Payung Merah di Tengah Guyuran Hujan

Usai mahgrib, tak tenang, seperti ingin ungkapkan sesuatu yang selalu dipikirkan belakangan ini. Tapi…, tak tahu harus kemana. Sebabnya, pribadi yang biasanya kuajak bicara sudah lebih dulu dipanggil Sang Pencipta. Lagi-lagi, aku merasa seperti sedang sendirian. Kemana aku harus mengadu dan berharap. Seperti butiran debu, tanpa arah, aku tersesat…, tersesak!

Sebentar lagi Natal, lewat tengah malam aku menonton potongan film Tanda Tanya, heroiknya tindakan Alm. Riyanto, Banser NU, Indonesia sejati! Lebih memilih memeluk bom ketimbang hilangnya ratusan nyawa jemaat salah satu gereja di Mojokerto. Rasa berdosaku mencuat, “Kemana aja aku selama ini? Aku udah berbuat apa untuk Indonesia? Kerjaanku kenyataan lebih sering mengeluh!”

**
Saya pernah berpikir hendak berlibur ke negara lain, khususnya Amerika Serikat. Sebabnya Martin Luther King, Jr, kisahnya membela mati-matian kulit hitam tercatat lengkap disana. Suasana jelang Natal begini, hati saya selalu berharap bisa berlibur. Dua tahun belakangan malahan kepengen ke Tiongkok, sebabnya saya penasaran setelah membaca dua novel sejarah. Salah satunya akibat pinjaman seorang teman.

Tapi, kenyataannya, saya belum mampu kesana. Karena acapkali porak-porandanya kemandirian ekonomi pribadi saya, kerna internal. Sedikit gangguan eksternal. Ah, tak usahlah saya kesana. Kalau lebih sering tak bijak ambil aksi serta kalah dalam persaingan ‘sehat’, saya hanya akan mati kelaparan!

Saya masih ingat pesan singkat abang mentor saya yang masih hidup, “Hindari hidup safety. Berjuang demi kemandirian hidup! Satukan hati dan potensi diri… Stop one man one show!”

Minggu ini, setengah harinya saya upayakan menenangkan diri dari semua pikiran negatif yang sering menyerang. Kadang bertubi-tubi, sebabnya, pekerjaan hari-hari ini berburu berita. Hingga semua yang saya baca dan terima harus ditelan perlahan, bahkan sangat rela memuntahkannya kalau tak perlu saya yakini kebenarannya.

Lewat tengah malam, saya menonton liputan khusus salah satu TV Nasional. Saya tak kapok! Padahal, beberapa hari sebelumnya, saya membaca telak, “Ditangkap terduga pelaku bom Bekasi!” Tak perlu saya ceritakan rinci soal yang saya saksikan subuh ini, pesan host-nya singkat saja, “Jangan lengah dan patah arang!”

Biasanya, jam ngapel saya sekitar pukul 19 ke atas. Meski tadi saya tak melakukannya. Saya memilih motoran hujan-hujanan, menjumpai salah satu pribadi, yang tiga tahun terakhir, menjadi teman tukar kisah setelah kepergian abang kebanggaan saya itu.

Setibanya, saya langsung ngomel-ngomel nggak karuan padanya. Ia tenang; mendengar, menganalisa, sesekali mengangguk. Seringkali memang, pria yang pastinya lebih dewasa dari saya itu berhasil menenangkan pikiran dan rasa saya. Sebabnya, mind mapping-nya masuk akal, mampu membangun harapan-harapan kecil dalam diri saya, tiap kali bawelnya saya selesai.

162718_620

Obrolan kami ringan-ringan saja. Selalu begitu. Soal makanan, minuman, sedikit soal peluang pekerjaan juga kehidupan sahabat-sahabat saya yang selalu bergairah melawan kejamnya dunia. Berselip hiruk-pikuk kehidupan sosial bernegara.

Seperti biasa, setelah itu saya pulang. Saya beruntung pula saat bersamanya, makan malam nasi goreng ikan asin pete disudahi kopi hitam hangat di tengah hujan yang kian redah, rintik-rintik genit mengundang kenangan cinta di masa lalu.

Meski saya tahu, masa lalu tak baik hanya jadi kenangan, lebih lagi kalau itu hal-hal yang indah. Sebaiknya diulang, bila perlu ditingkatkan kemesraan yang kala itu pernah terjadi.

Sempat pula pikiran saya melayang, “Aku kan kenal si Putri, assisten pribadi ketua fraksi. Jono, staffnya si bos ini, Natasya, aktivis yang sering kubanggakan itu pula, serta yang lainnya. Ah, kenapa nggak kumpul aja kami bikin yang baik yah. Sekalipun tak berdampak meningkatkan kelesuan ekonomi buah trend belakangan ini. Setidaknya, kan bisa jadi inspirasi….”

Berteman hujan yang masih mengguyur romantisnya Kota Kembang, pikirku melayang, pada pria berpayung merah di tengah hujan itu. Ia punya harapan besar untuk Indonesia. Kerinduannya akan keharmonisan seluruh insan yang menginjakkan kaki di Nusantara ini kian kental, gemas!

Hatinya terus tergerak terhadap mereka yang lapar. Apalagi pada mereka yang belum bekerja serta yang tak mampu sekolah karena tak mampu berbiaya. Maklum saja, kian menukik seperti roket dalam film October Sky.

Ah, saya kejauhankah berpikir. Nasib ratusan juta mahluk bernafas serta kekayaan alam di Ibu Pertiwi ini bergantung pada tegak atau runtuhnya pemerintahan sah kali ini. Semoga tetap tegak berkibar gemulai, cantik! Seperti Merah Putih, yang selalu menjadi penentu gerak awal kaki saya kemana melangkah.

Kenyataan, saya mencintai negara berideologi Pancasila ini. Nafas saya masih diperlukan untuk merajut cinta serta kebaikan. Begitu juga denganmu, yang membaca curahan hati saya tak berkaruan ini. Sudahlah, Indonesia kian manis untuk kita jaga dan cintai.

Pagi ini, singkat saja percakapan saya dengan seorang dokter muda, yang sedang berada di Aceh. Ia disana bertugas demi kemanusiaan. Menolong korban gempa yang juga trauma akibat gempa-gempa susulan serta sebab tsunami yang belum surut. Mengajak kita semua untuk berbuat kebaikan bagi tanah air ini, tanpa pandang agama, suku, ras juga golongan.

Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW teman-teman. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s