasih kesempatan pegang media ini, akan ada banyak perjumpaan dengan orang-orang muda. Saya akan bertumbuh secara luar biasa, ada banyak kesempatan belajar di ruang yang lebih besar, jadi berkat. Kenapa saya harus ragu!

Sesampainya di TKP, kami makan mie ayam lebih dulu. Tak lama, langsung menuju ruang pertemuan. Tapi, dalam hati kecil saya, ya masih seperti itu. Takut pisan kalau nggak deal!

Begitu rapat dimulai, saya makin deg-degan. Ada 7 orang di ruangan itu. Dipastikan, saya yang paling muda diantara mereka. Sempat ada beberapa pertanyaan tentang; siapa saya, apa yang sudah saya kerjakan selama ini dan sebagainya.

Usai cek dan ricek, akhirnya mereka memutuskan memberikan kepercayaan untuk pegang media online itu kepada saya dan tim.

Sejujurnya, saat mendengar kata-kata ‘bernas’ itu, saya kepengen melompat sambil teriak, “Yeay! Terima kasih Tuhan, yeay!”

images

Karena senangnya bukan main, sepulangnya, begitu sampai di Matraman, saya langsung laporan pada beberapa teman dekat saya, tak lupa kepada abang-abang dan kakak saya, yang selama ini setia mendidik dan menasehati sekaligus menyemangati saya.

Entah kenapa, dalam setiap pesan yang saya sampaikan, meskipun bukan pesan seragam, setelah saya ingat-ingat, ada kata, “Terpujilah Tuhan!”

Ya, kesempatan pegang media tersebut karena Tuhan yang kasih kepercayaan dan seijin Dia ini semua. Saya nggak tahu di depan sana nanti akan berbadai hujan lebat atau seperti apa, tapi saya tahu Dia tidak akan biarkan saya tenggelam.

Kalau pun nanti sudah nggak tahan di perahu, saya akan pilih terjun ke lautan, karena Dia akan berenang menjemput saya.

Sampai terbangun sekitar sejam yang lalu, saya masih ingat lagu itu, “Pelihara suluh pantai walau hanya k’lip kelap. Agar tiada orang hilang di lautan yang gelap!”

Yah! Saya berharap bisa jadi suluh meski k’lip kelap. Karena abang, kakak, dan rekan-rekan saya sudah jadi suluh bagi saya selama ini, yang membuat saya tidak tenggelam, hilang di lautan gelap!

Janji saya dalam hati, “Media ini akan jadi sebagai salah satu wadah pengembangan pemikiran, mental, dan karakter generasi muda dalam berkarya sehingga berkontribusi terhadap kekristenan juga Indonesia!”

Saya jadi membayangkan, ah indah sekali kalau perahu berlayar, suluhnya juga k’lap kelip yah! Terpujilah Tuhan! 🙂

***Laporan selesai, komandan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s